Air terjun Cunca Rami di Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat. (Foto: Floresa.co)

Floresa.co – Pesona air terjun Cunca Rami merupakan salah satu objek wisata alam yang menarik di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar). Letaknya tepat di Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang.

Air yang jatuh dari ketinggian tebing lebih dari 30 meter itu benar-benar membuat decak kagum. Air terpantul beberapa kali di permukaan batu sebelum kemudian menyentuh permukaan sungai yang tenang di kaki tebing.

Di kaki tebing itu biasa menjadi tempat para pengunjung berenang. Bentuknya mirip sebuah kolam berbentuk “lingkaran” dengan diameter sekitar 5-10 meter.

Kedalaman air mencapai lebih dari dua meter. Pinggiran sungai dikelilingi sebagian besar batu-batu dengan berbagai ukuran.

Jika berenang, kesan alaminya sungguh terasa. Airnya begitu dingin,  segar dan jernih sehingga kita dapat melihat dengan jelas objek dalam air.

Kemudian, hanya di tempat-tempat tertentu saja kita dengan mudah dapat keluar dari sungai.

Sebab, meskipun pinggirannya dikelilingi batu, namun rata-rata permukaan batu berlumut yang membuat licin dan sulit untuk keluar dari sungai.

Di bawah kaki tebing, rasanya tak kalah mengagumkan. Kita mesti benar-benar mendongakkan kepala untuk dapat melihat ujung teratas tebing, tempat dari mana datangnya air.

Dan tebing yang berbentuk cekung yang melandai itu seperti benteng kokoh yang sedang mengintari kita di kaki tebing.

Panjangnya sekitar 200 meter dengan masing-masing ujung sudah tersambung dengan hutan yang masih alami. Selebar sekitar 10 meter saja yang menjadi tempat air mengalir.

Sementara itu, di beberapa sudut dinding tebing, sarang lebah menggantung. Tumbuh pula tanaman kecil-kecil dan berbagai jenis pohon yang membuat tebing itu tampak hijau segar.

Jika memperhatikan alam sekitar, tempat ini benar-benar tenang, sunyi, terisolasi. Hanya terdengar suara gemercik air yang mengalir melewati sebuah sungai kecil.

Juga hanya terdapat dua pondok kecil. Satunya yang terbuat dari bambu, milik seorang warga yang memiliki beberapa petak sawah yang terletak tak jauh dari situ. Satunya lagi, pondok permanen.

Semakin Ramai Dikunjungi

Air terjun Cunca Rami di Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat (foto:redaksi)
Air terjun Cunca Rami di Desa Wae Lolos, Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat (foto:redaksi)

Tempat wisata Cunca Ramai sudah semakin banyak dikunjungi wisatawan. Ketika kami datang sekitar pukul 13.00 WITA pada hari Minggu, 24 Juli 2016, sekitar tiga rombongan turis sedang mandi di sana. Mereka berasal dari Perancis, Belgia, dan Amerika Serikat. Ketika kami pulang dua jam setelahnya, beberapa turis baru saja tiba.

Menurut salah seorang warga, sudah sering turis mancanegara mengunjungi tempat itu, sementara turis domestik masih sedikit saja. Namun ia tidak memastikan berapa jumlah hariannya. Dari antara para pengunjung itu, ada yang minta dipandu diman tarifnya tergantung pada kesepakatan. Ada juga yang datang tanpa dipandu orang lokal.

Namun, sebenarnya untuk sampai ke Cunca Rami, tidaklah terlalu sulit meskipun tanpa pemandu. Akses kendaraan bermotor bisa sampai salah satu kampung yang berjarak sekitar 2 km dari lokasi air terjun. Di situ biasanya para pengunjung memarkirkan kendaraan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki selama 20-30 menit.

Jalannya tidak terlalu menanjak, malahan menjadi keasyikan tersendiri karena melewati daerah persawahan dan perkebunan.

Sementara, untuk sampai ke kampung ini, perjalanan bisa mencapai 1-2 jam jika datang dari arah Labuan Bajo. Mula-mula kita menyusuri jalan trans-Flores sepanjang 30 km.

Lalu setiba di kampung Roe di kawasan hutan Mbeliling, mengambil jalan sempit menuju Desa Wae Lolos. Jarak sejauh 15 km setelahnya ditandai oleh jalan sempit, menurun, berkelok-kelok, dan beraspal tapi masih berlobang-lobang di sana sini.

Di atas semua itu, tempat ini belum terkelolah sebagai tempat pariwisata yang bisa menghasilkan pendapatan bagi masyarakat setempat. Setiap orang bebas masuk tanpa harus membayar retribusi atau tagihan apapun, kecuali ada sebuah kotak yang menggantung di sebuah pohon untuk meminta sumbangan sukarela dari para pengunjung.

Uang itu kemudian diambil oleh warga pemilik pondok di dekat air terjun tersebut, yang selalu bertugas menjaga tempat itu tetap bersih dari sampah. (Gregorius Afioma)