Jiwa Klasik Manggarai, Narasi Tentang Pater Agus Wathu SVD

2
815
Pater Agus Wathu SVD (kanan). (Foto: Ist)

Oleh: GERARD N BIBANG

Ia dipanggil Allah justru di puncak optimisme konfraternya atas kesembuhannya. Ia sudah mulai berjalan dan berkomunikasi dengan baik setelah tiga Minggu didera stroke yang sebelumnya dianggap ringan dan biasa-biasa.

Kepergiannya dalam sunyi saat gemuruh ibu kota membahana di tengah kegemerlapannya memulai awal pekan Senin, 7 November 2016 lalu, saat jutaan warga ibu kota bergegas entah ke mana, saat kebisingan metropolitan mencapai tingkat dewa, tidak menggambarkan apa-apa kecuali kemutlakan kuasa Tuhan terhadap hamba-Nya, Pater Agus Wathu SVD.

Termasuk bagaimana cara maut Ia timpakan kepadanya. Posisi saya, mungkin engkau dan kita-kita hanya pada dinamika doa: selalu cemas dan memohon kepada-Nya agar diperkenankan untuk tidak tampak hina ketika saudara maut datang secara tiba-tiba.

Terutama bagi orang yang semakin berangkat tua seperti saya: merisaukan diri pada momentum kematian seperti ini, di mana seseorang dipanggil saat ia lagi baik-baik di puncak harapan kesembuhannya, sesungguhnya diam-diam sangat tajam mencerminkan kengerian terhadap kehidupan dan kematian saya sendiri.

Dengan melafal doa, duduk bersimbah di samping peti jenazahnya sambil meneteskan air mata pedih lalu berduyun-duyun menghadiri pemakamannya, semua ini mungkin untuk menyatakan kepada Tuhan betapa cintanya kita kepada kehidupan kita dan betapa khawatirnya kita akan datangnya maut sewaktu-waktu atas kita.

Tapi sejuujur-jurnya, saya tidak terkejut dengan kepergiannya seperti ini.  Dalam suasana optimisme akan kehidupan, ia pergi dalam senyap. Tanpa menyusahkan siapa-siapa. Saat kita sedang dalam kegembiraan akan kesembuhannya, ia pergi tanpa arah kembali.

Itulah jati dirinya yang saya kenal. Cara kepergiannya adalah siapa dirinya.  Ia adalah seorang imam yang menyenangkan siapa saja yang bersamanya, yang luas hatinya seluas samudera, yang setiap orang mendapat tempat di dalamnya, yang saling berbagi dalam kasih sayang tanpa setengah-setengah.

Ibarat buku, kepergiannya di RS St Carolus, adalah bab ke 74 dari seluruh hidupnya selama 74 tahun di bumi, yang menguraikan secara kasat mata sebuah tesis tunggal yaitu bagaimana mencintai dengan sederhana.

Ia adalah imam Tuhan yang bersahaja, yang mencintai umatnya dengan hal-hal kecil, yang umumnya tidak dianggap oleh kebanyakan orang. Ialah manusia tertahbis yang sejati karena menjadi bukan siapa-siapa dan tidak diperhitungkan menurut kacamata dunia.

SDK =Saung Daeng Kanang

Perjumpaan saya dengan Pater Agus berawal di tahun 1973. Saat itu, ia imam baru dan menjadi pastor Paroki Rangga yang sekarang ini mencakup Paroki Waenakeng dan Paroki Reweng dengan bentangan luas dari Pang Lembor hingga Nangalili  dan ke selatan hingga Borik sampai Repi. Luas sekali.  Mencakup dua gemente yang tergolong luas: Wontong dan Bajo.

Saya kira, di paroki inilah, Pater Agus menikmati bulan madu imamatnya sebagai imam baru. Ia ditahbiskan bulan Juli 1973 di Mataloko  dan mulai kerja di Rangga akhir tahun yang sama. Kehadirannya mencatat sejarah baru. Ia adalah pastor paroki termuda sepanjang sejarah Paroki Rangga.

Di suatu sore di tahun 1973, saya lupa bulan berapa. Kami seluruh siswa SDK Waemata, sebuah stasi terdekat Paroki Rangga,  bersama umat stasi dari beberapa kampung sekitar (Tando, Nangka, Pela, Wol, Daleng, untuk menyebut beberapa) berkumpul di ujung plein menjemput Pater baru. Ini tradisi biasa di stasi kami setelah sebelumnya juga dilakukan untuk Pater Pius Kila SVD, yang menjadi pastor paroki Rangga untuk beberapa bulan.

Yang ingin saya narasikan bukan soal tradisinya. Bukan juga yel-yel indah “ selamat datang pater, selamat datang pater, kami senang menerima Pater’ secara chorus berulang-ulang yang dilatih oleh guru kelas empat, lima dan enam: Guru Kashmir Abul. Tapi tentang kepok (orasi penyambutan tamu) oleh Nene Bele (baca: Kraeng Natus ), seorang sepuh kampung Waemata. Ia adalah profesional kepok bila tamu besar mengunjungi kampung terpencil kami.

Dengan seekor ayam dan robo tuak putih di tangannya, Nene Bele berkata yang sempat saya ingat, kurang lebih begini: “ Iyooo Pater, terimakasih sudah jauh-jauh datang. Terpenuhilah sudah kerinduan jiwa kami yang berbulan-bulan ingin menerima komuni. Mori Keraeng-lah yang menyuruh Pater ke sini mengunjungi kami umat yang hina-dina dan sangat pas-lah Pater mewakili Yesus karena baru kali ini saya melihat seorang pater Indonesia yang tinggi, putih dan gagah sekali.”

Kami tepuk tangan. Pater Agus tersenyum. Tak mengherankan karena persis di samping Pater Agus berdiri Guru Kashmir Abul, penterjemah simultan yang sejak awal kepok, terus membisikkan ke telinga Pater Agus yang menyimak kata demi kata dalam kepok itu.

Lanjut Nene Bele: “Landing neka keta rabo ite tuang (Tapi mohon maaf Pater)! Pas waktunya di akhir bulan, makanan kami lebih banyak SDK: Saung Daeng Kanang (hanya daun singkong).”  Kami tertawa. Pater Agus juga tertawa.

“Pater, kami  di sini hanya ada tiga jenis menu. Di awal bulan, menu kami SDN: Saung Daeng Nuru (daun singkong campur daging), sementara di pertengahan bulan, SDI : Saung Daeng Ikang (daun singkong campur ikan) dan di akhir bulan paling sial sudah, SDK.”

Sambil tertawa, kami tepuk tangan menantikan jawaban Pater Agus. Ah, paling-paling nanti diterjemahkan oleh guru Kashmir Abul, begitu pikiran kami. Eh, ternyata keliru besar. Setelah Pater Agus menerima ayam dan minum satu mok tuak putih, tangan kanannya mengambil secarik kertas putih dari saku bajunya. Ouwww… Pater Agus sudah siapkan wale (=jawaban) tertulis.

Dengan suara barithon yang pelan, Pater Agus berkata dalam bahasa Manggarai, “Siapalah kita kalau bukan semua bersaudara dalam keluarga Allah. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Semuanya sudah diatur oleh rencana Allah. Saya senang karena telah menjadi bagian dari keluarga besar stasi ini. Makananmu yah makananku juga. Kita sama-sama menikmati apa yang kita punya. Toh kita ini bukan siapa-siapa. Yang paling penting ialah kita bertemu dan bersama-sama menerima Yesus ke dalam hati kita melalui ekaristi kudus besok.”

Spontan kami semua tepuk tangan meriah dan lama, diiringi pukulan gung dan taburan gendang. Lama sekali. Seingat saya, inilah aplaus terlama pertama tanpa disuruh-suruh oleh protokoler yang pernah saya alami. Kehadirannya sore itu membawa kebaruan.

Kebaruan

Keesokannya pada ekaristi kudus, Pater Agus berkhotbah dalam bahasa Manggarai.  Hah, sebuah kebaruan lagi. Inilah khotbah pertama dalam bahasa Mangggarai yang saya dan teman-teman seumuran sekolah dasar ikut tanpa brisik dan ribu-ribut. Mudah dimengerti karena kami mengerti bahasanya.

Sejak saat itu, kegembiraan kami menyeruak ke langit-langit semesta. Bersama  Pater Agus selalu berarti senang, betah, bebas dan dekat. Bersamanya adalah kebaruan dan kegembiraan tanpa harus cerita-cerita lucu karena Pater Agus bukan tipe orang lucu atau tukang ganda, menurut istilah Manggarai.

Maka, kami selalu merindukannya. Selalu kangen! Begitulah misalnya ketika ia datang lagi patroli empat bulan kemudian, di awal tahun 1974, ia bercerita tentang rajin-rajin sekolah supaya pengetahuan luas, seperti orang di Belanda, Jerman, Amerika. Kebetulan sore itu, dia memutar siaran radio internasional, radio Belanda Wereldomroep dan Suara Jerman Deustche Welle sambil di sana sini ia memperjelas maksud berita yang kami dengar.

Misalnya di Belanda, kata dia di antara kerumunan anak-anak. Belanda itu disebut Nederland. Yang artinya: tanah lebih rendah. Nieder artinya rendah. Land artinya tanah. Jadi, Nederland artinya…..? “Tanah lebih rendah” jawab kami serempak.

“Bagus…Nederland berarti tanah lebih rendah dari laut

“Pater, mereka minum air bagaimana” tanya Winus dari kampung Tando

“Aeh air masuk sendiri saja ke rumah. Mereka minum dan mandi, gampang-gampang saja”

“Pater, mereka bisa napas ka karena tenggelam di bawah air laut” kata Hana

“ Napas biasa..laut itu hanya sampai rata dengan betis..”

“Saya Pater,..”

“Kau nama siapa”

“Mamung, Pater…mereka di Belanda pasti tidak perlu timba air macam kami…”

“Tentu tidak!”

“ Lalu mereka masak bagaimana pater”

“ Kalau mereka mau goreng ikan, mereka cukup taruh minyak di kuali, nanti ikan, udang, katak, loncat sendiri ke kuali”

Kami terbahak-bahak. Ia juga ikut tertawa. Sambil kami membayangkan betapa asyiknya menyaksikan ikan dan udang berloncat-loncat masuk kuali.

“Makanya, kamu sekolah tinggi-tinggi supaya bisa pergi ke Belanda atau negara lain”

Itulah Pater Agus. Bersamanya, kami menikmati kebaruan demi kebaruan. Kain altar untuk pertama kalinya pake kain songke. Oh indah sekali. Paskah dan Natal di Rangka menjadi warna-warni karena hiasan songke di antara bunga hidup berkelip-kelip. Ia sendiri ke mana-mana pake topi Manggarai, jacket songke dan kasula bermotifkan songke. Kebanggaan kami sebagai orang Manggarai yang beriman semakin membara.  Misa selalu inkulratif. Kepok pembukaan dan torok (doa asli) persembahan,  selalu menyertai misa di mana-mana serta menjadi bahan cerita untuk paroki-paroki lain.

Menariknya, semua itu ia lakukan dalam sunyi dan diam. Tanpa kata-kata. Tanpa penjelasan ilmiah. Hanya perbuatan. Iyah, ia adalah seorang praksis. Untuk sapaan-sapaan misa, terutama waktu  pembaharuan janji permandian Sabtu Paskah, atau waktu janji perkawinan, selalu ia lakukan dalam bahasa Manggarai. Dugaan saya, mungkin lebih afdol menggunakan bahasa Manggarai agar substansi iman dan janji dapat menukik ke sanubari.

Setelah 26 tahun kemudian ketika berkesempatan hidup dan bekerja di Belanda, sering saya cekikikan sendiri mengingat ikan-ikan yang lompat sendiri ke kuali. Pater Agus, Pater Agus, caramu memotivasi orang-orang kecil, superrrrrrr sekali, begitu saya bergumam sendiri.

Ketika suatu saat pulang berlibur dan bertemu singkat dengannya di Provinsialat SVD Ruteng, waktu itu ia sedang mengurus perpindahan ke Reo, kami berpelukan erat. Sebuah ritual yang ia lakukan baik waktu saya di seminari kecil hingga seminari tinggi maupun setelah keluar sebagai awam yang memiliki istri dan anak. Sedikitpun cintanya tak berubah.

