Ivan Nestorman Semarakkan “Pesta Rakyat” Flores di Jakarta

0
600
Ivan Nestorman, saat menyanyikan lagu berjudul "Mogi" dalam pentasan Musik Kamisan bertajuk "The Sound of Flores" di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (22/12/2106).

Jakarta, Floresa.co – Ivan Nestorman ikut memperkaya khazanah musik di Idonesia dengan lagu berbahasa Manggarai serta musik serapan dari musik etnis di Nusa Tenggara Timur (NTT). Rasa khas “Flores” ia nyanyikan sebagai bagian dari wajah budaya Indonesia.

Seperti dilansir Harian Kompas, Sabtu, (24/12/2016), suasana pesta rakyat terasa di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) Palmerah, Jakarta Selatan, Kamis (22/12/2016) malam. Saat itu sedang digelar program Musik Kamisan dengan tajuk “The Sound of Flores”, menampilkan Ivan Nestorman dan kawan-kawan.

Pria kelahiran Ruteng, Manggarai, NTT itu bernyanyi dalam bahasa Manggarai. Ia mengajak kawan-kawannya, drummer Gilang Ramadhan, gitaris Donny Suhendra, basis Adi Darmawan dan seniman suling Saat Syah.

Pada pengujung acara, puluhan orang, baik tua, muda, mapun anak-anak, menari Ja’i tarian pergaulan dari kabupaten Ngada-Flores, kemudian bersambung dengan tari Dolo-dolo dari Flores Timur, NTT. Di antara yang asyik menari itu, tampak Shahnaz Haque dan suaminya, Gilang Ramahdan. Mereka tampak begitu menikmati tarian seiring lagi “Mogi” dan “Lui” yang dibawakan Ivan dan kawan-kawan.

Suasana “Flores” terasa lewat musik, tari dan kostum yang dikenakan hadirin. Ada yang mengenakan sarung, kain dan selendang khas NTT, bahkan ada yang mengenakan topi ti’ilangga yang terbuat dari pohon lontar.

Bahasa Manggarai yang digunakan Ivan dalam lirik lagunya manjadikan suasana Flores makin terasa.

Bahasa Manggarai

Sudah 25 tahun ini Ivan setia dengan pilihan menggunakan bahasa Manggarai sebagai lirik lagunya. Dia punya misi untuk merawat bahasa ibu sebagai bagian dari kekayaan budaya di Indonesia. Dengan menggunakan bahasa Maggarai ia berharap orang mengenal kultur Flores sebagai bagian dari Indonesia.

Bahasa Manggarai “hanya” digunakan di tiga kabupten di NTT, yaitu Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Jumlah penduduk di tiga kabupaten tersebut kurang dari satu juta jiwa. Relatif sedikit jika jumlah pengguna bahasa dijadikan sebagai target pasar untuk musik Ivan. Orang Maumere yang berada di satu pulau Flores pun tidak memahami bahasa Manggarai.

Namun, bagi Ivan, musik tidak hanya dinikmati dari aspek makna verbal, atau arti harafiah dari lirik-lirik lagu. Nyatanya dalam pergelaran Maumere Jazz Fiesta Flores di maumere, September lalu, orang-orang Maumere berdansa-dansi menikmati lagu Ivan.

Nyatanya pula, Ivan bisa bermain di banyak kota di negeri ini, bahkan juga sampai ke London dan New York dengan lagu-lagu berbahasa Manggarai. Begitu juga di Bentara Budaya Jakarta, penonton dari beragam latar belakang bisa menari-nari dengaan gembiranya.

“Bunyi bahasa Flores atau manggarai itu enak untuk pelafalan saya. Sound imager-nya (citra dengaran) enak. Bahasa Manggarai juga terdengan perkusif,” kata Ivan yang mengaku banyak terpegaruh gaya penyanyi Bob Marley, Djavan dari Brasil, dan Lokua Kansa dari Mozambik.

Rupanya, bahasa Manggarai dalam suara Ivan berkenan di telinga para musisi. Di telinga drummer Gilang Ramadhan, bahasa Manggarai terdengar ritmis dan musikal. Bersama Gilang, Ivan membuat albun Nera (2005).

Dalam Nera, Ivan berperan sebagai penulis lagu serta menyanyi dalam bahasa Manggarai. Ivan mengolah elemen kultur Flores lewat cara bernanyi. Ia memasukkan unsur yodel ala Flores, gaya nyanyi dari suara natural yang diselingi falsetto.

Sebelumnya, pada 1996 Erwin Gutawa melibatkan Ivan dalam album Chrisye Akustik dalam lagu “Jambrud Khatululistiwa”. Pada lagu tersebut, Ivan memasukkan cual, semacam turunan vokal tradisi Flores dalam lagu. Lirik Manggarai dan vokal Ivan juga digunakan dalam album Lukisan (1996) dari grub jazz Simak Dialog. Ivan juga muncul di album Franky Sahilatuna, Perahu Retak (1995), dalam lagu “Ewada”.

“Saya bersyukur banyak teman yang melihat bakat saya dan mengajak saya dalam proyek etnis mereka. Teman-teman saya seperti Dwiki Dharmawan Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, Adi Dharmawan banyak memberi ilmu kepada saya.”

Neotradisi

Lagu dalam bahasa Manggarai itu dikemas Ivan dengan musik yang ia sebut sebagai neotradisi. Ia menjadikan musik etnis sebagai inspirasi dan materi untuk bereksplorasi. Dalam hal ini, Ivan menjadikan musik di ranah kultural NTT sebagai titik pijakan.

“yang saya lakukan adalah memberi tafsiran baru, ekspresi baru terhadap motif-motif musik lokal,” kata Ivan.

Dengan cara ini, Ivan ingin menempatkan elemen tradisi dalam konteks musik global hari ini. Di Bentara Budaya Jakarta, misalnya, kehadiran Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, dan Adi Darmawan menjadikan elemen Flores itu hadir dengan bahasa musik yang akrab di telinga publik hari ini.

Dari aspek komersial, lewat jurus neotradisi ini Ivan berharap mendapat akses pemutaran di media masa seperti radio dan televisi, alias “ramah radio” menurut Ivan.

“Memang bisa dibilang idealis di tengah kondisi musik industri yang ada sat ini. Tetapi, dengan pendekatan kekinian, musik neotradisi bisa disukai. Lagu “Mogi” merupakan ekspresi yang berhasil buat saya,” kata Ivan memberikan contoh.

Ivan mengaku, secara ekonomi, jika hanya mengandalkan bermain musik etnis, itu cukup berat untuk menopang hidup berkeluarga. Tetapi seorang pemusik, kata Ivan idealnya dilengkapi kemampuan lain. Ivan misalnya juga membuat aransemen lagu, membuat iklan , atau tampi di pergelaran-pergelaran musik.

“Tuhan Maha Mencukpi, selama talenta dipakai dengan baik, Tuhan jaga hidup kita,” katanya mantap.

Dengan bakatnya itu, Ivan tidak sekadar menghidupi diri, tapi juga mengingatkan teling orang akan akar budaya bangsanya lewat musik.

“Flores, Nusa Tenggara Timur, itu anak kandung Indonesi. Setiap bentuk ekspresinya mempertegas eksistensi keindonesiaan. Musikku mungkin hanya ranting, atau daun pohon, yang kehadirannya memperindah pohon Indonesia. (Floresa).

 

 

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini