Komunitas Persaudaraan NTT Jakarta Minta Kapolri Ungkap Motif Penyerangan Siswa SD di Sabu

0
323
Petrus Salestinus
Jakarta, Floresa.co – Komunitas Persaudaraan Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta mengecam aksi penyerangan terhadap tujuh anak SDN 1 Sabu Barat, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, NTT oleh IR (31) pada Selasa, 13 Desember lalu dan menuntut Polri segera mengambil langkah-langkah hukum untuk mengungkap dalang di balik peristiwa tersebut.
Sebab, menurut Kordinator Persaudaraan NTT Jakarta, Petrus Salestinus, peristiwa tersebut bukan kriminal biasa, melainkan sinyal kuat adanya gerakan radikal yang mengancam kerukunan, toleransi dan keberagaman masyarakat NTT.

“Karena itu kami mendesak Polri untuk mengungkap aktor intelektual di belakang peristiwa yang tidak berperikemanusiaan tersebut,” tegasnya kepada Floresa.co, Jumat (16/12/2016).

Pihaknya mendesak gubernur dan seluruh muspida di NTT untuk segera memulihkan kenyamanan dan rasa damai masyarakat NTT, menjamin persaudaraan, kerukunan, toleransi dan keberagaman di NTT, agar tetap kompak dan bersatu.

Oleh karena itu, Petrus meminta agar Kapolri segera membentuk Kepolisian Resor di Kabupaten Sabu Raijua, menyusul kasus penyerangan yang dilakukan IR (32) terhadap tujuh siswa tersebut.
“Kami meminta Kapolri, Jaksa Agung, Panglima TNI dan Mahkamah Agung, untuk segera membuka Polres, Kejaksaan, Kodim dan Pengadilan Negeri pada setiap kabupaten pemekaran di NTT yang sudah 10 tahun lebih belum memiliki institusi hukum dan keamanan, termasuk Sabu Raijua,” tegas Petrus.

Baca: Polda NTT: Pelaku Penganiayaan Siswa di Sabu Pedagang yang Stres

Hal itu, lanjut Petrus, guna memberikan pelayanan keadilan secara memadai terhadap masyarakat dan juga memberikan perlindungan yang maksimal kepada setiap tahanan yang diamankan polisi.

Sementara itu, Serfas Serbaya Manek, anggota komunitas tersebut menilai peristiwa penikaman tujuh anak SDN I Sabu Barat tersebut merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan.

Peristiwa itu, tegasnya, tidak boleh dianggap sebagai kriminal biasa. Karena sebelumnya aktivitas kelompok radikal di NTT telah dideteksi. Bahkan beberapa kelompok telah diamankan dan dipulangkan oleh aparat kepolisian tanpa proses hukum.

“Peristiwa itu menjadi bukti bahwa Gubernur NTT dan Kapolda tidak memiliki kepekaan, kewaspadaan dan tanggung jawab terhadap situasi keamanan di seluruh NTT, terkait dengan dinamika politik nasional di Jakarta yang akhir-akhir ini memanas dan eskalatif,” tegas Serfas.

Dia menegaskan, sebagai penanggungjawab politik dan keamanan di NTT, gubernur dan kapolda NTT seharusnya terus-menerus meningkatkan kewaspadaan dan kepekaan. Ini bertujuan agar tidak membuka peluang masuknya kelompok radikal merusak kondisi NTT sebagai provinsi yang sangat toleran dan menghargai perbedaan dan sekaligus menjaga kerukunan dan keselamatan warga masyarakat dari tindakan brutal kelompok radikal.

Untuk diketahui, IR tewas akibat amuk massa setelah ia menyerang tujuh siswa kelas V SD Negeri 1 Sabu Barat, Kecamatan Sabu Barat, NTT, pada saat jam pelajaran sedang berlangsung, Selasa (13/12/2016) sekitar pukul 08.47 Wita.

Saat itu, IR datang memasuki ruangan kelas V sambil memegang sebilah pisau. Pelaku menuju ke bangku belakang dan mendekati seorang siswi dan melukai leher korban.

Setelah itu, pelaku mencari korban lain dan melukai leher maupun tangan dan kaki korban. Total korban sebanyak tujuh orang siswa. Merasa terancam siswa lain lari keluar sekolah. Para guru berteriak histeris.

IR dibekuk oleh aparat TNI dan dibawa ke Markas Polsek setempat. Massa geram dan mendatangi mapolsek setempat serta menghakimi pelaku hingga tewas. (Floresa).

 

 

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini