Yoseph Leribun, Pemuda Asal Mabar Terpilih Jadi Finalis Duta Petani Muda 2016

0
1684
Yoseph Leribun di depan kandang ternak miliknya di Tanah Dereng (Foto: Ist)

Floresa.co – Yoseph Leribun, petani muda asal Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk nominasi 10 besar calon duta petani muda tahun ini.

Bersama 9 orang lainnya yang terpilih dari 514 peserta yang mendaftarkan diri, Yoseph – yang kini aktif bekerja pada Yayasan Daya Pertiwi – akan mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan yang diberikan oleh lembaga penyelenggara ajang ini, antara lain Agriprofokus Indonesia, Oxfam, dan Koalisi Rakyat untuk kedaulatan Pangan (KRKP).

Adapun kriteria di balik penetapan itu, antara lain, umur, persistensi usaha, kemampuan mengekspresikan diri, motivasi, inovasi,  keramahaman lingkungan, upaya membuka lapangan kerja, sensitif gender dan pemanfaatan media sosial.

Yoseph terpilih karena usaha peternakan terintegrasi yang ia kembangkan sejak tahun 2015 di Tanah Ndereng, Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo, sekitar 30 menit dari kota Labuan Bajo, ibukota Mabar.

Selama ini, di tempat yang ia biasa sebut “Kampung Ternak” itu,  ia mengembangkan peternakan ayam pedaging, babi dan lele.

Selain itu, ia menjadikan tempat itu sebagai pusat belajar pengelolahan limbah ternak menjadi pupuk bokasi, membuat nutria herbal, daur ulang kotoran hewan menjadi pakan, hingga soal manajemen beternak.

Peluang Agro Bisnis

Mengawali usahanya pada tahun 2013, alumnus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta ini merasa termotivasi oleh potensi pariwisata yang berkembang di Mabar.

Menurutnya, seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata, permintaan terhadap sektor pertanian dan peternakan juga semakin meningkat.

Karena itu, sebagai anak petani, lanjutnya, ia tidak ingin peluang ini terlewatkan apalagi melihat kondisi alam di Manggarai Barat yang tergolong subur dan masih luas. Dan kerinduannya yang paling besar, ia menginginkan semua petani menyadari peluang yang sama.

“Saya selalu bertanya, mampukah kita merebut peluang agrobisnis yang menjanjikan ini?”

Baginya, jika kesempatan demikian tidak dimanfaatkan,  para pemilik modal justru yang akan mengambilalih peluang tersebut. Para petani lantas hanya menjadi penonton dan membiarkan diri dikuasai para investor sebagaimana yang sering terjadi selama ini.

“Jangan tutup mata. Mari kita rebut peluang ini sebelum pemodal menjajah kita” imbuhnya

Sejak saat itu, terpikirkan olehnya untuk mengembangkan usaha peternakan bersama. Menurutnya, petani selalu bekerja keras, namun seringkali kekurangan modal. Yang perlu dilakukannya adalah membantu dari segi modal.

Modal Bersama

Lalu pada mulanya, ia mengusahakan ternak lele, ayam, dan babi sambil menyediakan modal untuk pembelian bibit ternak bagi petani yang lain. Semula ia bekerja sama dengan 8 petani yang tersebar di kampung yang berbeda.

Dari kerja sama itu, petani mitra menyediakan kadang, mengusahakan pemeliharaan, dan menjual hasil. Hitungan hasilnya, dari memelihara sekitar 100 ekor ayam, seorang petani dapat memperoleh sekitar   800-satu juta per bulan.

Untuk mendorong motivasi petani mitra, Yoseph membuka peluang kepada petani lain untuk turut serta dalam menanamkan modal pengadaan bibit. Menurutnya, sistem modal bersama dapat mendorong rasa tanggung jawab bersama mengembangkan usaha peternakan ini.

“Petani kita sangat rajin dan melalui sistem modal bersama, mereka akan semakin bertanggung jawab. Yang penting, kita terangkan hitung-hitungan keuntungannya”.

Melalui upaya modal bersama,  ia melanjutkan, mitra petani juga tidak dipandang sebaga alat produksi semata. Dengan melibatkan mereka, rasa memiliki para petani sangat meningkat dan mereka diberikan keleluasaan untuk mengembangkan usahanya.

“Inilah yang membuat sistem awet. Dan diterima dengan baik oleh para petani yang tinggal di daerah yang subur namun terhambat dari segi modal.”

Kampung Ternak

Menurutnya, sejak diterapkan pada tahun 2013, sistem modal bersama ini tergolong berhasil. Pada pertengahan tahun 2014, ia sudah menjalin kerja sama dengan 27 petani yang tersebar di 18 kampung. Menariknya, di antara petani mitra itu, terdapat beberapa petani muda.

“Kepada petani muda, saya biasanya bertukar pikiran soal potensi dari agrobinis ini. Saya bilang bertani itu keren. Bukan pekerjaan orang yang tak sekolah.” jelasnya.

Seiring dengan kenyataan itu, pada tahun yang sama, ia mulai bereksperimen. Di antaranya, mencoba pakan alternatif yang diusahakan dari kotoran ternak.

“Belajar dari tempat lain, kami mencoba kotoran ayam menjadi pakan babi dan pakan ikan lele. Ternyata berhasil” katanya.

Dari pengalaman itu, ia merasa perlu membangunkan sentra peternakan. Pada tahun 2015 ia memembangun “kampung ternak”. Di tempat itu, selain mengembangkan usaha, ia ingin belajar bersama dengan mitra petani, bertukar informasi, hingga melakukan eksprimen bersama. Lalu di atas tanah seluas 3000 m2, ia membangunkan beberapa kandang ternak babi dan ayam, dan kolam ikan lele.

“Sebagai kelanjutan dari sistem modal bersama, dana yang saya kelolah di Kampung ternak, sebagiannya merupakan dana yang diinvestasikan mitra petani. Dengan begitu, mereka juga dibebankan tanggung jawab dari pemeliharaan dan hingga penjualan” katanya.

Selain itu, tujuan utama dari kampung ternak adalah tempat belajar bersama para petani. Di sana, biasanya diadakan pelatihan, eksperimen bersama, bahkan diadakan kelas managemen pengelolahan hasil ternak. Di antaranya, pengelolahan kotoran babi menjadi bokasi untuk usaha sayur-sayuran.

“Saya mengajak teman – teman muda, kita belum terlambat untuk melirik sektor pertanian dan peternakan sebagai sebuah peluang potensial untuk masa depan kita,” ajaknya.

“Tanggalkan mindset, beternak dan bertani sebagai pekerjaan orang di kampung, orang yang hanya tamat SD atau sebagai pilihan ketika tidak meiliki pilihan lagi.  Bertani itu keren, bertani itu kekinian, tinggal bagaimana anda berkreasi dengannya.” (Gregorius Afioma/Floresmuda.com)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini