Tengah Malam, Api Begitu Cepat Melahap Rumah Keluarga Tarsi Tapu

0
1067
Kondisi rumah keluarga Tarsi Tapu di Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai usai terbakar pada Jumat, 18 November 2016. (Foto: Gregorius Afioma/Floresa)

Floresa.co – Musibah kebakaran menimpa rumah keluarga Tarsi Tapu di Cancar, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai pada Jumat malam, 18 November 2016.

Dalam tempo dua jam, rumah permanen berukuran 12×7 meter itu ludes terbakar api.

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab kebakaran tersebut.

Ditemui pada hari Sabtu akhir pekan lalu, Tarsi bercerita, kejadian itu berlangsung sekitar pukul 23.00 Wita.

Mereka sedang istirahat saat kebakaran terjadi.

Di dalam rumah saat itu, kata dia, hanya ada lima orang.

Selain ia dan dan isterinya, juga ada anak perempuan mereka, Vitty Tapu bersama kedua anaknya yang masih usia balita.

Satunya bayi berusia 2 setengah bulan dan satunya lagi anak laki-laki berusia 2 tahun.

Kata Tarsi, isterinya adalah orang yang pertama yang menyadari situasi tersebut.

“Mama mendengar bunyi-bunyi dari plafon rumah,” katanya kepada Floresa.co.

Tidak lama berselang, jelasnya, tampak kepulan asap memasuki kamar.

Tarsi pun spontan keluar kamar dan terkejut saat mendapati nyala api di ruang tamu. Kobaran api begitu tinggi dari sofa-sofa yang terbakar.

Mereka begitu panik saat melihat nyala api ternyata juga sudah mengepung seluruh rumah, terutama di bagian atap.

Dari dapur pun asap mengepul. Mesin cuci dan kulkas juga sudah terbakar lebih dulu.

Tarsi dan istrinya terpaksa keluar melalui jendela kamar.

“Beruntungnya, kita tidak memasang trali pada jendela kamar,” jelasnya.

Sementara itu, untuk menyelamatkan putrinya, Vitty dan kedua cucunya yang tidur di kamar bagian belakang rumah itu, pintu belakang segera didobrak.

“Waktu pintu itu dibuka dan mereka keluar, hawa panas dan asap seperti mengejar kami. Mungkin karena tekanan panas dari dalam ruangan.”

Ia mengatakan, beruntung malam itu, tiupan angin tidak kencang, sehingga kobaran api tidak begitu tinggi.

Kondisi rumah yang hanya tinggal puing. (Foto: Gregorius Afioma/Floresa)
Kondisi rumah yang hanya tinggal puing. (Foto: Gregorius Afioma/Floresa)

Namun, nyala api tersebar merata, melahap seluruh rumah. Semuanya, kata dia, berlangsung begitu cepat.

“Kita tidak sempat menyelamatkan barang apa pun di dalam rumah. Sangat panas….selama 30 menit,” katanya.

Ia menjelaskan, beberapa saat kemudian banyak warga sekitar yang membantu. Namun, karena kurangnya pengalaman menghadapi peristiwa kebakaran, segala usaha hampir sia-sia.

“Api terlalu besar untuk dipadamkan. Dan, kita terlalu fokus memadamkan api, sehingga tidak sempat menyelamatkan yang bisa diselamatkan.”

Tarsi menjelaskan, harta mereka yang kini masih bertahan adalah tiga buah motor, yang diparkir di beranda rumah.

Ketiganya memang nyaris terbakar juga jika tidak segera dipindahkan.

Sebagai pelajaran, katanya, “saat kebakaran, sebaiknya kita perlu menyelamatkan barang yang perlu diselamatkan.”

“Jangan terlalu fokus memadamkan api,” katanya.

Saat ini, Tarsi bersama keluarga mengungsi ke rumah keluarga terdekat.

Ia pun belum menghitung kerugian akibat kebakaran tersebut.

Ia menjelasksn, pemerintah setempat, lurah dan camat sudah mengunjungi keluarga Tarsi, begitu juga pihak kepolisian.

Emanuel Maman Tapu, salah satu anak Tarsi yang kini bekerja di Jakarta mengatakan kepada Floresa.co, Selasa, 22 November, rumah itu sudah digusur pada Senin, setelah sebelumnya diadakan upacara adat Manggarai.

Warga setempat ikut membantu membereskan puing-puing rumah keluarga Tarsi Tapu. (Foto: dok. keluarga Tarsi Tapu)
Warga setempat ikut membantu membereskan puing-puing rumah keluarga Tarsi Tapu. (Foto: dok. keluarga Tarsi Tapu)

“Penggusuran memakai alat berat dan puing-puing dipindahkan secara gotong royong oleh warga,” kata Emanuel. (Greg/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini