Pendidikan yang Membebaskan

0
714
Para siswa Seminari Kisol difasilitasi oleh kelompok pemuda yang membagikan pengetahuan dan pengalaman dalam kelas berbagi untuk perubahan. (Foto: Boe Berkelana)

Floresa.co – Komunitas orang muda dari Labuan Bajo, Manggarai Barat dan Ruteng, Manggarai yang menggelar workshop di Seminari Pius XII Kisol pada 13-14 Agustus 2016 memperlihatkan arti pendidikan sebagai proses mencipta, berinovasi dan kreatif.

Pendidikan tidak hanya identik dengan kegiatan belajar mengajar di kelas, melainkan juga proses-proses penemuan di luar kelas dan berinteraksi dengan alam dan lingkungan sekitar.

Edward Angymoy, anggota komunitas Bolo Lobo, adalah contohnya.

Mengampu kelas musik, Edward mendesak peserta workshop untuk bisa menciptakan lagu pada Sabtu, 13 Agustus 2016.

Alhasil, sekitar 21 peserta berhasil menyanyikan lagu ciptaan mereka sendiri pada pementasan Minggu siang, 14 Agustus 2016. Beberapa peserta hampir tak mempercayai jika mereka mampu menciptakan lagu dalam waktu sekitar 6 jam.

“Kita tidak cukup menyanyikan lagu orang lain, tetapi kita perlu menyanyikan lagu yang kita ciptakan sendiri,” kata Edward.

Edward sekaligus mengingatkan, “tujuannya bukanlah hanya menciptakan lagu. Tetapi lagu adalah alat untuk membawa perubahan sosial.”

Tidak hanya Edward, beberapa kelas berbagi lain juga ditandai oleh upaya inovasi dan kreasi.

Mart Sakeus yang menggawangi kelas melukis mengajarkan anak-anak untuk memanfaatkan barang bekas. Berkat dorongan Lulusan Institut Seni ini,  sekitar 6 orang anak berhasil membuat instalasi komputer dan lukisan di atas papan bekas.

Sebuah instalasi komputer terbuat dari kardus dan kaleng-kaleng bekas.

Di layar monitornya, terpampang kalimat, “game memburu koruptor” dan di bagian bawahnya tertulis, “download”.

Melihat tulisan itu, beberapa orang yang memperhatikan instalasi tersebut tersenyum.

Sedangkan sebuah lukisan terpampang di atas sebuah papan bekas.

Yang terlihat adalah kepala berukuran besar dengan mata membelalak dan lidah terjulur keluar.

Uniknya, bukan cuma satu, tetapi lidah yang digambar menyerupai uang itu dibuat banyak.

Memperjelas pesan gambar tersebut, sebagai ganti rambut, di kepalanya digambarkan tikus-tikus yang saling mengigit ekor satu sama lain.

Sementara di belakang kepala itu, ada gambar gedung DPR di Senayan.

Teus mengatakan, “karya seni itu bisa memanfaatkan  barang-barang bekas. Tidak membutuhkan yang mahal-mahal.”

Namun pemilik Lontart Galeri ini menegaskan bahwa karya seni tidak boleh dipandang sebagai hiburan semata. Sebaliknya, karya seni katanya adalah medan perjuangan.

“Karya seni adalah medan perjuangan nilai-nilai,” katanya.

Memanfaatkan barang bekas juga dilakukan oleh pengajar kelas desain grafis, Rhino Valentino.

Ia mengajar bagaimana memperindah tampilan majalah dinding dengan memanfaatkan barang-barang bekas.

Menurut Rhino, kunci utama dalam desain grafis adalah membiasakan diri untuk berpikir kreatif.

Karena, katanya, desain grafis adalah sebuah upaya kreatif untuk mengkombinasikan tulisan, gambar, dan ide dalam suatu bentuk yang menarik dan tersampaikan hanya dalam sekali pandang.

“Biasakan diri untuk berpikir out of the box.” kata Rhino berkali-kali ketika menjelaskan proses kreatif tersebut.

Ketika menjelaskan hasil karya kelompok, seorang peserta kelas desain grafis mengatakan, “Setelah makan biskuit konguan, kalian mungkin membuang kalengnya, tetapi kami memanfaatkannya”.

Ucapannya itu langsung disambut tepukan meriah dari semua peserta yang hadir.

Sementara itu, dalam kelas menulis kreatif, dorongan untuk semakin aktif mencari informasi menjadi perhatian utama. Meskipun memuji kecakapan anak-anak seminari dalam menulis, Gregorius Afioma yang mengampu kelas menulis mengingatkan agar anak-anak seminari juga “biasa di luar”.

“Kamu memang luar biasa, tetapi kamu juga perlu biasa di luar” katanya.

Ia melanjutkan, “biasa di luar bukan berarti bolos, tetapi menjadi lebih peka mengamati keadaan sosial,” dan kehidupan masyarakat.”

Untuk itu, dalam kelas menulis, para peserta ditugaskan membedah kasus, mengamati lingkungan sekitar, melakukan berbagai wawancara dan menuliskannya.

Melihat proses selama dua hari itu, Romo Silvy Mongko, kepala sekolah SMA seminari Pius XII Kisol mengaku senang dengan kelas berbagi tersebut.

Menurutnya, kegiatan dengan tema “kelas berbagi untuk perubahan” tersebut sudah berhasil mengembalikan arti pendidikan.

“Pendidikan artinya keluar dan menemukan. Siswa diajak menemukan talenta dan mengembangkannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah-tengah kondisi wajah pendidikan di provinsi NTT yang memprihatikan, kegiatan kelas berbagi untuk perubahan melalui upaya inovasi dan kreatif bisa mengembalikan optimisme terhadap dunia pendidikan.

“Pendidikan di NTT selalu di zona merah dalam peringkat nasional. Kita juga dikenal sebagai pengirim TKI dan TKW terbanyak keluar negeri. Namun jika kita dididik untuk terus berkreasi dan berinovasi, saya optimis masa depan NTT akan lebih cerah” pungkasnya.

Kegiatan kelas berbagi untuk perubahan berlangsung atas kerja sama komunitas orang muda di Labuan Bajo dan Ruteng dengan Seminari Kisol.

Beberapa di antara yang terlibat adalah Rumah Kreasi Baku Peduli, Komunitas Bolo Lobo, Lontart Galeri, Komunitas Sastra Hujan dan Chomabee.

Sementara kelas berbaginya meliputi kelas musik, kelas melukis, kelas desain grafis, kelas sastra, dan kelas public speaking. (Afi/ARL/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini