Ignasius Jonan, Mantan Menteri Perhubungan RI Kabinet Kerja Jokowi-JK

Jakarta, Floresa.co – Ignasius Jonan, secara resmi keluar dari Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pasca dilantiknya Budi Karya Sumadi pada Rabu, 27 Juli 2016. Selama ini Budi menjabat sebagai Direktur Utama Angkasa Pura II.

Namun, terdepaknya Jonan – mantan Direktur Umum PT Kereta Api Indonesia itu – tidak lantas mengurangi dukungan terhadapnya.

Sejumlah pemuda Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, mengharapkan agar dia maju dalam bursa calon gubernur provinsi yang identik dengan kemiskinan tersebut dalam Pilgub 2018 mendatang.

Mereka mengklaim Jonan adalah sosok yang memiliki kemampuan manajerial handal, mampu menata birokrasi dan semua potensi yang ada di NTT serta mengeluarkan NTT dari lilitan persoalan.

“NTT adalah daerah miskin dan terbelakang. Maka, sebenarnya kita butuh pemimpin seperti Jonan yang mampu bekerja, membuka lapangan kerja, mengurangi pengangguran dan membenah infrastruktur,” kata Ferdy Hasiman, salah satu pemuda asal NTT kepada Floresa.co.

Kata dia, jika NTT dipimpin Jonan, masyarakat tidak perlu lagi ramai-ramai menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau mencari kerja di luar NTT, karena di NTT sendiri banyak pilihan lapangan pekerjaan.

Penilaian Ferdy mengacu pada rekam jejak Jonan selama menjadi menteri. Ia menganggap paket-paket kebijakannya sangat berpihak kepada kemajuan dan kemakmuran masyarakat, khususnya Indonesia bagian timur.

Pembagunan infrastruktur seperti bandara dan pelabuhan telah dilakukannya di banyak tempat di Indonesia, kata Ferdy.

Maka, jelasnya, menjadikan Jonan sebagai figur nomor satu di NTT merupakan solusi atas berbagai persoalan yang melilit NTT.

“Saatnya kita orang NTT membuka pikiran untuk mengusung tidak hanya orang-orang asli NTT tetapi juga orang luar yang memiliki kepedulian terhadap NTT,” sambungnya.

“Jakarta misalnya sudah menjadi kota model berkat keterbukaannya terhadap Jokowi dan Ahok yang datang dari luar Jakarta,” lanjut Ferdy.

Ferdy juga mengatakan, kurangya kompetensi para bakal calon yang akan maju dalam Pilgub mendatang menjadi salah satu alasan mendukung alumus Universitas Airlangga Surabaya itu.

“NTT saat ini tidak memiliki pemimpin yang bisa bekerja efektif seperti Jonan. Sebaliknya yang ada orang-orang yang pandai bersilat lidah, hanya pandai berwacana dan tidak tidak memiliki kerja nyata”, pungkasnya.

Sementara Jonan, kata dia, sukses menyulap PT Kereta Api Indonesia menjadi salah satu BUMN handal dan moda transportasi terbaik di Indonesia. Jauh sebelum itu, kata Ferdy, Jonan juga sukses di kursi Direktur City Bank.

Thomas Suwarta, pemuda lain dari NTT melihat Jonan sebagai sosok yang memiliki konsep strategis tentang masa depan bangsa dan negara.

Salah satunya, kata dia, bagaimana memajukan NTT. Di level nasional, jelas Thimas, Jonan telah banyak membangun infrastruktru perhubungan seperti bandara, pelabuhan dan lainnya.

Dan, selama jadi menteri, Jonan sering mengunjungi provinsi yang lagi geliat dalam sektor pariwisata itu.

Agendanya ke sana, menurutnya, sebagai usaha dan rencana memajukan potensi yang ada di NTT.

BACA: Ditanyai Respon Jika Ditawar Jadi Kepala Daerah, Ini Reaksi Jonan

“Memang, dicopotnya ia dari menteri menjadi kerugian bagi Indonesia khususnya Indonesia Timur dan termasuk NTT,” kata Thomas.

“Namun, akan menjadi berkat jika ia secara langsung memimpin NTT dengan menjadi gubernur.” (Ario Jempau/ARL/Floresa)