Topi Songke Jahidin yang Memicu Perdebatan

0
2488
Mohammad Jonaidi (kanan) berada di antara umat Muslim yang ikut aksi unjuk rasa di Jakarta pada Jumat, 14 Oktober 2016. Pilihannya mengenaka topi adat Manggarai dalam aksi tersebut memicu perdebatan di kalangan orang Manggarai. (Foto: Facebook)

Floresa.co – Demo ribuah massa di Jakarta yang menuntut agar Basuki Tjahja Purnama atau Ahok diproses hukum terkait tudingan penistaan agama sudah berlangsung lebih dari dua pekan lalu.

Perhatian publik pada aksi itu pun sudah berkurang dan kini beralih ke aksi yang disebut-sebut akan lebih masif lagi pada Jumat, 4 November.

Namun, di kalangan orang Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih ada hal yang hingga kini hangat didiskusikan terkait aksi 14 Oktober itu.

Pemicunya adalah sebuah foto yang hingga kini masih viral di media sosial, di mana seorang pemuda asal Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat ikut bergabung di tengah peserta aksi.

Dan, di kepalanya, ia mengenakan topi songke, topi khas Manggarai.

Di Facebook, foto itu menyebar dan memicu perdebatan.

Banyak netizen yang mempertanyakan alasan pemuda itu – yang kemudian diidentifikasi bernama Mohammad Jahidin – tentang pilihannya mengenakan topi Manggarai.

Pantauan Floresa.co, umumnya komentar netizen dipicu oleh kecemasan bahwa kelompok garis keras seperti Front Pembela Islam (FPI)– yang menginisiasi demo pada 14 Oktober itu – akan masuk ke Manggarai. Dan, bisa jadi, Jahidin –  yang ikut terlibat dalam aksi itu – menjadi salah satu corongnya.

Media lokal Floreseditorial.com yang mengupas soal ini mengutip pernyataan Abdullah Nur, Camat Komodo, di mana ia menyampaikan kecaman.

“Saya akan mencari tahu warga saya tersebut dan akan saya ambil sikap terkait ulahnya menggunakan topi songke saat demo tersebut,” kata Nur.

“Flores dan NTT terkenal dengan kerukunan umat beragama yang sangat baik. Dengan kehadiran dia pada demo tersebut, seolah – olah membawa nama Manggarai,” lanjutnya.

Terkait kecaman itu, serta sejumlah komentar di media sosial, Jahidun sudah menyampaikan klarifikasi sekaligus meminta maaf, karena telah meresahkan warga Manggarai Raya.

Tentang penggunaan topi, menurut dia, itu adalah bentuk upaya melestarikan kekayaan budaya Manggarai.

“Penggunaan topi songke tersebut tidak berarti memberi simbol dukungan dari orang Manggarai Raya.Tetapi ini atas keinginan pribadi,” katanya.

Kepada Floresa.co yang menghubungi pada Rabu malam, Jahidin mengatakan,  dirinya “tidak hanya mengenakan topi itu pada saat demo 14 Oktober.”

“Dalam sejumlah event di Jakarta, saya juga memakai topi itu, termasuk saat ujian proposal tesis di kampus beberapa waktu lalu,” lanjut mahasiswa magister di salah satu kampus Islam ini.

Saat ia bersama sejumlah elemen ikut dalam audiensi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), membahas rencana pembentukan Kabupaten Manggarai Barat Daya, katanya, ia juga mengenakan topi songke.

“Jadi, ini hal yang biasa saya lakukan,” katanya.

Ia menambahkan, ketertarikaan untuk mengenakan topi songke, juga karena sebagai orang yang tinggal di daerah pesisir di Golo Mori, kedekatan dengan warisan budaya Manggarai, kurang begitu kuat.

“Karena itu, dengan mengenakan topi songke, saya ingin mendekatkan diri dengan budaya Manggarai,” jelasnya.

Jahidin juga memberi klarifikasi terkait anggapan bahwa ia adalah kader FPI.

Ia menyatakan, meski bergabung dalam aksi itu, ia mengaku, bukan merupakan anggota FPI.

“Kebetulan saja demo itu dipimpin FPI,” katanya. “Keterlibatan saya dalam aksi itu, murni karena ingin menuntut agar Ahok dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku.”

Yosef Sampurna Nggarang, Ketua Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Manggarai Barat yang mengaku dekat dengan Jahidin menyatakan, sebagai sesama anak Manggarai, mereka sering diskusi mengenai situasi Manggarai Barat.

Ia juga mengaku, di beberapa forum diskusi sering berjumpa dengan Jahidin yang memakai topi songke.

“Jujur, di sini Jahidin lebih Manggarai daripada saya. Begitu juga soal bahasa. Dalam komunikasi, Jahidin lebih sering menggunakan bahasa Manggarai daripada saya,” katanya.

Yos menilai, kehadiran Jahidin dalam aksi demonstrasi 14 Oktober adalah hak asasinya, karena bersentuhan langsung dengan masalah imannya sebagai Muslim.

Wili Putra, salah satu keluarga Jahidin mengatakan, mereka sudah membicarakan masalah ini dengan Jahidin serta membahas agar di kemudian hari polemik seperti saat ini tidak terulang kembali. (ARL/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini