Sastra NTT, Politik dan Kepedulian Sosial

1
658
Inosentius Mansur Pr. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: INOSENTIUS MANSUR

Akhir-akhir ini, dunia sastra di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami perkembangan signifikan. Perkembangan ini tidak hanya terkait kuantitas, tetapi juga kualitas.

Banyak sastrawan yang muncul, dengan karya-karya mereka yang juga berbobot. Berkaitan dengan dengan perkembangan itu, apresiasi dan kritikan pun muncul silih berganti.

Kedual hal ini (kritikan dan apresiasi) merupakan indikasi adanya kultur demokratis dalam dunia sastra kita.

Agar sastra semakin menukik, kontekstual dan efektif, maka perlu “ditentang” dan “ditantang” dengan selalu menawarkan paradigma berpikir opositif maupun solutif.

Sastra akan semakin menjadi sesuatu yang bernilai jika ditelisik dari berbagai perspektif, baik itu yang sejalan maupun yang berseberangan.

Dalam tulisan ini, saya tidak sedang memilih posisi sebagai pengamat ataupun kritikus sastra, tetapi hanya coba melihat relevansi antara sastra, politik dan kepedulian sosial.

Tesis dasar tulisan ini adalah sastra bisa menjadi sarana liberatif, terutama untuk konteks sosial politik NTT.

Sastra dan Politik

Menurut saya, sastra berpilin erat dengan politik. Seseorang bisa bersastra tentang politik. Dan, politik akan menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetis, esensial dan mendalam jika dianalisis dengan memakai pisau analisis sastra.

Beberapa penyair terkemuka Indonesia seperti Chairil Anwar, Amir Hamzah, Rendra merupakan sebagian contoh dari beberapa penyair yang menelisik konteks sosial politik Indonesia dengan kata-kata puitik.

Mereka tak sekadar berpuisi, tetapi berpuisi tentang keprihatinan sosial.

Lewat kata-kata puitik, mereka mengafirmasi diri sebagai ens sociale. Mereka memberikan kritik, memberi pujian serentak menawarkan sejumlah terobosan dengan menggunakan kata-kata sastra.

Terkadang, dengan gaya berkata yang sarkastik, mereka “menangisi” realias dan secara amat elok menyerang kebijakan sosial yang menyandera kebebasan individu.

Mereka “bersembunyi” di balik kata-kata manis, tetapi sesekali dan dengan serta merta “menyelinap” di antara kerumunan persoalan sosial, sambil memberi semacam ancaman agar persoalan itu segera dicari solusinya.

Mereka terkenal, bukan hanya karena jago meramu kata, tetapi juga pandai menghadirkan diskursus kritis atas berbagai problem sosial lewat pilihan kata-kata.

Kombinasi sebagai seniman kata dan pengelaborasi konteks politik, membuat mereka dikenang sebagai seniman besar yang berjasa.

Mereka masuk dalam kategori “pemerhati” sosial politik, kendatipun mereka sendiri tak pernah mengatakannya. “Selipan-selipan” mereka seringkali menggelitik, mengganggu dan menjadi “hantaman” terhadap berbagai distorsi sosial.

Begitu juga dengan beberapa nama lain, seperti Y. B. Mangunwijaya dan Pramoedya Ananta Toer. Mereka seringkali menghasilkan karya sastra yang merupakan hasil kajian dan refleksi tentang kondisi sosial politik.

Mereka memang tidak menjadikan sastra “berafiliasi” ataupun menjadi subordinasi dari politik, tetapi menunjukan betapa karya sastra memiliki daya bagi politik pembebasan rakyat.

Mereka berhasil menunjukan independensi sastra tanpa mengabaikan kepedulian terhadap berbagai kondisi politik.

Sastra yang mereka ciptakan justru semakin menunjukkan taring, orisinal dan berkarakter saat kegelisahan, kritikan, pemberontakan, desakan dan disposisi hati nurani lahir dari keprihatinan atas konteks sosial politik yang mendegradasi dan mendekonstruksi sakralitas kekuasaan.

Kata-kata dan paragraf yang mereka desain, lahir dari pergolakan batin dan kemauan luhur sebagai “peringatan” akan adanya kebijakan salah kaprah dari para pemimpin.

Dengan dan melalu sastra mereka membombardir tindak-tanduk distortif elite-elite politik. Mereka memang bukan politikus, tetapi melibatkan diri dalam pergulatan sosial politik dengan mengelaborasinya dari kacamata sastra.

Contoh-contoh ini mau mengatakan bahwa sastra bersimbiosis mutualisme dengan politik. Dengan dan melalui sastra, politik bukan sekadar instrumen untuk mendapatkan kekuasaan, tetapi juga sarana untuk mencapai kebaikan bersama.

Sastra bagi mereka adalah matra bagi liberalisasi sosial. Sastra bukan hanya tentang seni berkata, tetapi juga merupakan nyanyian tentang “kesadisan” sosial.

Sastra bukan hanya tentang irama-irama, diksi-diksi ataupun kumpulan paragraf yang mengikuti kaidah penulisan sastra, tetapi juga membuat kehidupan dan dunia sosial menjadi lebih berirama dan dengan demikian menjadi lebih bermakna.

Sastra dalam perspektif mereka bukan hanya tentang kepandaian memintal kata-kata puitis atau sekadar meramu kalimat-kalimat bermakna, tetapi juga membidik berbagai kekeliruan yang telah menghancurkan esensi demokrasi.

Sastra menjadi sarana untuk melindungi rakyat kecil, melawan hegemoni dan berusaha menyadarkan elite politik agar tidak mengorbankan rakyat demi keinginan parsial-pragmatis.

Sastra Tentang Kepedulian Sosial

Kondisi masyarakat dapat diketahui dari karya sastra. Alasannya, karya sastra selalu merupakan cerminan dari fakta masyarakat dengan memasukkan unsur fiksi di dalamnya (Wellek &Werren: 1956).

Merujuk pada pendapat ini serta argumentasi sebagaimana telah dijabarkan sebelumnya, saya mengimpikan adanya sastra tentang kepedulian sosial, terutama lagi kepedulian tentang konteks sosial politik lokal NTT.

NTT memang telah memiliki orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang sastra, tetapi lebih dari itu, NTT juga membutuhkan sastrawan yang bisa tampil sebagai “masyarakat alternatif” atau semacam advocatus diaboli.

Mereka harus menjadi penggagas politik kemanusiaan dan menjadi kelompok yang secara kritis menggonggong berbagai kekhilafan sosial.

Mesti disadari bahwa karya sastra merupakan pekikan tentang kebebasan, tanpa mengabaikan unsur fiksi.

Dialektika antara unsur fiksi, fakta dan kepedulian sosial akan menjadikan sastra itu berdaya liberatif.

Karya sastra juga diharapkan merupakan manifestasi dan artikulasi suara rakyat akar rumput.

Sastra mesti mengakomodir suara kaum tak bersuara. Sastra tak boleh hanya untuk dinikmati segelintir orang, tetapi mesti memberi pengaruh bagi pemerdekaan rakyat dari berbagai bentuk penderitaan.

Karena itu, karya sastra mesti lahir dari konteks sosial politik dan harus merupakan narasi tentang kepedulian sosial.

Dengan begitu, sastra menjadi instrumen penting yang menjadi bagian integral dari dinamika demokrasi.

Saya tidak bermaksud untuk menafikan berbagai karya sastra yang selama ini mulai bersemi secara militan, tetapi menginginkan agar sastra juga menjadi representasi desakan rakyat.

Sastra harus berdiri pada posisi “orang-orang kalah” yang tidak berdaya berhadapan dengan kepungan serta jebakan politik instrumentalitatif.

Dalam setiap kata, tak hanya berimajinasi tentang mimpi-mimpi indah, tetapi juga lahir dari kajian dan analisis kritis atas berbagai kondisi sosial yang memprihatinkan.

Geliat signifikan sastra kita menjadi peluang bagi terciptanya sastra tentang kepedulian sosial yang kontekstual.

Penulis adalah dosen dan pemerhati politik dari Stipas St. Sirilus Ruteng        

 

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini