Disebut Curi Foto Para Fotografer, Pemprov NTT Diminta Bekukan Situs Direktori Pariwisata

4
1234
Foto layar website Direktori Pariwisata NTT. (Foto: Ist)

Floresa.co – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) didesak membekukan situs direktori pariwisata, berhubung foto-foto yang dipakai dalam situs tersebut tanpa ada izin dari para pemiliknya.

Desakan itu disampaikan lewat sebuah petisi di situs Change.org. Petisi bertajuk “Save Karya Foto Photographer NTT” itu diinisiasi oleh sebuah grup yang menyebut diri Support Fotografer NTT.

Dalam petisi itu dijelaskan bahwa “foto-foto karya fotografer lokal dicatut dan digunakan oleh Dinas Pariwisata tanpa ijin dan tanpa pemberitahuan.”

“Hal ini membuat banyak fotografer lokal resah karena merasa karya dan kerja mereka tidak dihargai sama sekali,” demikian bunyi petisi itu.

Padahal, kata mereka, karya fotografi memiliki value atau nilai.

“Dan, siapapun tidak bisa merendahkan atau menganggap sepeleh karya orang lain yang telah bersusah payah menghabiskan dana, waktu, perhatian dalam menghasilkan foto,” demikian kata mereka.

Mereka menegaskan, dalam kepentingan promosi pariwisata Indonesia, baik nasional maupun daerah, tentu membutuhkan dukungan berupa foto.

“Sayang sekali, bila foto-foto didapatkan secara ilegal, tanpa izin, atau seperti pencuri.”

Mereka pun mendesak Dinas Pariwisata untuk menghargai karya cipta para fotografer lokal.

“Sungguh tidak elok, bila instansi pemerintah melakukan tindakan tidak terpuji,” kata mereka.

Mereka meminta agar situs tersebut dinonaktifan hingga didapatkan kebijakan mengenai penggunaan foto-foto mereka.

Selain itu, mereka menuntut adanya permintaan maaf dari Dinas Pariwisata atas hal ini.

Munculnya petisi tersebut bermula dari pengakuan Edyra Guapo, salah satu pemilik foto melalui akun Facebook-nya.

Ia menyatakan, ada fotonya yang diambil oleh Dinas Provinsi NTT tanpa izin. Tidak hanya itu, keterangan foto atau caption yang disematkan pada foto tersebut juga salah.

Postingan di Facebook Edyra Guapo yang kemudian disebar oleg fotografer Valentino Luis. (Foto: Facebook)
Postingan di Facebook Edyra Guapo yang kemudian disebar oleg fotografer Valentino Luis. (Foto: Facebook)

Postingan tersebut yang disebar oleh seorang fotografer, Valentino Luis di akun Facebooknya mendapat beragam komentar.

“Beking malu malu sa. Mohon basodara fotografer cek foto2 kalian di situs ini, kalau ada yg dimuat tanpa izin, tegur sa, atau minta take down situsnya. Sama sama belajar menghargai,” tulis Valentino.  (ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

4 Komentar

  1. Mantapppp, Disparpov NTT perlu belajar lebih banyak lagi buat menghargai karya orang lain. Ini penting untuk pembelajaran dan tepat jika instansi terkait (Disparprov NTT) bisa menjelaskan secara detail mengapa hal tersebut bisa terjadi dan perlu ada pernyataan resmi serta permintaan maaf kepada para fotografer pemilik foto.

  2. Kadisparprov. NTT harus bisa menjelaskan hal tersebut dan sebaiknya pula untuk membuat kompers agar masalah tersebut dapat segera menjadi terang benderang.
    Sayang, revolusi mental ternyata belum sampai di Disparprov NTT dan sayang pula integritas tanpa cela seolah menjadi sebuah jargon semata……dan berharap semoga segera ada penjelasan resmi pak, salam…..

  3. Kok dibekukan? Seharusnya diminta ganti rugi, setidaknya, mintalah untuk menghargai karya..supaya putra daerah juga semakin semangat berkarya…Salam Industri Kreatif…

  4. harus diakui bahwa ada mekanisme etika yang terlewaatkan dalam proses ini, namun jika ditelusuri lebih jauh sesungguhnya tidak ada niat buruk dari Disparekraf NTT untuk mempublikasikan karya fotografi tersebut, tujuannya adalah untuk memperkenalkan NTT melalui website disparekraf dimaksud….Tujuan publikasi melalui media website NTT ini adalah untuk kepentingan Umum, tidak dalam rangka periklanan/komersil, sehingga (maaf) selain soal moral dan nilai etika, saya kira tujuan pemilik foto dan Disparekraf terkait publikasi foto dimaksud adalah sama yakni mau memperkenalkan keindahan NTT…so saya pikir komunikasi kontruktif tanpa ada niat saling merugikan dapat menjadi solusi sejuk untuk pembangunan Pariwisata NTT yang sama kita inntai

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini