Musisi Ivan Nestorman saat menyanyikan Lagu Mama Lekas Pulang dalam konser di Jakarta, Minggu 4 September 2016 sebagai bagian dari kampanye publik menolak human trafficking. (Foto: dok)

Floresa.co – Sejumlah aktivis organisasi anti perdagangan orang atau human trafficking di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bergabung dalam Kelompok Kerja Menentang Perdagangan Manusia (Pokja MPM) dan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J-RUK) menggelar kampanye publik di Jakarta, Minggu, 4 September 2016.

Kampanye dalam bentuk konser itu menghadirkan musisi Ivan Nestorman, penyanyi kelahiran Manggarai bersama grupnya Nestornation.

Sekitar 300 orang hadir dalam acara yang digelar di Aula Margasiswa PMKRI Menteng itu.

Kampanye ini juga diisi dengan testimoi dari sejumlah tokoh yang dipandu oleh Koordinator Pokja MPM Jakarta, Gabriel Sola.

Beberapa yang menyampaikan pernyataan, termasuk politisi Partai Golkar, Melky Lakalena dan imam aktivis dari Keuskupan Agung Kupang, Romo Leo Mali.

“Mama Lekas Pulang”

Salah satu lagu yang dinyanyika Ivan dalam konser itu berjudul “Mama Lekas Pulang”, yang menurutnya, merupakan ajakan agar para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di luar negeri, baik yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, buruh perusahaan maupun maupun pekerjaan lain, bisa kembali ke tanah air.

“Siapa pun yang bekerja di luar negeri harus memastikan mendapat jaminan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Setidaknya memiliki dokumen dan identitas resmi, pendidikan yang cukup serta keterampilan yang teruji,” katanya.

“Bagi yang sudah terlanjur bekerja di luar negeri dengan dokumen palsu harus segera pulang. Jangan mau jadi korban di sana. Mari kembali ke negeri sendiri, kampung halaman dan rumah sendiri,” ajak Ivan.

Sinergi Mencari Solusi

Sementara itu Melky Laka Lena mengajak seluruh elemen dan berbagai pihak yang sungguh berjuang untuk kemanusiaan agar bersinergi dalam mencegah dan mencari solusi melalui kebijakan-kebijakan strategis  dari daerah hingga pusat.

“Persoalan selalu muncul dari hilir. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi sehingga orang harus mencari pekerjaan di luar. Faktor ekonomi, kebijakan, sumber daya dan juga (ketiadaan) lapangan pekerjaan,” kata Melky.

Ia menjelaskan, persoalan perdagangan manusia, khususnya di NTT sudah termasuk jenis kejahatan luar biasa, meski gaungnya tidak sekuat masalah korupsi dan narkoba.

Krisis Kemanusiaan

Sementara itu, Romo Leo Mali mengungkapkan keprihatinannya terhadap praktek penjualan manusia yang kian parah.

“Pemerintah sebagai representasi kehadiran negara, harus bertanggung jawab menjamin hak setiap warga negaranya agar tidak dijadikan objek yang gampang diperjualbelikan,” katanya.

Negara, menurut dia, hadir untuk mengemban amanat penderitaan rakyatnya bukan sebaliknya hanya diam dan tidak peduli pada nasib warga negaranya sendiri.

“Ironisnya, ketika TKI meninggal di luar negeri, tidak ada respon yang sangat manusiawi terhadap korban,” katanya.

Ia menyebut ini sebagai persoalan kemanusiaan yang serius.

“Banyak orang telah kehilangan nyawa. Lalu di mana solidaritas dan rasa kemanusiaan kita sebagai sesama anak bangsa? Setiap kita harus punya tanggung jawab moral tanpa memandang latar belakang perbedaan,” ungkap Romo Leo.

Terkait pendekatan kultural sebagai salah satu bentu kampanye anti-human trafficking, penggagas J-RUK NTT ini menilai, musik tidak hanya ekspresi seni tetapi mengandung pesan universal.

“Musik adalah jembatan universal yang dapat menyatukan semua orang dari segala latar belakang perbedaan,” katanya.

Ia mengajak semua pihak untuk menyalakan spirit kemanusiaan dalam menolong sesama anak bangsa.

“Terutama mereka yang memiliki keterbatasan dan sungguh membutuhkan sentuhan kasih dari kita semua,” tegasnya.

Perkuat Solidaritas

Guche Montero selaku ketua panitia acara tersebut mengatakan, NTT menjadi pintu masuk guna memperkuat solidaritas gerakan anti-human trafficking secara nasional sehingga ada kebijakan riil dari pemerintah pusat maupun daerah serta gerakan bersama setiap elemen dalam menyikapi persoalan ini yang sudah terjadi secara masif dan sistemik.

“Persoalan ini begitu kompleks karena melibatkan berbagai pihak dengan berbagai motif kepentingan di balik bisnis illegal tersebut,” katanya.

“Persoalan human trafficking sudah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan. Manusia justru diperlakukan sebagi komoditi bisnis yang legal,” katanya.

Bersama Pokja MPM dan J-RUK, kata Guche, mereka akan terus melakukan kampanye dengan pendekatan kultural agar setiap orang dengan masing-masing karakter budayanya, mampu memanusiakan sesamanya yang rentan menjadi korban perdagangan.

Salah satu bentuk kampanye  yakni dengan menggelar Opera Musical pada 10 Desember mendatang bertepatan dengan Hari HAM Internasional.

“Mari kita kembali kepada jati diri kita, mengharagai hak dan martabat sesama dan merawat jati diri bangsa ini. Semoga dukungan dan kepedulian kita menjadi spirit gerakan memberantas sindikat perdagangan manusia yang ada di sekitar kita,” tandas Guche. (ARL/Floresa)