Sayang sekali! Waktu  itu tidak terlintas sedikit pun dalam pikiran saya untuk bertanya tentang ikan dan udang yang lompat sendiri. Tapi saya yakin, kalau pun saya tanya pasti dia menjawab lupa. Begitulah sisi lain Pater Agus. Ia tidak pernah berkisah tentang dirinya, tentang kebaikan yang pernah dilakukannya, tentang apa yang sudah dibangunnnya. Ia adalah hamba-sahaya Sang SABDA yang selalu menampilkan apa yang ia wartakan daripada menggagah-gagahkan perbuatan dan jasa-jasanya. Ialah imam bersahaja yang lebih memilih betah tinggal di latarbelakang daripada berkoar-koar dengan bergaya-gaya di mimbar dan altar.

Anggom Agu Rangko

Saya narasikan di sini semua ini bukan karena mengenai urusan ego saya. Bukan karena saya narsis mencintai diri sendiri secara berlebihan. Bukan pula karena ingin pembaca narasi ini memuji-muji Pater Agus. Bukan, bukan. Logika sosial saya melarang saya untuk mendesak-desak orang lain agar memujinya. Ia bukanlah orang yang meminta-minta dipuji. Hal-hal kecil ini hendak menggambarkan betapa mulia dan agungnya kedermawanan hati seorang Pater Agus.

Sebagai biarawan Serikat Sabda Allah, ia tahu betul bahwa mewartakan Sabda sejatinya adalah perjumpaan antara jiwa-jiwa. Selama empat puluh tiga tahun pengembaraannya di bumi Manggarai, mulai dari Rangga, Waenakeng, Labuan Bajo, Reo hingga Kuwu dan terakhir Jakarta, ia menemukan jiwa klasik Manggarai yang telah lama menjadi roh kemanggaraian berabad-abad yaitu anggom agu rangko: ekstensif, intensif, inklusif dan komprehensif denga berpikir holistik demi menjadi manusia seutuh-utuhnya.

Dalam perjumpaannya itu, ia menghirup anggom agu rangko dan bersama jiwa-jiwa Manggarai berjalan menjadi manusia utuh dengan tidak setengah-setengah yang pemenuhannya akan dilakukan oleh Mori Keraeng, Tuhan Allah sendiri ketika seseorang dijemput oleh saudara kematian. Di bawah kolong langit biru bumi Congka Sae, semua orang bersaudara.

Dalam terang jiwa klasik itu, hidup Pater Agus adalah sebuah praksis secara terang benderang sinergi dari dua hal yang abstrak  dalam hidup ini yaitu cinta dan mencintai.

Untuk sederhananya dapat dikatakan begini: Cinta itu suatu keadaan di dalam jiwa manusia. Suatu situasi yang bergulung-gulung di batas kedalaman jiwamu.  Suatu potensi,  sebuah situasi batin, mungkin berujud ruang yang membutuhkan waktu, atau bisa jadi ia terasa sebagai energi atau teralami sebagai semacam frekwensi. Seluruh kemungkinan itu terletak di dalam diri manusia, ia ada dalam kesunyian dirinya, ia belum fakta bagi selain dirinya.

Sedangkan mencintai adalah keputusan sosial. Adalah perilaku, langkah perbuatan kepada yang bukan dirimu. Bentuknya tidak lagi seperti yang ada di dalam dirimu. Ia sebuah dinamika aplikasi keluar diri, bisa berupa benda, barang, jasa, pertolongan, kemurahan, dan apapun sebagaimana peristiwa sosial di antara sesama manusia.

Engkau bisa mencintai meskipun tanpa cinta. Karena perbuatan mencintai bisa engkau ambil energinya dari nilai-nilai sosialitas yang bermacam-macam. Bisa kasih sayang kemanusiaan, bisa kenikmatan raga, bisa toleransi, empati, simpati, partisipasi dan apapun. Atau engkau ambil landasan dari Tuhan: aku tetap mencintainya, menjalankan kebaikan kepadanya, meskipun di dalam dirimu sudah tak tersisa rasa cinta yang eksklusif kepadanya.

Apabila cinta diaplikasi menjadi tindakan ‘mencintai’, maka begitu ia mensosial: wujudnya, bentuknya, formulanya, prosedurnya, nada dan iramanya, sudah ‘bukan’ cinta itu sendiri. Sang Cinta ada di balik itu semua.

Maka: mencintai itu wajahnya seakan tak ada hubungannya dengan cinta, karena ia bisa berupa kerja keras membanting tulang di pasar dan jalanan untuk keluarga. Ia bisa berujud kepengasuhan dalam keluarga, kepemimpinan dalam bermasyarakat, kearifan mengurusi kesejahteraan rakyat, saling menyapa dan hal-hal kecil dan sederhana.

Hidup Pater Agus mendagingkan dua hal abstrak itu sehingga menjadi nyata senyata-nyatanya di antara jiwa-jiwa Manggarai. Mencintai-nya begitu konkrit dan sederhana sesederhana penampilan dan kata-katanya.

Ketika ke Ruteng dari Labuan Bajo, ia selalu menyempatkan diri berhenti di Peri dan berdoa di kubur ayah saya Nobert Nuba, ngobrol sebentar dengan mama, lalu melanjutkan perjalanan setelah memberikan berkat singkat. Nobert Nuba adalah ketua stasi Waemata bertahun-tahun hingga ia meninggal pada bulan Maret 1975. Begitu terkesannya mama Marta Nuba dengan Pater Agus, sampai-sampai ia mengatakan kepada kami anak-anaknya: “Itu baru pater. Kalau mau jadi orang, lihat tu Pater Agus. “

Hingga kematiannya beberapa tahun lalu, mama Martha Nuba yang tamatan Sekolah Rakyat itu, hanya meyakini dua pater sejati: Pater Agus dan Pater Josef  Van Hoef. Pater van Hoef,  pastor paroki Rekas berpuluh-pulh tahun dulu selalu mampir di rumah di Waemata dan Peri sekedar untuk memberi berkat kepada mama dan seisi rumah dan sesudah itu, terus melanjutkan perjalanannya. Suatu kebiasaan yang masih sangat membekas pada kami sampai sekarang.

Terhadap pasangan perkawinan yang ia nikahkan, tindakan mencintai-nya terpraksis melalui rekaman kaset seluruh upacara dan menghadiahkannya kepada pasutri selain salib, rosario kecil dan injil saku.

Ketika suatu saat ia mampir di Kisol, ia memanggil saya ke kamarnya di Gedung Regio SVD dan mendengarkan kaset rekaman pernikahan saudari saya Justina Nuba dengan Karmadinus, yang ia nikahkan sebulan sebelumnya dan saya tidak sempat menghadirinya. Air mata saya menetes haru waktu mendengarkan kaset itu. Dan dengan suara pelan, ia berkata:  “Ya sudah, semua acara sudah berjalan lancar.”

Saya tidak menghitung bangunan fisik gedung yang ia kerjakan. Juga sama tak terhitung dengan perempuan dan lelaki yang ia kirim kursus di Ruteng: menjahit, masak, pertukangan. Dalam  beberapa waktu, ia mendatangkan suster-suster Ursulin dari Ruteng dan dari Suster SSps dari Cancar untuk memberikan training pemberdayaan perempuan dan kesehatan keluarga di stasi-stasi.

Inilah spirit anggom agu rangko, jiwa klasik manggarai yang telah menjadi jiwanya selama berkembara di dunia dan mencapai puncaknya pada Senin 7 November lalu di RS St Carolus ketika jiwa klasik itu dipanggi kembali oleh Sang Pemilik Jiwa-Jiwa.

Allah Yang Maha Baik adalah Pahalamu, Pater Agus. Kami mencintaimu dengan terus menerus mencintai sesama dengan sederhana.

Kepadamu yang sudah bahagia di sana, saya ingin mendaraskan cinta, yang saya pinjam dari Sapardi Djoko Damono, penyair dan penulis besar, dalam AKU INGIN:

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyara t yang tak sempat disampaikan awan, kepada hujan yang menjadikannya tiada

Sampai jumpa di surga.

Penulis adalah senior asal Manggarai, kini menetap di Jakarta

Advertisement
BAGIKAN

2 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini