Pastor Gregorius Jehanus SVD bersama umat yang ia layani. (Foto: Facebook Gerard Bibang)

Oleh: GERARD BIBANG

Tuhan memilihkan saat terbaik untuk memanggil kekasih-Nya, Pastor Gregoris Jehanus SVD.

Pada Rabu pagi, 17 Agustus 2016, di bawah cahaya mentari pagi, saat berjuta-juta saudara setanah airnya Indonesia bergegas merayakan Hari Kemerdekaan.

Pastorku itu telah pergi dengan gagah sebagaimana mottonya yang selalu ia dengungkan, “Gagah Dalam Sabda!”

Adalah SABDA telah Gorys – sapaannya – ikrarkan kekal sebagai kekasihnya.

Adalah SABDA, ia pergi pagi-pagi di tengah hutan belantara.

Adalah SABDA, ia telah mati bagi kebudayaannya sendiri di Mbeling, Manggarai Timur, Flores dan hidup untuk kebudayaaan lain: Papua New Guinea (PNG).

Adalah karena dan demi SADBA, hidupnya yang 54 tahun itu menjadi bukti misteri inkarnasi: mati bagi diri sendiri dan hidup untuk orang lain.

Teman kelasnya di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Paul Liwun SVD, misionaris angkatan ketiga yang bersamanya diutus ke PNG, menyatakan dengan nada setengah isak.

“Gorys tadi masih Misa pagi, habis itu ngobrol dengan umat di depan pastoran, tiba-tiba jatuh lalu pergi.Tuhan e..Kau ambil terlalu cepat!”

Adalah niscaya bagi seorang sahabat dekat yang berpuluh tahun berbagi suka duka dengannya di tanah misi. Cara kepergiannya seperti ini menyisakan sebuah duka manusiawi. Inikah keadilan Tuhan?

Gorys dipanggil Allah tidak berdasar akselerasi logis dari sakit demi sakit yang diderita: pikiran yang memberat, jantung bekerja terlalu keras, ginjal menanggung akibatnya, kemudian tiba-tiba demam berdarah menelusup ke darahnya dan menganiaya jiwanya. Logika ini tidak ada. Ia dipanggil saat ia baik-baik saja.

Tapi ini logika manusiawi saya. Meski ada kebenaran lain yang harus saya amini. Bahwa, Tuhanlah pemegang saham 100 persen atas nasibnya.

Bahwa Tuhan berhak kapan saja melanggar rumusan apapun yang pernah Ia berikan.

Bahkan, Tuhan seratus persen tidak berkewajiban untuk berbuat adil kepada siapapun, karena Ia tidak terikat atau tergantung pada pola hubungan apapun dengan siapapun yang secara logis membuat-Nya wajib bertindak adil.

Namun, Ia selalu sangat adil kepada siapapun, dan tindakan adil-Nya itu bukan karena Ia wajib adil, melainkan karena Ia sangat sayang kepada makhluk-Nya.

Dan, keadilan-Nya itu telah Ia berikan kepada Gorys, Rabu 17 Agustus lalu.

Wahai keadilan Tuhan yang bernama maut, siapakah engkau?

Ketahuilah! Sahabatku dan pastorku sudah lama menerimamu sebagai saudara.

Ia telah lama memelukmu melalui syair Chairil Anwal, penyair besar tanah kelahirannya Indonesia, yang ia hafal dengan sangat baik sejak ia belajar sastra Indonesia di Seminari Kisol:

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta

Wahai saudara maut, siapakah engkau? Saudaraku dan teman kelasku itu tiada pernah meniadakanmu sejak ia amat percaya Tuhan akan membukakan pintu-Nya saat ia mengucapkan Doa Charil Anwar pada tiap setiap jengkal nafasnya:

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

Wahai saudara maut, siapakau engkau? Adalah kehendak Tuhanlah yang temanku cari di hutan belantara. Ia yakin bahwa Tuhan tak sudi dipergoki.

Bahwa takdir-Nya tak bisa dicegat. Bahwa kehendak-Nya tak mungkin dibatasi.

Bahwa hak-Nya atas misteri garis terang dan gelap kehidupan, serta atas ketentuan detik maut dihadirkan, tak membuka diri sedikitpun untuk dirumuskan oleh segala ilmu dan pengalaman.

Mikrofon Rusak

Gorys, begitu kami teman kelas memanggilnya adalah teman masa kecil saya di Seminari Kisol, angkatan 1975.

Persahabatan ini berlanjut ketika kami sama-sama melamar ke Serikat Sabda Allah, SVD, di Ledalero, Maumere.

Di sini saya lebih mengenalnya lagi sehingga membuat saya yakin kepergiannya yang mendadak sudah ia perhitungkan sejak lama dan bukan masalah.

Pernah di Ledalero, di suatu Masa Prapaskah, kami berlima kala itu – bersama Fr Sirilus Sungga, Fr Boni Selu, Fr Kons Weri, Fr Gorys dan saya –  memberikan rekoleksi di Nangalimang, sebuah stasi antara Ledalero dan Maumere.

Singkat cerita, Gorys dipilih sebagai pemimpin ibadat sabda penutup.

Frater Gorys: Demi nama Bapa dan …(berhenti….)
Umat: Amin
Frater Gorys: Mikrofon rusak
Umat: Sekarang dan selama-lamanya
Frater Gorys: (dengan suara lebih keras) Mikrofok Rusak. Kita mulai dari awal.
Umat: Amin

Kami tertawa. Fr Gorys mengambil mikrofok rusak itu dan meletakkannya di sudut kiri altar, lalu kembali ke altar dan memulai ibadat sabda dari awal tanpa mikofron.

Keesokannya, ketika diadakan rapat evaluasi, Gorys membungkam kami dengan rapat tanpa kesimpulan.

Adalah Pater Guido Tisera, ahli Kitab Suci, yang baru pulang studi dari Roma yang sekaligus menjadi pembimbing tingkat kami, hadir sebagai evaluator dan – ini menariknya – mendominasi pembicaraan dengan mengkritik kenapa kami tidak mempersiapkan segala sarana dengan hati-hati dan teliti agar tidak merusak kekhusyukan rekoleksi, dan bla-bla-bla lainnya.

Kami semua diam sambil kasak-kusuk sandal ke yang lain.

Tiba-tiba, Gorys angkat bicara: “ Saya dengar Pater dari tadi ini omong tentang mikrofon rusak. Lama sekali. Itu hanya sarana. Mau rusak atau tidak rusak, mikrofon hanya sarana.”

Tiba-tiba Fr Boni Selu angkat doa penutup dengan alasan karena dia mau brevir. Kami tertawa. Karena kami tahu, Frater Boni hanya alasan saja.

Tambahan pula, dia termasuk orang yang paling malas brevir.

Ketika hendak turun tangga ke Wisma Fransiskus, Boni bilang ke Gorys, “Teman, habis sudah kau.”
“Aeh kenapa?” jawab Gorys.
“Kau siap-siap dikeluarkan, Pater Guido sudah marah tu.”
“Aeh bodoh amat, saya mau lihat dia mau keluarkan saya karena alasan mikrofon rusak”
“Terus…”
“Saya tulis surat ke rektor dan general di Roma ka…Kita sama-sama berkaul kok! Masa saya punya panggilan kalah sama mikrofon rusak.”

Kami tertawa dan masuk ke kamar masing-masing. Alhasil, Frater Gorys kemudian menjadi imam dan Fr Boni kandas di jalan.

Inilah Gorys yang kami kenal. Hatinya yang bening membedakan mana yang penting dan tidak penting, mana sarana dan mana substansi, mana surga, mana dunia.

Keberaniannya yang ia tunjukkan dengan kata dan laku mengantarkan dirinya sebagai peziarah tanpa langkah surut dan pelibas badai demi badai

karena ia tahu kepada siapa dan ke mana ia berlangkah. Dengan kata lain, ia berani untuk hal-hal bernilai!

Maka, ikrar kekal kepada Sabda Allah dalam kaul kebiaraannya menjadi dasar kuat untuk mengatakan bahwa kematian apa pun bentuknya yang datangnya tiba-tiba seperti pencuri di malam hari, tidak pernah ia takutkan.

Dalam kaul-kaul dan imamatnya, ia telah ‘melihat’ Allah dan bahkan mengalami apa artinya bahagia bersama-Nya.

Karena keberaniannya ini, ia tidak pernah bersikap pilah dan pilih-pilih dalam pergaulan.

Ia adalah seorang sahabat dalam arti sebenar-benarnya: berbagi dan mendukung.

Mesin tik yang ia miliki –maklum karena ia anak seorang guru sekolah dasar dan memiliki uang lebih dari cukup – tidak pernah ada di kamarnya tetapi bergilir dari satu kamar ke kamar temannya untuk digunakan menulis skripsi.

Ia juga tidak mencari-cari propertinya itu kecuali kalau ia dengar bunyi tuk-tak-tuk-tak dari arah mana, barulah ia ke sana mengambilnya.

Karena keberaniannya pula, ia adalah pekerja keras dan pencinta opus manuale. Paling rajin bekerja di taman dan menanam pohon.

Pernah di suatu waktu, Ledalero menanam pohon untuk mendukung program penghijauan pemerintah di Wuring, bukit gersang di bagian barat kota Maumere.

Kami yang lain sekali tanam, pulang dan tidak datang lagi. Bukan demikian Gorys. Ia dan beberapa rekannya, seingat saya anara lain Fr Lorens Useng, secara reguler mengunjungi Wuring dan memastikan apakah pohon-pohon itu tumbuh mekar.

Sekarang, bukit gersang itu menjadi bukit hijau berbunga dan mengalirkan riak-riak air dari gua-gua batu. Sentuhan tangannya telah memberikan harapan hidup bagi banyak orang yang merindukan air bersih.

Di telapak tangannya, apa yang dulu mustahil, kini menjadi mungkin.

Mentalitas kerja keras yang ia miliki, ia terjemahkan di lapangan sepak bola dengan menjadi bek kiri yang sangat disiplin.

Bermain sebaik-baiknya apa yang menjadi bagianmu dan tidak perlu gara-gara dan goreng-goreng yang tidak perlu. Itulah mottonya di lapangan hijau.

Postur tubuhnya yang tinggi dan rambutnya yang kribo-gondrong dipadu dengan ketrampilannya mengolah bola sambil potong tidur yang mempersatukan lutut, kaki dan dahi membuat dirinya benar-benar menjadi cadas yang ditakuti oleh pemain depan kesebelasan kota Maumere.

Bahkan Fidel Moang, goal getter Persami – tim kesebelasan Kabupaten Sikka – mengatakan, ia sejauh mungkin menghindari Frater Gorys jika hendak menyerang. “Sebab salah-salah, kau akan disapu habis sama tembok besar sebelah,” katanya merujuk pada Gorys.

Hutan Mbeling

Berbagi dan luwes bergaul. Ini amat kentara padanya sejak di seminari kecil: Kisol.

Enam tahun bersamanya di lembah sejuk ini meyakinkan saya akan mentalitas Gorys sebagai pembuka dan penerabas hutan.

Ia berasal dari Mbeling, kampung permai di Manggarai Timur, dekat Kisol, sebuah kawasan terhijau dan tersubur di Manggarai, bahkan di Flores pada umumnya karena pepohonannya yang alami dan berbunga-bunga.

Bahasa ibu di kawasan ini berbeda dengan bahasa ibu mayoritas seminaris dari wilayah lain Mangarai.

Tapi karena ia luwes bergaul, Gorys muda cepat menguasai bahasa Manggarai, mulus beradaptasi dan mempunyai banyak teman.

Kecintaannya kepada seni, khususnya sastra Indonesia dan Inggris muncul di tempat ini.

Bakat ini kemudian mekar semekar-mekarnya saat ia studi di Seminari Tinggi Ledalero. Ia adalah satu di antara sedikit frater yang fasih berbahasa Sikka dan berkhotbah dalam bahasa Sikka.

Kepada teman kelasnya yang dari Maumere, untuk menyebut beberapa,  Fr Hubert Thomas, Fr Stanis Kalewair, ia bercanda dan melucu-lucu dalam bahasa Sikka.

Dan, kita semua tahu. Jika seseorang sudah bisa melucu-lucu dalam bahasa asing, berarti kedalaman rasa bahasanya sudah tidak diragukan lagi.

Di Mbeling, hutan permai di Manggarai, Gorys tumbuh dan besar dalam pendidikan ayahnya yang adalah seorang guru sekolah dasar.

Pada zaman itu, guru sekolah adalah sekaligus guru katekis. Maka, nila-nilai Katolik sudah mengalir dalam tubuhnya bahkan sejak dari rahim ibunya.

Bukan hanya itu. Di Hutan Mbeling, Gorys kecil sudah berperilaku sebagai manusia semesta.

Di sini, manusia, hutan, monyet, babi hutan, burung adalah saudara dan saudari di bawah langit biru semesta. Kicauan burung dan raungan babi hutan di sebelah pinggir sungai adalah harmoni indah hari-hari.

Mereka saling memberi ruang kehidupan dan tiada pernah saling meniadakan.

Spiritualitas inilah yang mendarah dan mendaging dalam diri Gorys. Kerja kebun dan mengolah tanah dikerjakannya di atas rata-rata.

Maka, dominasi dan merajai sangat jauh dari penampilannya. Ia selalu tersenyum tanpa harus menunggu yang lucu-lucu.

Senyumnya adalah sikap berbaginya. Adalah jiwa kasih sayangnya. Adalah pandangan hidupnya. Dengan senyumnya hendak ia katakan: “Engkau dan aku bersaudara, sejauh-jauh melangkah, di bawah langit kaki berpijak.”

Maka, tak heran ketika kemudian saya mendengar ia betah di paroki hutan di PNG dan berpatroli dari satu stasi hutan ke stasi hutan lain.

Bahkan, ia tidak mau ditarik ke kota oleh pembesarnya untuk sekedar berganti suasana.

Juga, ia tidak mau diminta studi lanjut meski pembesarnya memohon-mohon dengan setengah memaksa.

Hal itu dikatakannya kepada saya dan beberapa teman kelasnya di Jakarta saat ia berlibur dan mampir di Jakarta.

Kami yang mendengar pengalaman pastoralnya seperti berada dalam mimpi. Sulit membayangkannya. Ia berpatroli jalan kaki berjam-jam ke hutan untuk menemui tidak lebih dari sepuluh umat, memotong kayu untuk membangun pastoran dan gereja, buka kebun untuk tanam ubi dan sayur.

Iyah, ia adalah saudara hutan. Hidupnya yang singkat itu adalah sebuah drama 54 episod dari hutan Mbeling ke hutan Papua New Guinea dan berakhir Rabu pagi lalu di sebuah panggung bernama: hutan belantara.

Saudara hutan itu telah diterima Allah untuk bergabung dalam keabadian.

Kelabakanlah saya, mungkin engkau teman kelasnya, mungkin kita-kita, sebab yang kita punyai saat ini adalah budaya pola berpikir sepenggal dan kefakiran yang luar biasa terhadap kualitas hidup.

Kita menciptakan sendiri apa yang kita cari. Padahal, semua sudah diberi. Tinggal satu saja yang tampaknya sulit sekali dibuat yaitu: berbagi dan memberi.

Penulis adalah sahabat Pastor Gregorius Jehanus SVD