Penjaga Tanah yang Tewas di Mbehal Dibayar Rp 70 Ribu Sehari

1
6538
Mus, salah satu pekerja yang selamat menuturkan, ia dijanjikan mendapatkan bayaran sebesar Rp 70 ribu untuk menjaga proses penggusuran di lokasi yang masih bersengketa itu.

Labuan Bajo, Floresa.co – Don dan Alo, dua warga asal Kusu, Kecamatan Ruteng Kabupaten Manggarai – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas bersimbah darah saat sedang bekerja sebagai penjaga tanah sengketa di Menjerite, Desa Tanjung Boleng, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat (Barat).

Kejadiaan naas itu terjadi pada Senin 17 Januari kemarin. Keduanya bersama tiga rekan lainnya baru bekerja sehari di lokasi itu. Mereka dibayar oleh Robert, warga negara Australia yang mengaku tanah itu miliknya.

Mus, salah satu pekerja yang selamat menuturkan, ia dijanjikan mendapatkan bayaran sebesar Rp 70 ribu untuk menjaga proses penggusuran di lokasi yang masih bersengketa itu.

BACA: Diduga Konflik Tanah, Dua Orang Ini Dibunuh di Mbehal-Manggarai Barat

Mus berasal dari Ngkor, Desa Pong La’o, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai. Mus mengaku diajak oleh Don dan Alo yang berasal dari Kusu, Desa Pong La’o, Kecamatan Ruteng.

“Kemarin (Minggu), saya datang dari Ngkor, diajak Don. Kebetulan dia sudah lama mencari kerja di Labuan Bajo,” cerita Mus kepada wartawan, Senin (17/1).

“Don bilang saya akan diberi harian sebesar Rp 70 ribu rupiah setiap hari selama proses penggusuran berlangsung.”

Mus mengatakan Senin kemarin merupakan hari pertama dia bekerja di lokasi itu. Ia sendiri mengaku tak mengetahui duduk permasalahan tanah itu. Karena itu, ia pun kaget ketiga terjadi peristiwa naas yang meneyebabkan dua rekannya tewas.

Mus berhasil kabur  ke arah pantai saat dua rekannya, Don dan Alo, tewas karena diduga dibunuh sejumlah warga Mbehal, Desa Pota Wangka, Kecamatan Boleng.

“Pas saya toleh, saya melihat Don dan Alo terkapar di jalan. Takut menjadi korban, saya memutuskan lari sebab saya sendiri tidak tahu apa masalahnya,” ujarnya di atas mobil dalam perjalanan menju Labuan Bajo, Senin (16/1).

Mus mengatakan, Don sudah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Demikian juga Alo, sudah menikah  dan tinggal di Lawir, Ruteng.

Pekerja lain yang selamat adalah Remi. Ia adalah pengemudi eksavator yang digunakan untuk menggusur tanah yang diklaim milik Robert, warga Australia.

Remi mengatakan ia tidak melihat persis bagaimana Don dan Alo tewas. Namun, saat sedang mengemudi alat berat itu, sejumlah warga memintanya menghentikan proses penggusuran. Saat itu, dua rekannya sudah tewas.

“Mereka hanya meminta saya segera hentikan penggusuran. Saat dua orang korban dibunuh, saya tidak melihat karena bunyi alat. Saya pun langsung menghentikan pekerjaan sebab saya sudah dengar ada korban yang meninggal,” ceritanya.

BACA:Pengakuan Warga Australia yang Ikut Diamankan Polisi Terkait Pembunuhan di Mbehal

Menurut Remi, selama ini warga Mbehal sudah berulang kali meminta supaya tanah itu tidak boleh digusur karena merupakan tanah milik mereka.

“Mereka klaim itu tanah mereka dan tidak boleh ada yang gusur,” ujar Remi dengan wajah kaku.

Di sisi lain, Robert yang merupakan warga Australia yang sudah lima tahun tinggal di Labuan Bajo mengaku tanah itu adalah miliknya. Tanah itu dibeli atas nama istrinya Fauzia, seorang perempuan Bugis.

“Saya beli dari ibu Farida. Suaminya dia seorang TNI berpangkat kolonel,” ujar Robert kepada Floresa.co.

Robert mengaku tanah yang dibelinya itu sudah memiliki sertifikat serta bukti-bukti penyerahan adat.

“Tidak mungkin saya garap kalau tidak memiliki surat dan dokumen yang lengkap,” tandasnya. (Ferdinand Ambo/PTD/ARJ/Floresa).

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Sedih skali ya, korban buta huruf kayak begini nih.
    Main hakim sendiri dikira solusi dalam msalah.
    Acu daat,, kawe raha taung ngoeng.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini