Jenazah Korban Konflik Tanah di Menjerite Dibawa ke Kusu

0
5346
Jenazah Don dan Alo yang tewas dalam kasus sengekta lahan di Menjerite Desa Tanjung Boleng Kecamatan Boleng Kabupaten Manggarai Barat dibawa ke kampung halamaan mereka di Kusu Kecamatan Ruteng-Mangarai (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Jenazah Don dan Alo yang tewas dalam kasus sengekta lahan di Menjerite Desa Tanjung Boleng Kecamatan Boleng Kabupaten Manggarai Barat dibawa ke kampung halamaan mereka di Kusu Kecamatan Ruteng-Manggarai.

Pantauan Floresa.co, jenazah kedunya dibawa  sekitar pukul 14.00 Wita, Selasa (17/1). Isak tangis keluarga mengiringi keberangkatan jenazah.

Selain itu, keberangkatan jenazah juga mendapat pengawalan ketat dari Brimob dan anggota polisi.

Don dan Alo diduga tewas karena dibunuh sejumlah warga asal Mbehal Desa Pota Wangka-Boleng yang mengklaim sebagai pemilik hak ulayat atas tanah tersebut dan mengaku tidak pernah menjual ke pihak lain.

Tetapi di satu sisi, Robert seorang WNA asal Australia mengklaim telah membeli tanah itu dari seorang bernama Farida. Robert hendak memulai usahanya di tanah itu dan membuka akses jalan dengan melakukan penggusuran.

Don dan Alo bersama tiga rekan lainnya menjadi pekerja yang mengawasi proses penggusuran itu. Mereka baru mulai bekerja pada Senin (16/1) kemarin dengan upah Rp 70 ribu per hari.

BACA: Penjaga Tanah yang Tewas di Mbehal Dibayar Rp 70 Ribu Sehari

Namun, naas saat proses penggusuran itu dilakukan kemarin, Don dan Alo tewas dibunuh. Polisi telah mengamankan puluhan orang yang diduga sebagai pelaku. Robert, WNA Australia juga diamankan polisi.

Basilius Ndoung, kakak kandung dari almarhum Don meminta polisi mengusut tuntas dalang peristiwa ini dan segera diproses secara hukum.

“Saya minta dengan tegas,usut semua dalang-dalang dari kematian adik saya,”ujarnya.

“Adik saya hanya seorang pesuruh. Karena itu, keluarga minta usut semua yang terlibat agar tidak menimbulkan polemik di lain hari,”ujar Ndoung.

BACA : Pengakuan Warga Australia yang Ikut Diamankan Polisi Terkait Pembunuhan di Mbehal

Menurut Ndoung, Don memiliki dua orang anak. Satu orang bekerja di Bali, satu lagi masih SMA di Ruteng. Anak yang masih SMA itu kini masih pingsan mendengar kabar kematian ayahnya.

Sedangkan, Alo memiliki empat orang anak. Anak sulungnya masih duduk di bangku SMA, satu lagi di SMP dan lainnya masih SD.

Benyamin, kakak kandung Alo juga meminta polisi mengusut dalang di balik peristiwa yang merenggut nyawa adiknya itu.

“Saya harap polisi segera tuntaskan proses hukum bagi para pelaku,”ujar Benyamin. (Ferdinand Ambo/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini