Aksi tolak tambang di Ruteng pada Senin (13/10/2014), yang diikuti para pastor dan umat di Keuskupan Ruteng. Aksi pada hari itu dilakukan secara serempak di tiga kabupaten, sebagai upaya menegaskan sikap Gereja menentang tambang.

Jakarta, Floresa.co – Langkah Kamelus Deno – Victor Madur, bupati dan wakil bupati Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kembali membuka pintu bagi perusaan tambang mendapat banyak kecaman, termasuk dari netizen.

Seperti diberitakan sebelumnya, pada Sabtu, 7 Januari 2016, digelar rapat pelaksanaan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkngan (Amdal) PT Masterlog Mining Resource (MMR), salah satu perusahaan tambang yang hendak beroperasi di Kecamatan Reok Barat.

BACA: Rezim Deno-Madur Mulai Buka Pintu untuk Tambang

Di media sosial Facebook, topik terkait kebijakan tambang ini hangat dibicarakan. Netizen umumnya meminta Deno-Madur meninjau lagi kebijakan mereka.

”Kami mnta kpd bpk..tlng jgn bri pluang kepada purusahan untuk beroprasi lgi..kasian dgn masyarakt pak.,´tulis pemilik akun Nurdin Kornelis di Fanpage Floresa.co.

“Satukan suara rakyat untuk menolak,demikian komentar Marten Eda.

Sementara itu Poex Pester menulis, “setidaknya bapak bupati harus bisa melihat dan mengetahui dampak yang terjadi dari tambang itu dan jangan melihat keuntungan sesaat.”

Selain itu, sejumlah akun juga membagi di dinding Facebook mereka berita yang dirilis Floresa.co.

Di dinding Facebook pemilik akun bernama Edel Jenarut yang membagikan berita itu, terdapat  beragam respon.

Akun dengan nama Ronal Tulung misalnya melihat langkah tersebut syarat dengan kepentingan politik.

“Mungkin ini bagian dari konspirasi politik”, tulis Ronal menanggapi kiriman Edel.

Musisi asal Borong, Manggarai Timur (Matim) Gazpar Araja yang juga getol menolak tambang melalui lagu-lagu ciptaannya ikut menyerukan penolakan terhadap kebijakan tersebut.

“Tanah subur tak adda lagi, hutan rimba hilag tak tahu, kerakusan nodai tanahku, Manggaraiku… Tolak!!!”, tulis Gazpar mengutip syair lagu ciptaannya berjudul “Tangisan Alam Flores” dalam album “Safe Our Nature Safe our Life.”

Pemilik akun lain bernama Edhii Marhaen dan Bone Fasius menegaskan bahwa masyarakat Manggarai tidak menggantungkan hidup sepenuhnya pada  tambang.

Pertanian dan peternahak, kata mereka, merupakan pilihan ideal untuk kelangsungan hidup masyarakat.

“Kita lawan, hal ini dasarnya kita masyarakat Manggarai itu bukan hidup dari hasil tambang, tapi kita hidup dari becocok tanam dan beternak. Hanya tinggal dipoles saja kita punya lahan di Manggarai ini, cukup diberdayakan peteni2 kita, bukan ditindas seperti ini’” tulis Edhii.

Sementara itu, Bone menulis dalam Bahasa Mangggarai, “Toe mose le tambang itet Manggarai danong mai e, mose le duat tana taung it hoo danong” yang artinya “sejak dahulu, orang Manggarai tidak hidup dari tambang, (tetapi) karena bertani.

Pemilik akun bernama Yohanes Dedi juga juga ikut berkomentar.

“Yang namanya tambang arealnya bukan sedikit. Kalau di Kaltim, tambang bisa dibuka karena wilayahnya masih luas. Areal tambang masih jauh dari pemukiman penduduk, tulisnya.

“Kalau di Manggarai, jarak antar desa dengan desa/ “beo dengan beo ruis”. Kalau tambang dibuka longsorlah kampung/desa. Lebih baik pikir-pikir dulu sebeum menyesal di kemudian hari. Kami dari kuwus jusa sangat menolak”, lanjut Dedi. (ARJ/Floresa)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here