Pintu utama menuju Pantai Pede yang sudah ditutup oleh PT Sarana Investama Manggabar pada Selasa, 13 September 2016. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Meski hingga kini belum mendapat izin untuk mendirikan hotel dan restoran di Pantai Pede, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), namun PT Sarana Investama Manggabar (PT SIM) sudah menutup akses ke pantai itu pada hari ini, Selasa, 13 September 2016.

Koce Janggat, Direktur PT SIM menegaskan, penutupan akses itu atas dasar perintahnya.

“Hari ini saya mulai perintahkan agar tutup pintu utama. Kita buka akses hanya melalui bagian utara,” ujar Koce melalui telepon seluler.

Ia mengakui, mereka memang belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB), di mana kata dia, mereka akan mendirikan hotel dan restoran.

Namun, ia mengklaim, izin itu akan segera terbit dalam wkatu dekat.

“Tadi kita sudah patok semua di lokasi pembangunan hotel dan restoran. IMB sudah mau kelar,” katanya.

Ia menjelaskan, di bagian utara lokasi itu, di mana aksesnya tidak ditutup, akan dibangun tempat untuk out bond.

Pantauan Floresa.co, di bagian utara itu yang berbatasan dengan pagar Hotel La Prima sudah dibuat toilet dan kamar mandi.

Sementara itu, sejumlah pohon besar sudah dibabat. Sebagian dari ranting-rangting pohon itu sudah dibakar. Ada juga yang ditempatkan di dekat tenda para tukang.

Di bagian selatan, yang berbatasan dengan Hotel New Bajo kini sudah dipagar dengan tembok setinggi sekitar 3 meter.

Lahan di bagian ini juga sudah dipatok dengan kayu.

Warga Dilarang Masuk

Dengan ditutupnya pintu utama ke Pantai Pede, warga dan pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di area itu kini kesulitan mengakses wilayah pantai.

“Tadi, tukang melarang kami berjualan di dalam. Hanya boleh menjual di sisi utara pantai ini,” ujar salah satu PKL yang ditemui di lokasi.

Pantai Pede yang biasa dikunjungi warga untuk rekreasi kini sudah sepi. Warga terpaksa hanya duduk di bagian utara.

Di lokasi, terdapat mobil patroli Polres Mabar. Tiga anggota polisi berdiri bersama masyarakat yang masih rekreasi. Mereka mengenakan seragam lengkap dan memegang senjata laras panjang.

Mobil patroli milik Polres Mabar diparkir di Pantai Pede. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)
Mobil patroli milik Polres Mabar diparkir di Pantai Pede. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Upaya pembangunan hotel oleh PT SIM berjalan di tengah suara protes elemen masyarakat yang menuntut agar Pantai Pede tidak diserahkan ke pihak swasta untuk pembangunan hotel.

Mereka beralasan, ruang yang masih terbuka untuk diakses publik di daerah pesisir seperti Labuan Bajo, sudah tidak ada lagi, selain Pantai Pede.

Namun, PT SIM, yang sudah mendapat restu dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) – pihak yang mengklaim sebagai pemilik pantai itu – tetap ngotot.

Elemen sipil, termasuk Gereja Katolik, sudah melakukan berbagai upaya, di antaranya aksi unjuk rasa, Misa di Pantai Pede, serta mendatangi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) di Jakarta.

Perjuangan mereka menghadapi tantangan yang tidak ringan, mengingat Gubernur Frans Lebu Raya dan Bupati Mabar, Agustinus Ch Dula sepakat menyerahkan lokasi itu ke PT SIM, perusahan yang disebut-sebut milik Setya Novanto, Ketua Umum Partai Golkar saat ini. (Ferdinand Ambo/ARL/Floresa)

Ralat: Berita ini telah diedit pada Selasa, 13 September 2016 pukul 11.08 WIB, setelah Floresa.co melakukan kesalahan fatal terkait penulisan nama Direktur PT SIM. Sebelumnya tertulis, Yance Janggat. Padahal, seharusnya Koce Janggat. Kami dari redaki Floresa.co memohon maaf atas hal ini, terutama kepada Yance Janggat. Terima kasih