Guru Bertanya, Guru Menjawab

0
1115
Yulita Hety Sujaya (Foto: Dokumen Pribadi)

OLEH: Yulita Hety Sujaya

Kisah seorang guru adalah kisah tentang pengabdian yang bernada kesabaran, demikian ungakapan sahabat saya dalam sebuah statusnya di BBM. Bagi saya ungkapan ini cukup relevan dan amat sesuai dengan apa yang dialami oleh seorang guru saat ini.

Penilaian secara subyektif atas uangkapan di atas tentu saja lahir dari suatu pengalaman yang bernuansa reflektif selama kurang lebih beberapa bulan saya menjabat sebagai seorang guru. Tulisan ini sebenarnya hanya bermaksud untuk melukiskan sekaligus menceritakan satu dari sekian banyak pengalaman yang terjadi saat berada di dalam ruangan kelas bersama dengan para siswa.

Cukup beralasan bagi saya untuk membuat judul di atas sebagai bentuk gambaran yang terjadi ketika saya berjumpa bersama dengan para siswa di dalam ruangan kelas. Status sebagai guru tentu saja memiliki peran yang sangat besar yaitu mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

Seorang guru harus mampu mendidik para siswa baik secara akademik maupun non akademik. Tuntutan kurikulum 2013 yang menekankan pada aspek perilaku melalui konsep pendidikan karakter menjadi sesuatu yang tidak dapat dikesampingkan begitu saja oleh seorang guru.

Dalam realitasnya, pengabdian dari seorang guru ternyata tidak hanya diperuntukan bagi para siswa, melainkan juga terhadap berbagai macam tuntutan administrasi. Hampir setiap minggu selalu disuguhkan dengan berbagai macam lembaran yang menuntut diri harus bekerja lebih ekstra.

Saat ini, di tengah meluasnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, tuntutan untuk menyelesaikan semua administrasi harus berbasis online. Bahkan urusan raport para siswa pun harus diselesaikan secara online dengan sebutan raport online.

Secara kasat mata nampak bahwa pekerjaan berbasis online terkesan mudah. Tetapi dalam praktik sesungguhnya menguras banyak tenaga dan pikiran. Belum lagi ketika bersentuhan dengan persoalan teknis seperti masalah jaringan internet.

Bagi saya, sesungguhnya kisah pengabdian yang berlangsung di dalam ruangan kelas akan memunculkan berbagai macam bentuk ekspresi perasaan. Terkadang harus meneteskan air mata sebagai bentuk respon melihat tingkah dari para siswa yang terlampau nakal. Terkadang juga merasa bangga dan sedikit bahagia ketika ada satu atau dua orang yang sangat aktif.

Tetapi pola interaksi yang terjadi selama ini di dalam ruangan kelas sebenarnya menceritakan tentang proses monolog. Hal ini lebih dikarenakan oleh apa yang ditanyakan guru kepada para siswa seringkali tidak direspon sehingga seorang guru harus menjawab pertanyaannya sendiri.

Sikap pasif di dalam ruangan kelas menjadi suatu trend yang dipertontonkan oleh kebanyakan para siswa saat ini. Ketika seorang guru memberikan atau mengajukan pertanyaan, seringkali suasana di dalam ruangan menjadi hening dan anehnya lagi hampir semua tertunduk dan takut untuk menatap guru.

Berkembangnya perilaku seperti ini dalam pemahaman saya sekurang-kurangnya disebabkan oleh beberapa hal penting: Pertama anggapan yang sudah lama terkontaminasi dalam diri seorang siswa bahwa guru adalah segalanya. Artinya guru di sini tahu segalanya. Hal inilah yang membuat seorang siswa takut untuk memberikan jawaban ketika seorang guru bertanya.

Kedua berkembangnya sikap pasif lebih dikarenakan oleh sikap ketidakingintahuan dalam diri seorang siswa. Ketiga dikarenakan oleh adanya suatu pengalaman traumatik yang dialami oleh para siswa. Misalnya ketika menjawab pertanyaan dan jawabannya salah lalu gurunya memberikan sanksi atau hukuman. Peristiwa-peristiwa seperti inilah yang kemudian membuat para siswa menjadi takut.

Sedikit menyedihkan ketika suasana yang terjadi di dalam kelas tidak bersifat partisipatif. Sesungguhnya pengalaman semacam ini dalam pemahaman saya menjadi suatu refleksi yang membutuhkan waktu panjang, tidak hanya untuk seorang siswa melainkan juga bagi para guru.

Mengakhiri tulisan ini pun, saya hendak menyampaikan beberapa hal penting tentang strategi menciptakan suasana ruangan yang partisipatif. Pertama guru dan siswa dipandang sebagai teman. Anggapan seperti ini tentu saja akan menciptakan pola dialog yang sangat interaktif dan tidak kaku. Tetapi di sini seorang guru juga tetap mempertahankan image.

Kedua pemberian respon terhadap siswa. Memberikan mereka pernyataan sebagai orang yang bodoh dan pintar sesungguhnya akan berdampak secara psikologis. Sebagaimana yang dikatakan oleh Albert Einstein bahwa di dunia ini tidak ada orang yang pintar dan yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang lebih dahulu tahu dan yang kemudian tahu.

 Penulis adalah Guru Sejarah di SMAK Setia Bakti Ruteng

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini