Atraksi caci pada perayaan natal dan tahun baru bersama keluarga Manggarai Semarang, Sabtu (14/1)

Floresa.co – Natal dan tahun baru bersama Keluarga Besar Manggarai di kota Semarang, Jawa Tengah, berlangsung meriah, Sabtu malam (14/1) lalu.

Tak sekedar kumpul-kumpul sesama warga diaspora, hajatan ini juga menjadi ajang memamerkan budaya Manggarai di tanah rantau.

Ribuan warga Manggarai di Semarang dan sekitarnya hadir dalam acara ini. Mereka kompak mengenakan busana khas Manggarai seperti kain, topi dan slendang songke.

Bahkan tamu undangan yang bukan orang Manggarai juga mengenakan atribut khas Manggarai tersebut.

Hujan deras dan angin kencang sebelum acara dimulai, tidak mengurangi antusiasme warga Manggarai untuk hadir di aula Gereja FransiskusXaverius Banjardowo, tempat acara berlangsung.

Acara dimulai pkl 17. 30 WIB, diawali dengan tuak kapu (ritual penyambutan tamu) dari ketua panitia, Arnoldus Teli.

Dilanjutkan dengan perayaan ekaristi yang dipimpin Romo Mo’i, seorang pastor asal Maumere. Koor saat perayaan ekaristi ini semuanya dalam bahasa Manggarai.

Dalam kotbahnya, Romo mo’i mengapresiasi warga Manggarai Semarang yang tetap melestarikan budayanya.

“Betapa pentingnya orang Manggarai untuk terus melestarikan budaya Manggarai di manapun berada,”ujar Romo Mo’i.

Usai misa, diisi dengan sejumlah pentas budaya seperti atraksi caci dan sanda yang ditampilkan oleh anak muda Manggarai Semarang. Walaupun durasinya hanya satu jam,caci menjadi magnet utama acara natal dan tahun baru bersama Manggarai Semarang tahun ini.

Petrus Henik, pemuda asal Repi Kabupaten Manggarai Barat yang memimpin pentas caci dan sanda mendapat pujian dari para sesepuh Manggarai dan tamu undangan yang hadir.

Dalam sambutannya mewakili tokoh sesepuh Manggarai Semarang, Gregorius Masdjoyo menyampaikan terima kasih kepada anak muda Manggarai Semarang yang tetap menjaga budaya Manggarai sekaligus mempromosikan tarian caci Manggarai di kota Semarang.

“Apa yang Anda tampilkan malam ini menjadi obat kerinduan bagi kami akan budaya Manggarai,”ujar Gregorius, yang disambut tepuk tangan meriah dari tamu undangan.

Arnoldus Teli, Ketua Panitia mengatakan budaya Manggarai menjadi perekat persatuan bagi warga Manggarai diaspora khusunya di kota Semarang.

“Dengan melestarikan budaya Manggarai berarti kita menjaga persatuan, khususnya warga Manggarai di tanah Semarang,”ujar Teli. (Hilarius Sapeng/Kontributor).