Gelar Konser di Labuan Bajo, Anak-Anak Difabel St. Damian Tampil Memukau

0
467
Acara pembukaan dalam konser "Kami juga bisa" di gedung Youth Center, Labuan Bajo (foto: Boe Berkelana)

Floresa.co—Ruangan berubah jadi gelap. Mereka membawa lilin. Ada yang menggunakan tangan. Ada yang hanya menggunakan kaki. Satu per satu memasuki panggung. Lalu, berbaris rapi.

Di deretan paling depan tampak yang anak-anak kecil yang berdiri dengan bantuan tongkat. Beberapa orang duduk di kursi roda sambil memegang lilin.

Lalu, mereka menyanyikan lagu berjudul “lilin kecil”. Tiap deretan bergerak berlawanan arah dengan deretan terdekatnya. Sesekali mereka berhenti, mengangkat lilin tinggi-tinggi.

Begini sekilas kutipan lagu tersebut,

“Dan kau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia”

Demikianlah anak-anak Panti Rehabilitas Kusta/Sifabel St. Damian Cancar dan Binongko mengawali konser “Kami juga Bisa” di  gedung Youth Center, Labuan Bajo, pada kamis malam, 1 Desember 2016.

Malam itu, berbagai acara mereka pertunjukkan. Mulai dari lagu, drama, tarian, teater, dan “iklan.”

Tidak lupa mereka menunjukkan kemampuan “istimewa” mereka. Misalnya, Andri. Tanpa tangan, dengan sigap menulis dengan kaki. Sambil menanti teman-temannya selesai menyanyi, ia menulis di atas kertas. Usai menulis, Mgr. Emeritus Michael Angkur membacakannya.

“Terima kasih” demikian Andri menulis.

Yang paling menguras tawa penonton saat Helly tampil. Anak teridap autis ini dikenal sangat aktif.

Sewaktu latihan persiapan selama dua hari sebelumnya, ia terbilang reseh. Saat teman-temannya menyanyi, ia ikutan nimbrung. Menganggu kadang merebut mike. Tak ada yang memarahinya, kecuali tertawa melihat ulahnya.

Saat acara, ia kembali memancing gelak tawa penonton. Ia bergerak leluasa di atas panggung sambil menyanyi. Yang bikin tertawa, tentu gerakan dan cara ia menyanyi. Ia berjingkrak-jingkrak sebebasnya dengan penuh kegembiraan.

Sekali waktu ia diberikan handphone.  Ia terheran-heran ia memandang hp. Terdengar ia mengucapkan dengan keras-keras, “mama…”dilanjutkan omongan seperti berbicara dalam bahasa asing. Penonton tertawa.

Lain kesempatan ada acara iklan. Entah apa maksudnya, dua orang berebut bola di atas panggung. Satunya cedera. Semula disirami air. Lalu seorang datang mengolesi dengan minyak.

Di akhir pertunjukkan mereka mengatakan, ”menyembuhkan memar dan kesleo, pakailah miko, minyak konfrei, minyak produksi anak Damian”

Sementara itu, untuk tampilan lagu, setiap penyanyi mampu memukau penonton. Meskipun sedang nyanyi, penonton menginterupsi dengan tepuk tangan. Hampir setiap lagu yang dinyanyikan. Dan semua pemusik adalah anak-anak komunitas difabel Damian.

Selama acara berlangsung, selain terpukau, banyak penonton meneteskan air mata. Seorang ibu di deretan VIP paling depan sesekali menyeka matanya dengan tisu.

“Mereka tampil luar biasa” katanya.

Sari, seorang mahasiswi juga merasa terharu. Katanya, acaranya benar-benar dipersiapkan.

“Acaranya keren-keren”

Sehari selepas konser, berseliweran pujian di media sosial seperti facebook. Salah satunya, Romo Emil Sarimas.

Ia mengatakan, “slogan kami juga bisa kurang tepat. Tetapi kami bisa sekali”.

Persiapan yang Matang

Tak ada hasilnya yang instan. Penampilan yang memukau dalam pentas Kamis lalu rupanya melewati latihan yang rutin dan tekun.

Selama sepekan sebelum acara pementasan, latihan dilakukan berkali-kali. Dua hari terakhir menjelang pementasan, tiap sore sekitar pukul 17.00, komunitas difabel Binongko dan Cancar sudah siap siaga di Youth Center.

“Kita harus bisa tampil maksimal. Pastikan memang bagaimana lalu lintas keluar masuk setiap pembawa acara di atas panggung. Pastikan semua obat-obat agar mereka tidak jatuh sakit. Toilet juga” kata Feliks Edon pada pertemuan hari Sabtu, 26 November 2016.

Pak Feliks—begitu ia disapa—adalah grand master dari acara pementasan tersebut.

Benar saja. Selama berlangsungnya latihan, Pak Feliks tak segan-segan menyuruh mereka mengulang. Berkali-kali.

Tanti, salah satu yang terlibat aktif di belakang panggung mengatakan, pak Feliks benar-benar mendorong mereka bisa tampil dengan maksimal.

“Mendorong kepercayaan diri mereka juga kalau mereka bisa” katanya.

Saat acara tersebut, Feliks duduk di salah satu sudut panggung. Ia tampak sigap memberikan arahan.

Sementara itu, meskipun dimulai pukul 19.00, mereka sudah siap di tempat acara sekitar pukul 17.00. Bersiap-siap di belakang panggung acara.

Sesaat memulai pentas, seorang suster menguatkan mereka.

“Kamu harus tampil gembira. Jangan pikirkan penonton. Pikirkan untuk menghibur diri sendiri. ”katanya.

Sepi Penonton

Untuk pementasan di Youth Center, di Labuan Bajo, ada dua kali pementasan yakni pada kamis malam, 1 Desember dan Sabtu malam, 3 Desember. Harga tiket berkisar dari 50-200 ribu rupiah. Di depan gedung Youth Center, terdapat tempat penjualan tiket.

Acara tersebut diselenggarakan dalam rangka menyambut penetapan tanggal 3 Desember sebagai Hari Disabilitas internasional.

Agustinus Suryanto, salah satu panita penyelenggara, mengatakan, acara tersebut juga terselenggara demi mendorong keterbukaan kepada kaum difabel dan mendukung kreativitas.

“Untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa penyandang difabel (cacat) memiliki kemampuan dan talenta yang sama dengan orang pada umumnya. Juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menghargai dan menerima penyandang difabel.” jelasnya.

Selama pemetasan kemarin, gedung Youth Center masih terbilang sepi penonton. Di deretan VIP hanya deretan paling depan yang terisi. Sebagian besar masing kosong. Demikian pun di bagian paling belakang. (greg)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini