Boni Hargens: Buktikan Kalau Saya Salah!

4
2164
Boni Hargens

Floresa.co  – Pengamat politik nasional Boni Hargens menantang sejumlah pihak yang mengkritik pernyataanya yang menyebut pemimpin di Nusa Tenggara Timur (NTT) bermental loyo dan sontoloyo.

“Buktikan kalau saya salah!” kata Boni, Kamis, 25 Agustus 2016.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Boni menyampaikan pernyataan yang memicu banyak komentar itu saat ia hadir sebagai narasumber dalam diskusi “NTT Kita Dalam Goresan Nawacita”, di Markas BaraJP NTT Kupang, Provinsi NTT, Sabtu, 20 Agustus 2016 lalu.

Kala itu, ia menegaskan, sedikit sekali kepala daerah yang berhasil memimpin di NTT, sisanya semua gagal.

“Mereka ini yang saya kategorikan dalam dua tipe yaitu bupati loyo dan bupati sontoloyo,” kata Boni.

Ia menjelaskan, bupati loyo mengacu pada bupati yang tahu apa yang harus dilakukan, punya niat baik untuk rakyat, tetapi lamban dan tidak sensitif dengan kondisi, persoalan yang mencengkram masyarakat.

“Bupati tipe sontoloyo lebih buruk lagi. Mereka tidak tahu banyak tapi sok tahu, sok pintar, dan cendrung menjadi perampok. Mereka ini yang menjadi virus bagi Nawacita dan hambatan serius bagi revolusi mental,” kata Boni, pengamat kelahiran Manggarai itu.

Setelah pernyataan itu berkembang di media, muncul pro kontra.

Ia pun menerima banyak surat elektronik termasuk membaca komentar di banyak media sosial, yang isinya mencerca dirinya terkait pernyataan tersebut.

Menanggapi hal itu, ia menyebutnya sebagai ”lelucon dalam demokrasi kita yang hanya ’bebas’ dan ’terbuka’ tetapi tidak disertai kesadaran dan pengertian yang utuh tentang makna demokrasi.”

”Mereka yang menyerang tidak mampu membuktikan di mana letak masalah dalam pernyataan itu,” kata Boni.

”Mereka bereaksi secara emosional padahal tujuan dari pernyataan itu adalah untuk menyadarkan seluruh rakyat NTT bahwa kemiskinan struktural dan persoalan mendasar lain yang membumi di NTT disebabkan oleh kepemimpinan politik yang rakus dan korup di NTT,” lanjutnya.

Maka, jelasnya, menuntut perubahan hari ini berarti melawan kepemimpinan politik yang rusak seperti itu karena itulah arti terdalam dalam revolusi mental yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

”Saya sangat merindukan diskursus yang sehat dan diskusi yang bermutu terkait apapun untuk kemajuan NTT ke depan,” kata Boni.

Ia pun mengajak orang yang menentangnya untuk memberi argumentasi yang masuk akal dan dengan cara yang sehat.

”Demokrasi memang tidak mudah bagi yang tidak waras berpikir, tetapi itulah jalan keselamatan untuk kemaslahatan umum,” katanya. (ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

4 Komentar

  1. Sebagai warga ntt saya mendukung pernyataan apa yang disampaikan pak boni, satupun pemimpinnya tidak ada yang bisa membawa NTT keluar dari belenggu kemiskinan. Perubahan perubahan tidak ada yang signifikan, angka pengangguran cukup tinggi, gizi buruk melanda, indikator pergerakan ekonomi selalu dibawah angka rata rata, kapankah ini dapat berubah….

  2. arang jangan di sebut hitam?…. ha ha ha yang loyo dan sontoloyo pasti marah,
    pengamat politik tak mungkin memuji yang tak terpuji.

  3. Salah-satu sebab ketidak-warasan berpikir adalah ego, atau tepatnya keserakahan. Karakter feodal dan mau menang-sendiri seakan menjadi atribut kepemimpinan di berbagai tempat di NTT, seolah jabatan identik dengan pintar. Wajar kalau banyak yang kehilangan sensitivitas karena tidak bisa mendengar. Ironisnya, kemiskinan masif di NTT (akan) terus menggadaikan hak demokrasi pada kaum serakah ini…..

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini