Camat Komodo Menolak Dianggap Kecam Mohamad Jahidin

2
1013
Mohamad Jahidin, pemuda Muslim asal Manggarai Barat saat mengikuti aksi unjuk rasa di Jakarta pada Jumat 4 November bersama sekitar 150.000 umat Muslim. Dalam aksi yang disebut "Bela Islam" itu, ia dan sejumlah rekannya memilih memungut sampah di area aksi unjuk rasa. (Foto: dok)

Floresa.co – Abdullah Nur, Camat Komodo, Kabupaten Manggarai Barat membantah bahwa dirinya mengecam Mohamad Jahidin, seorang mahasiswa asal wilayahnya yang ikut dalam aksi unjuk rasa terhadap Basuki Tjahja Purnama atau Ahok di Jakarta pada Oktober lalu.

“Saya tidak pernah mengatakan mengecam yang bersangkutan,” kata Nur kepada Floresa.co.

Ia menyampaikan hal itu menanggapi berita terkait Jahidin yang dimuat Floresa.co pada 3 November, di mana di dalamnya ada kutipan pernyataan Nur yang dilansir media Floreseditorial.com.

BACA: Topi Songke Jahidin yang Memicu Perdebatan

Dalam berita itu disebutkan bahwa Nur “menyampaikan kecaman terhadap Jahidin,”  yang diikuti pernyataannya, “Saya akan mencari tahu warga saya tersebut dan akan saya ambil sikap terkait ulahnya menggunakan topi songke saat demo.”

Pernyataan lain Nur adalah, “Flores dan NTT terkenal dengan kerukunan umat beragama yang sangat baik. Dengan kehadiran dia pada demo tersebut, seolah–olah membawa nama Manggarai.”

Kepada Floresa.co,  Nur menyebut keberatan dengan pilihan kata Floresa.co yang menyebut bahwa substansi pernyataannya itu adalah kecaman.

“Kata kecaman itu terlalu sadis,” katanya. “Saya tidak mengecam yang bersangkutan.”

Nur juga menjelaskan bahwa pernyataan terkait Jahidin ia cabut usai menyimak klarifikasi Jahidin.

Ia memang tidak tegas membantah apakah pernyataannya yang dikutip Floresa.co dari Floreseditorial.com tidak sesuai dengan pernyataan dia sebenarnya. Nur hanya mempersoalkan penggunaan kata kecaman.

Ketika diminta Floresa.co untuk menyampaikan klarifikasi serupa kepada Floreseditorial.com, Nur menyatakan, ia masih mempertimbangkan hal itu.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kecaman terhadap Jahidin dipicu oleh penampilannya, di mana ia mengenakan topi songke khas Manggarai, saat demo 14 Oktober lalu dengan tujuan utama mendesak agar Ahok diproses hukum terkait tudingan penistaan agama.

 Mohammad Jonaidi  (kanan) berada di antara umat Muslim yang ikut aksi unjuk rasa di Jakarta pada Jumat, 14 Oktober 2016. Pilihannya mengenaka topi adat Manggarai dalam aksi tersebut memicu perdebatan di kalangan orang Manggarai. (Foto: Facebook)
Mohammad Jonaidi (kanan) berada di antara umat Muslim yang ikut aksi unjuk rasa di Jakarta pada Jumat, 14 Oktober 2016. Pilihannya mengenaka topi adat Manggarai dalam aksi tersebut memicu perdebatan di kalangan orang Manggarai. (Foto: Facebook)

Di media sosial, Jahidin dianggap memantik anggapan bahwa orang Manggarai mendukung aksi massa Islam garis keras itu.

Namun, kepada Floresa.co, Jahidin mengatakan, ia sama sekali tidak memiliki niat sebagaimana dituduhkan netizen.

“Penggunaan topi songke tersebut tidak berarti memberi simbol dukungan dari orang Manggarai Raya,” katanya.

Ia juga menjelaskan, dirinya “tidak hanya mengenakan topi itu pada saat demo 14 Oktober.”

“Dalam sejumlah event di Jakarta, saya juga memakai topi itu, termasuk saat ujian proposal tesis di kampus beberapa waktu lalu,” lanjut mahasiswa magister di salah satu kampus Islam ini.

Jahidin juga memberi klarifikasi terkait anggapan bahwa ia adalah kader Front Pembela Islam (FPI).

Ia menyatakan, meski bergabung dalam aksi yang dikordinasi FPI itu, ia mengaku, bukan merupakan anggota FPI.

“Kebetulan saja demo itu dipimpin FPI,” katanya. “Keterlibatan saya dalam aksi itu, murni karena ingin menuntut agar Ahok dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.”

Ikut Demo 4 November

Dalam aksi lanjutan pada Jumat 4 November pekan lalu, Jahidin juga ikut bergabung dengan sekitar 150.000 massa dari sejumlah daerah di Indonesia. Namun, ia tidak lagi mengenakan topi Manggarai.

Dalam aksi itu, bersama teman-temannya, ia mengatakan, mereka memilih tugas memungut sampah.

“Biar jangan lagi ada demo yang meninggalkan sampah,” katanya.

Jahidin yang berbicara dengan Floresa.co pada Senin, 7  November mengatakan, ikut mengecam aksi kekerasan yang terjadi jelang akhir aksi itu, Jumat malam.

“Saya menyayangkan aksi sebagain kelompok yang memprovokasi sehingga terjadinya kerusuhan dalam aksi damai tersebut,” katanya.

“Sebagai generasi muda yang mengutamakan nilai-nilai toleransi kehidupan beragama, saya berharap kepada pihak berwajib untuk menangkap semua yang dicurigai sebagai provokator,” lanjutnya. (ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

2 Komentar

  1. Klarifikasi juga ke floreseditorial.com , kami tdk sembarang memberitakan dan punya bukti rekeman dimana dia menyampaikan kecaman kepada mohamad jahidin.. kepada pak camat, lebih elok kalau klarifikasinya ke media yg meliput pak.

  2. Makanya yang lebih kongkritnya harus minta klarifikasi dari floreseditorial.com karena mereka yang melakukan wawancara kepada camat yang bersangkutan dan media lain tidak boleh memperbaiki apa yang menjadi milik orang .

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini