Di Hadapan Seminaris, Seorang Remaja Muslim Nyanyikan Lagu Maria

0
1264
Mohammad Bani, seorang siswa beragama Muslim dari SMAN 2 Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat saat tampil di hadapan para siswa Seminari Pius XII Kisol, Minggu 14 Agustus 2016. (Foto: Afi)

Floresa.co – Di depan siswa Seminari Pius XII Kisol, Mohammad Bani, seorang siswa beragama Muslim dari SMAN 2 Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat duduk tenang sambil menyiapkan diri untuk menyanyi.

“Saya akan membawakan lagu rohani Katolik,” katanya kepada ratusan siswa yang berkumpul di aura seminari, Minggu siang, 14 Agustus 2016.

Saat mulai menyanyi, ia mendapat tepukan meriah dari para hadirin.

Ia menyanyikan lagu “Ina Maria (Bunda Maria), sebuah lagu penghormatan terhadap Bunda Maria dalam bahasa Nagi, Flores Timur.

Suaranya begitu lembut dan memukau. Beberapa kali ia memejamkan matanya. Ia benar-benar menghafal lagu tersebut.

Di beberapa bagian, ia mengajak semua orang bernyanyi bersama.

Bani mengatakan, ia sudah lama  jatuh cinta dengan lagu “Ina Maria”.

Sebelum menyanyi di depan anak-anak seminari, ternyata ia sudah lama berlatih menyanyikan lagu tersebut.

“Saya sudah membuat rekaman lagu tersebut. Saya suka sekali” akunya.

Berbagi dalam Perbedaan 

Bani adalah salah satu anggota GOS band, sebuah band yang terdiri dari siswa sekolah menengah atas di Labuan Bajo.

Dalam kelas berbagi bersama komunitas orang muda di Seminari Kisol selama dua hari, 13-14 Agustus, Bani terlibat aktif di dalamnya.

Ini adalah pengalaman pertamanya melihat dari dekat kehidupan dunia pendidikan calon Imam.

“Saya senang melihat kehidupan berasrama di sini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, bukan hanya Bani anak muda Muslim terlibat. Ada juga Boe Berkelana yang mengampu kelas public speaking, Eddy Sudradjat yang aktif dalam kelas sastra serta dua lainnya, Siti Qoriah dan Pepy Indah.

Boe mengatakan, ia sungguh senang bisa berbagi bersama dengan teman-teman di seminari.

Tujuan dari kegiatan itu, katanya, mengembangkan talenta demi melayani nilai keadilan dan kemanusiaan.

“Walaupun sedikit, kita saling berbagi. Mengembangkan talenta bukanlah tujuan, tetapi sarana untuk menciptakan keadilan,” ungkapnya.

Sementara Edy mengakui bahwa pengalaman ini merupakan sesuatu yang sangat menarik baginya. Ia bahkan tak canggung masuk ke dalam kapela seminari dan berdiam sejenak di dalamnya. (Afi/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini