Ilustrasi

Ruteng, Floresa.co – Diduga ada penggelembungan dalam pembangunan jembatan Wae Kembang di desa Satar Tesem, Kecamatan Pocoranaka, Manggarai Timur (Matim)-Flores, NTT. Proyek senilai Rp 700 juta dari dana desa itu dikerjakan CV Yoma.

Sebastian Ngkahar,warga Moncok, desa Satar Tesem kepada Floresa.co mengatakan kuat dugaan pelaksanaan proyek ini mengabaikan prinsip penghematan belanja keuangan negara dan berpotensi merugikan keuangan negara.

Pasalnya, menurut dia, ada dugaan mark up atau penggelembungan pada volume sejumlah material antara lain pasir,batu,bahan timbunan,besi,pasir beton dan kayu peranca.

“Kalau berdasarkan hitungan secara teknis abodemen dan plat jembatan hanya menghabiskan sekitar plus minus 49 kubik material batu,pasir,semen dengan ukuran jembatan 6 x 6 meter dengan ketinggian 2 meter” ujar Bastian kepada Floresa.co di Ruteng 12 September 2016.

Sebastian mengungkapkan, sejak awal proses pelelangan hingga dimenangkan oleh CV. Yoma ditemukan adanya indikasi rekayasa, dengan menaikkan volume dengan tujuan menghabiskan seluruh anggaran dana desa itu dalam satu proyek saja.

“Hal itu terlihat jelas besaran volume yang tertera dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dibandingkan besaran fisik jembatan itu”, tandasnya.

Ia menduga ada konspirasi antara Kepala Desa Satar Tesem, Hendrikus Bagung dengan Konsultan Perencana, Fransiskus Saverius Rogot dalam menggelembungkan besaran volume proyek pembangunan jembatan Wae Kembung di desa Satar Tesem itu.

“Saya menduga ada konspirasi antara kepala desa Satar Tesem dengan konsultan perencana dalam mark up besaran volume proyek itu” katanya.

Tak hanya itu, ia juga menduga pemenang tender proyek itu adalah kerabat dekat dari kepala desa Satar Tesem Hendrikus Bagung.

“Pemenang tender proyek ini juga adalah kerabat dekat kepala desa. Jelas sekali nuansa nepotismenya” tutur Bastian.

“Nomenklatur proyek itu pun dipertanyakan, karena yang dibangun adalah sebuah deker bukan jembatan” tegasnya.

Menurut Sebastian, perkiraannya penyerapan anggaran proyek tersebut hanya Rp 300 juta untuk material dan harian orang kerja (HOK).

“Sementara pagu anggaran yang disampaikan oleh Kades dan konsultan untuk pengadaan material saja senilai 420 juta, itu belum termasuk harian orang kerja (HOK)”,ujarnya.

Ia berharap kepada dinas PU kabupaten Manggarai Timur untuk melakukan pengecekan lapangan proyek senilai Rp 700 juta itu.

Terpisah, Kades Satar Tesem, Hendrikus Bagung mengatakan kepala desa tidak memiliki kapasitas dalam menentukan harga sejumlah material.

“Kita bekerja sesuai mekanisme yang berlaku, semua harga material yang memberikan penafsiran dan perkiraan adalah konsultan perencana. Jelas-jelas nilai yang sudah tertera dalam RAB ditafsirkan sesuai dengan volume” ujar Bagung kepada Floresa.co Rabu, 14 September 2016 siang.

Ia juga menampiknya adanya nepotisme dalam penentuan kontraktor pelaksana.

“Agar lebih jelas, bapa bisa lansung datang ke desa Satar Tesem saja. Semua proses tender sesuai mekanisme”, ujarnya.

“Proyek tersebut diusul oleh masyarakat bukan usulan saya,”tambahnya.

Konsultan perencana proyek jembatan Wae Kembung, Fransiskus Rogot mengataka proyek itu telah melalui asistensi di dinas PU Manggarai Timur.

“Saya sudah pergi asistensi di dinas PU tetapi belum ada hasil pemeriksaan lengkap terkait dengan RAB. Bahkan RAB proyek itu masih di dinas PU” ujarnya melalui sambungan telepon Rabu, 14 September 2016.

Ia menambahkan, penentuan harga satuan material itu berdasarkan analisa bina marga. Ia pun membantah terkait dugaan permainan nomenklatur proyek itu.

“Siapa bilang itu bukan jembatan. Atas dasar apa bahwa itu bukan jembatan. Ukuran tidak bisa dijadikan dasar untuk menentukan jembatan atau deker besar. Dikatakan jembatan kalau ada balok, lantai dan plat. Bukan lihat ukurannya” tegas Rogot.

Sekretaris Dinas PU Manggarai Timur Yos Marto mengatakan Dinas PU Manggarai Timur memiliki tim asistensi. Dan konsultan perencana ditentukan oleh masing-masing desa selaku pengguna anggaran.

“Kami di Dinas PU punya tim asistensi untuk menentukan harga standar material lokalnya seperti apa, tentunya sesuai dengan syarat-syarat teknis” ujarnya kepada Floresa.co melalui sambungan telepon Rabu, 14 September 2016 sore.

Terkait nomenklatur, Marto mengatakan untuk ukuran 6×6 meter disebut deker besar.
“Kalau ukuran 6 x 6 itu nomenklaturnya deker besar. Kami pernah buat dan penyerapan anggarannya sekitar 200 juta saja,”tandasnya.

Ia menambahkan, proyek jembatan senilai Rp 700 juta itu belum dilakukan asistensi ke Dinas Pekerjaan Umum (PU) Manggarai Timur.

“Proyek itu belum diasistensi, jangan – jangan mereka langsung kerja itu” pungkasnya. (Ronald Tarsan/Floresa).