Maria Susanti Isabela Medi (kiri). (Foto: dok.)

Floresa.co – Hadir sebagai satu-satunya wakil dari Kabupaten Manggarai dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX di Bandung, Jawa Barat, Maria Susanti Isabela Madi (18) mampu menyumbangkan prestasi istimewa: meraih medali emas.

Santy, demikian ia disapa, merupakan atlet cabang bela diri kempo.

Ia berhak berdiri di podium dan dikalungi medali setelah pada partai final, 28 September sukses mengalahkan atlet dari Provinsi Sulawesi Tengah.

Diwawancarai Floresa.co, Kamis, 29 September 2016, gadis kelahiran 23 september 1997 mengatakan, apa yang ia capai “semua berkat doa dan kerja keras.”

Ia mengaku, sebelumnya tidak menyangka bisa meraih medali emas.

“Tapi, karena tekad dan semangat yang begitu besar, saya mendapatkan medali ini,” katanya.

Buah Ketekunan

Prestasi Santy, ia akui lahir dari keteguhan komitmennya, semenjak memutuskan untuk menekuni bela diri kempo.

Proses untuk bisa mengecap rasa menjadi pemenang, katanya, melewati proses yang panjang.

Santy pertama kali berkenalan dengan kempo pada waktu kelas 1 SMP. Kala itu, ia mendapat tawaran dari kakak kelasnya.

Ia mengaku, awalnya tak terlalu berminat. Namun, suatu ketika, ia memutuskan untuk coba ikut latihan.

Dan, ternyata, lama-kelamaan setelah rutin berlatih, ia jatuh cinta pada olahraga ini.

Setelah cukup sering berlatih, Santy pun mulai ikut dalam sejumlah pertandingan.

Dan, salah satu titik penting dari karirnya adalah ketika pada tahun 2011, ia meraih juara III lomba di tingkat Provinsi NTT.

Prestasi itu membuat semangatnya kian bertambah. Ia mendapat motivasi lebih untuk meningkatkan kemampuannya.

Hasilnya, pada 2014, ia memenangi kejuaraan Pekan Olahraga Propinsi (PORPROV) yang berlangsung di Kupang.

Prestasi itu membuat ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi pra-PON di Kupang.

Dan, lagi-lagi Santy menuai kesuksesan. Dari 9 orang yang mengikuti seleksi, 4 dinyatakan lolos, termasuk dirinya.

Setelahnya, pada Juni-Oktober 2015 ia mengikuti latihan di Training Center (TC) Kupang.

Pada tanggal 4-5 oktober 2015, Santy mengikuti pra-PON di Bandung dan berhasil meraih medali perunggu.

Pra-PON ini juga untuk menjadi ajang seleksi peserta yang akan mengikuti PON XIX.

Untuk cabang bela diri kempo, hanya 10 peserta yang lolos untuk mengikuti PON, salah satunya Santy.

Setelah mengikuti pra-PON di Bandung, ia kembali ke Manggarai dan menuntaskan sekolah di SMA Negeri I Ruteng.

Usai Ujian Nasional (UN) pada April 2016, ia ke Kupang untuk mengikuti latihan.

“Selama masa latihan, mental kami benar-benar diuji, diajarkan untuk hidup disiplin dan bekerja keras,” katanya. “Saya sangat bersyukur karena ada banyak nilai yang saya dapat selama latihan,” lanjutnya.

Pertarungan Ketat

Hari yang ditunggu-tunggu Santy tiba, ketika pada 17 September lalu, ia berada di Bandung, untuk menjalani rangkaian turnamen.

Untuk cabang bela diri kempo, ada 2 jenis perlombaan, yakni randori dan enbu.

Randori merupakan model pertarungan gaya bebas, sementara enbu merupakan model pertarungan dengan menggunakan jurus.

Santy pun memilih model pertarugan gaya bebas.

Dari 10 peserta di cabang ini, mereka dibagi dalam 2 grub, dan tiap grub terdiri dari 5 peserta.

Yang berhasil meraih peringkat pertama dan kedua dari masing-masing grub akan maju di babak semifinal.

Pada pertandingan pertama yang berlangsung pada 25 September, Santy sempat kecewa karena menelan kekalahan saat berhadapan dengan peserta dari Sulawesi Selatan.

“Saya sempat putus asa. Namun, karena tekad yang kuat dan motivasi dari pelatih, saya tetap semangat,” katanya.

Dan, keteguhan hatinya membuahkan hasil. Pada pertandingan hari kedua dan ketiga, 26-27 september, dia memenangi pertandingan.

Prestasi itu ia pertahankan, hingga menyudahi partai final dengan kemenangan.

Santy pun berhasil menyumbangkan satu dari 7 emas yang didapat NTT pada PON tahun ini.

Maria Susanti Isabela Medi usai menerima medali emas. (Foto: dok.)
Maria Susanti Isabela Medi usai menerima medali emas. (Foto: dok.)

Prestasi Santy mendapat apresiasi dari banyak pihak. Di media sosial Facebook, misalnya, banyak pemilik akun yang menyampaikan proficiat untuknya. Foto Santy saat mendapat medali cukup viral di Facebook.

Meski bangga dengan prestasi Santy, namun, salah satu kakak kandungnya, Yohanes Nestor Madi, mengatakan, apa yang dicapai Santy bukan sebuah kejutan.

“Saya tidak heran dengan prestasi yang ia capai,” katanya. “Itu semua hasil dari kerja kerasnya.”

Ia pun berharap, adiknya itu tetap rendah hati. “Dan, lebih baik lagi dalam berprestasi, agar bisa mengarumkan nama bangsa khususnya Manggarai.”

Dari pemerintah saat ini, apresiasi terhadap prestasi Santi dijanjikan dalam bentuk beasiswa kuliah di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, 1 buah rumah, dan bonus uang Rp 150 juta.

Ingin Terus Berjuang

Usai mengukir prestasi di PON, apa target Santy ke depan? Jawabannya simple, “berusaha mempertahankan gelar dan menorehkan prestasi baru untuk PON kali berikut.”

Kepada generasi muda NTT dan Manggarai khususnya, ia menitipkan pesan untuk berdoa, bekerja dan memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri sebaik-baiknya.

“Kekuatan saya yang paling utama adalah berdoa, berserah sepenuhnya kepada Tuhan,” katanya. “Dengan begitu, segala tantangan yang ada pasti akan kita lewati.”

Ia mengakui, dirinya berasal dari keluarga yang bisa dibilang kurang mampu. “Tapi itu tidak menjadi alasan bagi saya untuk tidak berusaha meraih cita-cita saya,” katanya.

Ia mengatakan, penting bagi generasi muda untuk manfaatkan potensi yang ada di dalam diri dan mengikuti kegiatan apa saja yang membuat talenta bisa berkembang.

“Jangan hanya menghabiskan waktu dengan hal-hal yang negatif, harus punya semangat untuk berjuang.” (Laporan Berto Nasa/ARL/Floresa)