Pembangunan Gapura di Katedral Lama Ruteng Didanai APBD Manggarai

0
1281
Katedral Lama Ruteng (Foto: http://baltyra.com)

Floresa.co – Pembangunan gapura di depan Katedral Lama di Ruteng, Kabupaten Manggarai cukup ramai didiskusikan di media sosial Facebook. 

Pantauan Floresa.co, sejumlah kritikan bermunculan, karena keberadaan gapura itu dianggap menganggu keindahan gereja yang dibangun tahun 1929-1939 itu.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Wens Sene mengatakan, pembangunan gapura itu didanai oleh APBD Kabupaten Manggarai tahun 2016, dengan total anggaran sebanyak Rp 80 juta.

“Itu (proyek) Pemda punya. Setelah dibahas bersama DPRD maka dibangun di situ,” ujar Wens kepada Floresa.co, Rabu 26 Oktober 2016.

Ia mengatakan, pembangunan gapura itu didanai APBD melalui Dinas Pariwisata karena Gereja Katedral Lama sudah masuk dalam objek wisata daerah.

Wens mengaku tidak hafal nama kontraktor yang membangun gapura itu, karena, kata dia, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut dari Dinas Pekerjaan Umum.

Pembangunan gapura di depan Katedral Lama Ruteng (Foto: Facebook Gabriel Mahal)
Pembangunan gapura di depan Katedral Lama Ruteng (Foto: Facebook Gabriel Mahal)

Terkait protes dari sejumlah kalangan yang disuarakan melalui Facebook, Wens mengatakan, pembangunan gapura itu sudah melalui pembahasan dengan pihak pengelola Katedral Lama yaitu Romo Ompi Latu Pr.

Wens mengatakan, dirinya sudah diberi tahu Romo Ompi melalui SMS terkait penolakan sejumlah pengguna media sosial itu.

“Sebelum dibangun kan kita bahas dulu di eksekutif, terus di DPRD, kemudian kita konsultasi dengan Romo Ompi. Karena oke, ya dibangun. Kalau tidak oke, kita pasti ke tempat lain,” ujarnya.

Menurut Wens, pembangunan gapura itu tidak mengurangi keindahan pemandangan Katedral Lama ini. “Apanya yang menganggu? Nanti kalau ada gapura kan tambah gagah itu,” ujarnya.

Romo Ompi Latu yang dihubungi melalui telepon tidak merespon. Ketika dikirim pesan singkat ia mengatakan tidak bisa menerangkan melalui telepon.

“Saya tidak bisa menjawab via telepon. Nanti kalau saya sempat, bisa datang,”ujarnya.

Sementara itu, Uskup Ruteng, Mgr Hubert Leteng mengaku sudah mengetahui adanya penolakan di media sosial itu. Ia mengaku diberi tahu oleh Romo Ompi melalui layanan SMS.

“Saya kira Romo Ompi membangun itu bukan sendirian kan. Pasti ada pertimbangan-pertimbangan toh….Mungkin dari segi estetis kah, dari segi apa lagi yang lain. Pasti melalui pertimbangan-pertimbangan yang matanglah,” ujar Mgr Hubert yang dihubungi melalui telepon oleh Floresa.co.

Mgr Hubert mengatakan “memang pasti tidak semua orang puas.”

“Tidak mungkinlah. Apa pun yang kita lakukan tidak mungkin memuaskan semua.”

Menurut Mgr Hubert, berdasarkan komunikasinya dengan Romo Ompi, pembangunan gapura itu tidak menghalangi untuk melihat bagian yang estetis dari gereja itu.

“Mungkin ada yang tidak bisa membaca gambar. Lalu, anggaplah itu sudah seakan-akan menghalangi, memperburuk pemandangan. Itu yang harus dikomunikasikan dengan Romo Ompi sendiri, tidak langsung membuat komentar-komentar di Facebook. Itu yang selalu menjadi kelemahan media sosial, tidak mengkonfirmasi langsung dengan orangnya, tetapi langsung buat berita dan sebarkan,” ujarnya.

Menurut Mgr Hubert, selain tidak mengganggu pemandangan, menurut keterangan Romo Ompi kepadanya, salah satu alasan pembangunan gapura itu adalah karena di halaman depan katedral itu sering menjadi tempat mabuk-mabukan.

“Kalau tidak dibuat seperti itu orang mabuk-mabukan, buat kaco di depan itu, minum-minum,” katanya.

Untuk menghindari hal demikian, kata dia, termasuk salah satu alasan pembangunan gapura itu. (Pet/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini