Penjelasan Kepala Puskesmas Borong Soal Bayi yang Dirujuk ke RSUD Ruteng dan Meninggal

0
520
Kepala Puskesmas Borong, dr.Maria Yohanesta Sarnis (Foto: Pos Kupang)

Borong, Floresa.co – Kepala Puskesmas Borong, Manggarai Timur, dokter Maria Yohanesta Sarnis akhirnya menjelaskan kronologi singkat penanganan bayi asal Golo Lada, Borong yang lahir di Puskesmas Borong pada Selasa 18 Oktober 2016 lalu dan meninggal setelah dirujuk ke RSUD dokter Ben Mboi Ruteng pada Jumat 21 Oktober.

Pihak keluarga bayi tersebut menduga kematian sang bayi disebabkan karena adanya kelalaian petugas Puskesmas Borong. Kelalaian tersebut antara lain petugas terlambat mendeteksi adanya tanda-tanda bahaya pada bayi dan mencabut oksigen saat sang bayi diberangkatkan ke RSUD Ruteng.

Kepada wartawan di ruang kerjanya, Sabtu 29 Oktober 2016 siang, dokter Maria Yohanesta Sarnis mengatakan Puskesmas Borong sudah berusaha semaksimal mungkin menangani persalinan hingga menyelamatkan bayi dan ibunya.

“Apa yang dilakukan Puskesmas sudah sesuai prosedur,” ujarnya.

Ia menjelaskan ibu sang bayi masuk Puskesmas pada Selasa 18 Oktober pukul 08.35 Wita. Petugas pun melakukan observasi dengan baik.

(Baca: Terungkap Alasan Puskesmas Borong Rujuk Bayi ke RSUD Ruteng dan Akhirnya Meninggal)

Ia tidak menjelaskan secara detail rekam medik pasien tersebut karena alasan etik. Namun pada intinya, saat itu pasien dalam fase aktif persalinan. Kondisi detak jantung ibu dan bayi dalam kandungan dalam kondisi normal.

Tak lama kemudian, pukul 09.40 Wita, si ibu pun melahirkan sang bayi secara normal. Sang bayi dalam keadaan baik. Selanjutnya dilakukan perawatan dan observasi seperti biasa terhadap ibu dan bayi.

“Selama diobservasi itu kondisi dalam batas normal, ibunya baik bayinya juga baik,” jelas dokter Maria.

Namun pada pukul 21.05 Wita, pasca pergantian petugas jaga dari shift sore ke petugas shift malam, petugas yang mengontrol kondisi bayi menemukan adanya tanda-tanda kebiruan. Petugas pun menangani sang bayi sesuai prosedur. Tanpa menjelaskan secara detail upaya penanganan tersebut, ia menyebutkan beberapa di antaranya seperti mengukur saturasi oksegen dalam darah dan memasang oksigen.

Ada pun oksigen dalam darah sang bayi saat itu berkisar antara 68% sampai 70%. Dokter jaga pun memutuskan untuk memasang oksigen. Namun setelah 30 menit sampai satu jam kemudian, kondisi bayi tidak mengalami perubahan. Oksigen hanya bertahan di 70%. Sehingga dokter jaga menganjurkan kepada keluarga agar bayi itu dirujuk.

Dokter Maria menolak menyebutkan catatan medik terkait penyakit yang diderita sang bayi. Ia mengatakan hal tersebut merupakan privasi pihak keluarga pasien yang harus dirahasiakan.

Selanjutnya, atas persetujuan kekuarga, sang bayi dirujuk ke RSUD Ruteng pukul 22.50 Wita. Saat diberangkatkan ke RSUD Ruteng, ia mengakui bahwa oksigen dicabut. Dalam perjalanan menuju RSUD Ruteng, sang bayi tidak lagi mendapat asupan oksigen.

Keputusan mencabut oksigen, jelasnya, disebabkan karena persediaan oksigen di Puskesmas Borong menipis. Sementara banyak pasien lain yang membutuhkan oksigen tersebut. Apalagi pemasangan oksigen pada bayi tersebut tidak membuat kondisinya membaik.

“Tidak pakai oksigen waktu itu karena memang persediaan oksigen waktu itu sedikit. Habis gitu. Dan kalau pun pakai oksigen, dia punya rasio oksigen tetap sama. Tidak membuat kondisi bayi membaik” tegas dokter Sarnis.

Ia menambahkan, persediaan oksigen di Puskesmas Borong tahun ini tidak sebanding dengan kebutuhan pasien. Persediaan oksigen tahun ini memang sama dengan persrdiaan tahun lalu. Namun oksigen tahun lalu tidak terpakai habis hingga akhir tahun. Sementara tahun ini hampir habis meskipun tahun anggaran belum berakhir.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, salah seorang keluarga sang bayi, Servantinus Mammilianus mengaku kecewa dengan pelayanan Puskesmas Borong. Ia menduga kematian bayi disebabkan karena kelalaian petugas Puskesmas Borong.

“Kami menduga ada kelalaian pihak petugas Puskesmas Borong sehingga menyebabkan anak kami meninggal,” ujar Servantinus Mammilianus kepada Wartawan.

Kelalaian tersebut antara lain petugas terlambat mendeteksi adanya tanda-tanda bahaya pada bayi dan mencabut oksigen saat sang bayi diberangkatkan ke RSUD Ruteng. Namun keluarga sang bayi berharap, pihak Puskesmas Borong belajar banyak dari kasus kematian bayi tersebut.

“Kami tidak mau ada lagi keluarga lain yang kehilangan anaknya karena meninggal dunia akibat kelalaian oknum petugas medis. Duka ini cukup kami saja yang alami dan cukup sampai saat ini saja. Jangan ada lagi peristiwa yang serupa. Kami minta manajemen Puskesmas untuk segera berbenah diri agar lebih baik,” ujar Servan. (Ronald Tarsan/Floresa).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini