Mart Sakeus, pendiri Lontart Galery Nggorang, penggagas Labuan Bajo Art Festival 2016 (foto: Dede Walter/Floresmuda.com)

Floresa.co – Perhelatan Labuan Bajo Art Festival (LBAF) 2016 sudah usai. Acara puncak yang berlangsung pada tanggal 08-10 September lalu di lapangan SMAK St Ignasius Loyola Labuan Bajo berlangsung sukses dan meriah.

Festival seni yang mulanya digagas oleh seniman yang juga pendiri galeri seni ‘Lontart Galery’ Nggorang, Mart Sakeus, dan dikeroyok secara bersama-sama oleh orang muda lintas komunitas di Labuan Bajo ini bukan saja menuai sukses sebagai sebuah ruang jumpa untuk segenap warga kota tetapi juga sukses sebagai sebuah kampanye penggandaan semangat untuk perubahan dan merawat keragaman.

Sejak bulan April silam, Labuan Bajo Art Festival 2016 mulai bergema. Dengan tema ‘Levitasi’, festival seni yang digagas di bawah semangat orang muda, seni, dan perubahan ini mulai dengan serangkaian kegiatan kecil. Mulai dari kelas melukis bersama Lontart Galery hingga mural di tembok sekolah SMAK St Ignasius Loyola Labuan Bajo.

Kelas melukis bersama Lontart Galery digelar di beberapa tempat sekitar Labuan Bajo seperti Pantai Pede, Bukit Cinta, dan Kampung Cecer. Kegiatan kelas melukis bersama ini digelar setiap hari Minggu tiap pekan.

Lalu pada tanggal 16 Mei, digelar soft opening. Sebuah acara seremonial sebagai tanda bahwa perhelatan Labuan Bajo Art Festival 2016 resmi dimulai. Berlangsung di Lapangan SMAK St Iganasius Loyola Labuan Bajo, soft opening berjalan sukses dan meriah.

Selain penampilan dari beberapa pengisi acara, acara pembukaan kala itu juga dihiasi oleh instalasi ‘Levitasi’ karya seniman Mart Sakeus yang ditanam di tengah lapangan depan panggung.

Tanggal 25-31 Agustus berlangsung pameran karya beberapa seniman muda Labuan Bajo dan seniman muda Yogyakarta di salah satu Kafe di Labuan Bajo. Juga digelar workshop seni rupa bersama seniman muda Yogyakarta, Hasan Agus, di Rumah Kreasi Baku Peduli.

Tanggal 08-10 September adalah acara puncak yang membungkus keseluruhan rangkaian festival seni ‘Levitasi’ ini.

Melibatkan Banyak Komunitas

Sejak acara pembukaan pada bulan Mei silam hingga acara puncak yang baru saja usai, 08-10/09, Labuan Bajo Art Festival 2016 melibatkan banyak komunitas seni dan orang muda. Sebagai sebuah perayaan seni yang digagas dan digerakkan secara independen, festival ini kemudian meniscayakan begitu banyak komunitas seni dan orang muda turut mengambil bagian.

Di jajaran kepanitiaan misalnya. Selain Lontart Galery juga ada GoS Band, Rumah Kreasi Baku Peduli, Bolo Lobo, Chomabee Cewo Graphic, Komunitas Unusually, Komunitas Sastra Kanvas, Komunitas Film Mata Rantai, dan beberapa anak muda Labuan Bajo lainnya yang memilikiconcern yang sama dengan tujuan Labuan Bajo Art Festival.

Di daftar pengisi acara, baik pada saat acara pembukaan maupun pada saat acara puncak, belasan komunitas seni dan orang muda terlibat secara sukarela. Mereka memeriahkan acara malam LBAF dan membuatnya meriah dan sukses.

Yang membuatnya menarik adalah para pengisi acara bukan hanya datang dari komunitas seni dan orang muda Labuan Bajo tetapi juga komunitas seni dan orang muda dari beberapa daerah seperti Ruteng, Ende, Kupang, Yogyakarta, dan Makassar.

Khusus pada acara puncak, selain pementasan malam hari di Lapangan SMAK St Ignasius Loyola Labuan Bajo, juga digelar kelas berbagi di sekolah-sekolah di pagi harinya.

Romo Amanche Frank OE Ninu dari komunitas sastra Dusun Flobamora Kupang berbagi pengetahuan tentang Sastra dan Seni di SMPN 2 Komodo dan SMAN 2 Komodo. Abdy Keraf dan Ragil Sukriwul dari Coloteme Arts Movement Kupang berbagi pengetahuan tentang teater dan monolog di SMAN 2 Komodo. Demikian juga dengan penari Margaret Nona Djokaho dan Rezty Nona yang juga dari Kupang yang berbagi pengetahuan dan memberikan workshop tarian singkat di SMAN 2 Komodo, Nggorang.

Semangat untuk Perubahan dan Keragaman

Sebagaimana kegiatan seni yang sudah sering digelar oleh komunitas orang muda Labuan Bajo sebelumnya, LBAF 2016 selain merayakan seni dan kreativitas juga membawa serta pesan-pesan perubahan dan keragaman. Semangat untuk perubahan, selain terbaca melalui tema ‘Levitasi’, yang diterjemahkan sebagai gerakan kontra hegemoni ala orang muda, semangat untuk perubahan itu juga terbaca jelas melalui pesan-pesan visual yang ditulis dalam poster-poster kampanye di sekitar panggung LBAF.

Ada beberapa isu sosial lingkungan yang menjadi concern LBAF. Diantaranya adalah krisis air di Labuan Bajo, pencaplokan sumber daya publik, keragaman, narkoba, dan pariwisata.

Selain melalui poster-poster, pesan untuk perubahan itu juga terbaca melalui karya instalasi yang dipasang di tengah lapangan LBAF. Ada instalasi ‘X’ karya seniman Mart Sakeus. Ada instalasi ‘silang selang’ karya Kris Bheda Somerpes sebagai bentuk protes akan ‘krisis air’ yang menimpa Labuan Bajo juga ada instalasi ‘sisa kejayaan’ karya Yusuf Muthalib sebagai sebuah refleksi akan perubahan yang terlampau cepat di Labuan Bajo hari ini.

Bahwa yang tersisa hari ini hanyalah kenangan dan romantisme cerita-cerita masa lalu. Labuan Bajo telah berkembang melampaui apa yang kebanyakan orang pikirkan.

Baca selengkapnya di Floresamuda.com, “Labuan Bajo Art Festival 2016: Orang Muda, Seni, Perubahan, dan Keragaman