Agama dengan Dua Wajah

0
659
Foto Ilustrasi (Internet)

 

Oleh : Allan Wayan


Menurut Dadang Kahmad agama dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta yakni a yang berarti tidak dan gama yang berarti kacau. Berdasarkan akar katanya itu, agama mengandung pengertian tata aturan yang mengatur kehidupan manusia agar tidak kacau (Bernard Raho, 2014:234).

Namun dalam kenyataannya, agama tidak hanya mempersatukan manusia dalam kasih, tetapi agama juga dapat memecah belah kerukunan umat manusia.

Dua ekstrim keagamaan

Dalam perkembangan peradaban manusia, agama cenderung terjebak dalam dua ekstrem berikut yakni, pertama, agama yang terlalu eksklusif dan lebih mementingkan ritus-ritus keagamaannya.

Agama seperti ini cenderung terjebak dalam ritualisme belaka dan sangat tertutup terhadap dimensi sosial kemasyarakatan. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Karl Marx dan para filsuf ateisme lainnya bahwa agama adalah candu bagi masyarakat.

Disebut candu karena agama hanya memberikan seonggok harapan eskatologis yang palsu tanpa ada sumbangsih apa pun untuk memanusiakan manusia. Agama hanya mementingkan kematangan spiritual para anggotanya dan kekhusyukkan dalam ibadat keagamaannya tanpa memberikan sejumput perhatian pada fenomena kemanusiaan.

Kedua, agama yang terlalu aktif dalam dimensi sosial. Agama seperti ini cenderung terjebak dalam aktivisme belaka tanpa adanya “roh”. Ia sering menggunakan ideologi keagamaannya untuk memanufer segala kebijakan dan melegitimasi serta membungkus segala tindakan sosialnya atas nama agama.

Aktivisme juga melahirkan agama yang sangat fundamentalistik. Agama seperti ini menganggap bahwa apa yang rasional dalam ideloginya adalah sesuatu yang benar dalam tindakannya. Fundamentalisme agama mengandaikan bahwa ideologi keagamaannya adalah sumber kebenaran satu-satunya. Bertindak sesuai ideologi keagamaan adalah benar dan baik.

Fundamentalisme agama ini melahirkan agama-agama yang hanya mementingkan rasionalitas instrumental belaka, dalam arti bahwa orang memanfaatkan ideologi keagamaannya untuk bertindak sewenang-wenang. Apa yang rasional dalam ideologinya adalah rasional juga dalam praksisnya.

Agama seperti ini rentan dirasuki oleh berbagai kepentingan politik dan kepentingan-kepentingan individual lainnya. Apalagi agama seperti ini adalah agama mayoritas dalam suatu negara. Tidak jarang, agama-agama seperti ini sering dipakai oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan untuk mengakumulasi kekayaan dan popularitas mereka.

Contoh praksisnya adalah di Indonesia akhir-akhir ini banyak bermunculan oramas-ormas keagamaan bentukan para penguasa untuk memuluskan segala kebusukannya. Tidak jarang mereka menggunakan ideologi agama tertentu dan status mayoritas dari agama tersebut untuk melabrak hukum normatif yang berlaku di negara ini dan dengan seenaknya pula mengatur seluruh kebijakan di negara ini.

Di sini, secara demokratis apa yang dilakukan oleh ormas-ormas tersebut dapat dibenarkan karena dalam sistem pemerintahan demokratis suara mayoritas adalah suara publik yang harus di dengarkan. Namun dalam negara hukum sekular, hukum adalah panglima tertinggi yang netral, yang harus ditakuti oleh semua elemen dalam negara tersebut.

Sebagai panglima tertinggi, hukum mempunyai kekuatan untuk memaksa dan mengikat setiap individu yang bernaung di bawahnya. Sejauh suara mayoritas itu berdampak positif bagi kesejahtraan dan kemaslahatan masyarakat, maka hukum sebagai panglima tertinggi harus mengikuti suara mayoritas tersebut. Sebaliknya jika suara mayoritas itu hanya bergaung bagi kelompok tertentu, maka hukum sebagai panglima tertinggi dapat membatalkan suara mayoritas demi kesejahtraan dan kemaslahatan seluruh masyarakat.
Tanggapan terhadap fenomena bangsa

Agama dibutuhkan karena memberikan keseimbangan hidup, orientasi, bahkan identitas. Namun di samping itu agama mempunyai sisi negatif. Sisi negatif ini bisa disebabkan oleh potensi inheren yang menganggap agamanya sebagai satu-satunya yang benar, bisa juga disebabkan oleh interpretasi para elite pemegang tradisi. Yang terakhir inilah yang sering menimbulkan perbantahan. Kepicikan para elite pemegang tradisi dan otoritas dalam agama tertentu dapat membuat setiap pemeluknya melihat perbedaan sebagai musuh yang harus dibasmi. Mereka sering menggunakan rasionalisasi yang irasional demi membenarkan interpretasi mereka. Akibatnya para pemeluk agama yang sangat awam digiring untuk berani berdiri di garda terdepan untuk membela kepicikan mereka.

Peristiwa akbar yang terjadi belakangan ini mengindikasikan bahwa ada konspirasi antara politik dengan agama. Akibatnya demokrasi kita dijadikan “alat permainan” oleh segelintir elite politik dan pemegang otoritas dalam agama yang cerdik seperti ular. Bisanya sangat beracun sehingga dalam tempo yang sesingkat-singkatnya ia mampu melumpuhkan dan mematikan keadilan di negara tercinta ini.

Prinsip keadilan diabaikan demi memenuhi nafsu para pencari remah-remah politik yang jatuh dari meja “orang baik” agar bisa bertahan hidup dan tetap eksis. Jika kita mencermati lebih dalam peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, kita dapat melihat bahwa tragedi akbar ini terjadi bertepatan dengan pilkada yang dilangsungkan secara serentak di beberapa daerah di Indonesia, terkhususnya di Provinsi DKI Jakarta. Seandainya tidak ada pilkada, maka tidak ada juga isu SARA seperti saat ini.

Pertama-tama, saya mengapresiasi sistem demokrasi yang ada di negara Indonesia ini yang sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat terutama untuk memilih pemimpin yang disukai dan dipercayainya. Namun perlu diketahui juga bahwa term Yunani demos dalam demokrasi tidak saja berarti people (rakyat yang beradab), tapi juga mob yang artinya masa beringas (Otto Gusti dalam Jurnal Ledalero, 2016: 20).

Jadi demokrasi kita tidak hanya berarti pemerintahan dari, oleh dan untuk rakyat, melainkan juga pemerintahan dari, oleh dan untuk masa beringas alias penguasa. Masa beringas ini adalah mereka yang oleh Richard Rorty dikatakan berasal dari jenis yang keliru. Mereka sering menyusup ke dalam agama-agama tertentu untuk mencari simpati massa. Maka tak heran agama-agama yang kurang kokoh sangat rentan distir oleh para penghisap kekuasaan dengan menyebarkan isu-isu murahan. Hal ini menunjukkan bahwa sumber daya manusia kita masih lemah dan abnormal.

Kembali ke agama yang beradab

Hans Küng mengatakan, tidak ada damai di muka bumi ini kalau agama-agama tidak berdamai. Sudah saatnya kita berbenah diri dan berdamai. Kita memang tidak seagama, tetapi kita se-Tuhan.

Agama hanyalah buatan manusia untuk memberikan identitas belaka dan sebagai sarana untuk mencapai nirwana. Sudah saat kebajikan-kebajikan teologis dalam masing-masing agama harus diterjemahkan serasional mungkin, tidak hanya terbatas pada rasionalitas instrumental, tetapi juga harus bisa menyentuh rasionalitas tindakan.

Sudah saatnya pula kita membebaskan agama yang beradab yang selama ini disekap oleh para penghisap kekuasaan. Agama yang beradab adalah agama yang tahu menempatkan diri dalam setiap situasi dan tidak mudah terjebak dalam bahaya aktivisme dan fundamentalisme belaka.

Agama yang beradab adalah agama yang tidak kacau dan tidak mudah diperalat. Agama yang beradab adalah agama yang melihat pluralitas sebagai kawan dan bukan lawan. Agama yang beradab adalah agama yang mampu melihat wajah Allah yang terluka pada diri “yang lain.”

Penulis adalah mahasiswa STFK Ledalero-Flores

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini