Mewaspadai Bunglon Politik

2
686
Fransiskus Sabar

Oleh: FRANSISKUS SABAR

Budayawan terkenal Emha Ainun Nadjid mendefenisikan politik sebagai seni mendapatkan kekuasaan. Di sini kata seni mengacu pada etika, logika, dan estetika. Etika mengacu pada keluhuran moralitas, logika mengacu pada kebenaran yang absolut, dan estetika mengacu pada keelokan dan kepantasan (Kompas,10/10/16).

Merujuk pada ide budayawan ini, penulis merasa tertarik untuk mengkaji lebih jauh drama politik lokal yang akan memeriahkan panggung demokrasi Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu mendatang.

Adalah benar bahwa etika, logika, dan estetika mutlak dibutuhkan dalam politik. Dalam hal ini, para calon dituntut untuk menjadi “seniman politik” yang profesional dan bukan seniman karbitan, instan, dan mentah.

Sementara itu, di saat seperti ini, rakyat NTT ditantang oleh gejolak dan potensi instabilitas politik yang mempengaruhi kehidupan masyarakat secara masif.

Masyarakat dirundung rasa bingung yang berkelanjutan, identitas politik pudar ditelan situasi ke-chaos-an. Mengapa hal ini terjadi? Jawabannya adalah karena adanya mafia politik dari para bunglon politik.

Bunglon Politik

Bunglon adalah kategori binatang yang unik. Keunikannya dapat dipotret dari kemampuannya yang bisa merubah warna kulitnya tergantung tempat dimana dia berada.

Kemana saja ia berpindah, warna kulitnya pasti akan berubah. Sulit sekali bagi kita untuk mendeteksinya. Dia mampu “berubah” dan kitapun sulit mengenalanya.

Dalam tulisan inu, saya mempersonifikasikan fenomena politik di NTT dengan bunglon. Ada dua alasan.

Pertama, menjelang Pilkada, para calon berusaha dengan berbagai cara untuk meraup dan mendapat dukungan dari khalayak luas. Bukan tidak mungkin masalah klasik seperti praktek politik uang (money politic), pendekatan bercorak primordialisme, dan pemberian bantuan mendadak tetap menjadi andalan.

Mereka berubah menjadi pribadi perhatian, altruis-dermawan. Berbagai variasi praktek klasik ini, hemat penulis merupakan warna bunglon politik yang harus diwaspadai.

Politik tampil dengan berbagai warna tipu daya yang bisa mengelabui pilihan rakyat.

Kedua, ada bahaya bahwa menjelang Pilkada, para calon berpenampilan layaknya malaikat yang mengetahui dan mampu menjawab semua kebutuhan masyarakat kecil.

Janji-janji manis diucapkan tanpa beban. Mereka seakan-akan bisa segalanya, tak ada cacat cela. Tetapi saat sudah terpilih menjadi pemimpin, semua itu ditanggalkan dan rakyat ditinggalkan begitu saja.

Masyarakat dipandang sebelah mata, janji manis akan terciptanya sarana-prasana seperti jalan dan air bersih tidak lagi diperhatikan. Dia menjadi penguasa yang memandang rakyat dengan sebelah mata. Perhatian kepada rakyat agak kurang, dan pun bermetamorfosis menjadi sangat hegemonik.

 

Membangun Kesadaran Kritis

Bahaya bunglon politik yang terlanjur menjelma dan menggurita dalam jejaring Pilkada kita seperti itu, harus ditantang oleh pemikiran dan kesadaran kritis setiap masyarakat NTT secara masif.

Kesadaran kritis pada masyarakat harus direkonstruksi dan direvitaliasasi oleh semua pihak. Karena dengan membangun kesadaran kritis pada masyarakat, kadar tipu daya bunglon politik dapat diminimalisir.

Dengan adanya kesadaran kritis, masyarakat tidak begitu saja percaya pada apa yang disampaikan oleh calon pemimpin tertentu.

Agar hal seperti ini berjalan baik, maka ada dua elemen yang  dapat berperan penting.

Pertama, kaum intelektual. Kaum intelektual, mesti bersatu pada membangun peradaban kritis untuk membantu masyarakat mengonstruksi iklim kritis.

Mereka harus menyadari tanggung jawab sosial untuk membantu masyarakat luas agar tidak terjebak jebakan bunglon politik yang seringkali tampil seolah-olah baik menjelang pesta demokrasi.

Kaum intelektual memiliki tanggung jawab sosial untuk mencerdaskan masyarakat, agar masyarakat mampu berdiri sendiri, berpikir mandiri dan tidak terpengaruh oleh manipulasi para bunglon politik. Kaum intelektual mesti melibatkan diri dalam usaha edukasi politik bagi masyarakat sehingga mereka benar-benar menjadi civil society.

Kedua, media massa. Media massa juga memegang peranan yang sentral dalam merangsang kesadaran kritis masyarakat umum untuk memerangi bunglon politik ini. Peran media massa sebagai pemberi informasi secara komphrehensif mempengaruhi pengetahuan politik masyarakat.

Oleh karena itu, netralitas media massa sangat dibutuhkan. Media massa harus menjadi penyalur informasi yang independen, fair dan obyektif. Artinya media massa harus bebas dari penawaran-panawaran yang mengikat kebebasannya dalam menyampaikan informasi. Ini bukan berarti media massa menjadi sangat eksklusif, tetapi berusaha untuk tetap berdiri pada posisi yang benar-benar menjaga nilai demokrasi dan meningkatkan partisipasi politik rakyat.

Saya percaya bahwa media massa kita benar-benar bisa diandalkan untuk menjalankan peran seperti ini dan tidak mudah terjebak kepentingan penguasa-kapitalis yang mengorbankan daya kritis masyarakat. Hal ini penting. Karena berita dari media massa dapat mempengaruhi mindset atau pola pikir masyrakat tentang politik.

Media massa adalah pilar demokrasi. Tanggung jawab sosialnya terwujud saat dia membantu masyarakat untuk benar-benar kritis dan tidak mudah masuk dalam perangkap bunglon politik.

Lebih dari itu, alangkah bagusnya jika kedua elemen penting ini bersinergi. Hemat penulis, jika kedua elemen sosial ini berjalan beriringan dan bersatu dalam visi yang sama yaitu memajukan pengetahuan politik masyarakat sekaligus bertekad merangsang pemikiran kesadaran politik masyarakat, maka bunglon politik yang mewabah ke dalam konstelasi politik di daerah NTT dapat diatasi dengan mudah.

Kehadiran kaum intelektual dan media massa kiranya menjadi sarana bagi masyarakat untuk memanifestasikan pilihannya secara murni dan bebas dari jebakan busuk para bunglon politik.

Jika demikian, seni politik yang mengacu pada keluhuran moralitas, kebenaran, keelokkan, dan kepantasan berpolitik yang didambakan oleh budayawan terkenal Emha Ainun Nadjid dapat terwujud.

Hanya dengan membangun kesadaran kritis, tipu daya bunglon politik dapat diminimalisir dan terdeteksi.

Penulis adalah penghuni Tahun Orientasi Rohani (TOR) Ritapiret – Maumere

Advertisement
BAGIKAN

2 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini