Stefanus Banus: 16 Tahun Kehilangan Hak Sebagai PNS

1
3137
Stefanus Banus, pria 54 tahun yang masih berstatus sebagai PNS, namun kehilangan haknya sejak 16 tahun lalu. (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Borong, Floresa.co – Di sebuah pondok kecil, Stefanus Banus melewati hari-hari hidupnya seorang diri.

Pondok itu terletak di ladang miliknya di Kampung Wae Ruek, Desa Golo Munga, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur.

Ditemui Floresa.co pekan lalu, kondisi Banus cukup memperihatinkan.

Ia berupaya hidup pas-pasan, dengan mengandalkan pemasukan dari hasil menjual sayur, kedelai, tomat dan nanas.

Katanya, seringkali ia tidak makan nasi, jika sedang krisis keuangan.

“Biasanya kalau habis beras, saya makan apa adanya. Makan ubi, pisang dan jagung,” kata pria 54 tahun itu.

Dari penampilannya kini, dengan jenggot tebal dan badan yang agak kurus, tidak banyak yang tahu bahwa Banus masih berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Ia berkisah, dirinya merupakan lulusan Akademi Pendidikan Katekis (APK) Santu Paulus Ruteng.

Pada tahun 1994, ia lulus tes PNS, lalu dikirim ke Timor Leste, yang sebelumnya bernama Timor Timur, saat masih bergabung dengan Indonesia.

Di sana, ia bertugas sebagai guru Pendidikan Agama di SMPN 1 Kecamatan Atauro, Desa Vila, Kabupaten Dili.

Kehidupan Banus mengalami goncangan, saat Timor Timur berada dalam gejolak dan desakan menuntut untuk pisah dari Indonesia kian menguat.

Tahun 1999 menjadi puncak dari pergolakan itu, di mana digelar referendum dan secara defenitif Timor Timur menjadi negara baru, setelah kelompok pro kemerdekaan meraih suara mayoritas.

Berbeda dengan kebanyakan rekan PNS dari Manggarai yang saat itu memilih kembali ke kampung halaman, Banus memilih bertahan.

Ia beralasan, dirinya ingin terus mengabdi di Timor Timur, karena melihat pekerjaan sebagai pendidik adalah panggilan hidupnya.

“Saya ini bukan hanya guru yang mengajar agama di sekolah, tetapi guru agama yang beriman. Tugas saya bukan hanya mengabdi di sekolah, melainkan juga mengabdi di gereja,” kata putra pertama dari pasangan Longginus Ubar dan Paulina Dewe ini.

“Saya datang bukan untuk berpolitik. tetapi untuk mengabdi.”

Hingg kini, Stefanus Banus memilih menetap di pondok di ladang miliknya. (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)
Hingg kini, Stefanus Banus memilih menetap di pondok di ladang miliknya. (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Namun, naas menimpah Banus ketika pada tahun 2000 ia menjadi korban pemukulan.

Peristiwa itu, kata dia, terjadi saat ia sedang berada di halaman salah satu gereja di Dili.

“Ada orang yang tidak saya kenal datang bergerombol untuk masuk ke halaman gereja. Saya melarang mereka,” katanya.

Menghadapi reaksi Banus demikian, gerombolan itu tidak menerimanya dan spontan memukuli Banus di bagian kepala dengan pentungan.

Hal itu menjadi mimpi buruk bagi Banus. “Sejak itu, saya mengalami gangguan mental,” kisah pria kelahiran Wae Ruek, 15 Februari 1962 itu.

Pasca kejadian itu, ia pun memutuskan kembali ke Manggarai.

Dalam keadaan masih sakit ia keluar dari Timor Timur, ditemani seorang pastor, yang kini ia hanya ingat nama depannya, Pastor Ansel.

Tiba di kampung halamannya di Wae Ruek, Banus memilih tinggal di pondoknya. Dan, itu berlangsung hingga kini.

Kepada Floresa.co, Banus yang sudah bisa berbicara dengan normal, namun tetap memilih tinggal terpisah dari warga kampungnya menyatakan harapan agar bisa kembali mendapat haknya sebagai PNS.

Dan, katanya, dirinya sudah pernah memperjuangkan hal itu.

“Saya pernah memberikan dokumen kepegawaian saya kepada Gabriel Kabut, salah satu guru PNS di SDI Wae Ruek untuk ditindaklanjuti. Katanya, dia mau kasih kepada Bernadus Daguk, salah satu anggota DPRD Manggarai Timur,” katanya.

Namun, belum ada kabar baik yang ia terima hingga kini.

“Saya berharap kepada Pemerintah Manggarai Timur agar menolong dan memperjuangkan hak saya sebagai PNS”, harapnya.

“Saya ini mengalami kecelakaan kerja. Tetapi, mengapa dan kenapa tidak diperhatikan oleh negara”, ungkapnya.

Kini, ia masih menyimpan dokumen kepegawaian dan SK penempatan di pondoknya, termasuk Nomor Induk Pegawai (NIP).

“Saya telah memberi sumbangsih baik negara maupun gereja. Namun, pada hari ini, tak seorang pun yang mau menolong saya,” kata Banus. (Ronald Tarsan/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Semoga dapat di perjuangkan oleh pemerintah daerah demi pak stefanus.gbu

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini