Mengapa Chris Rotok “Turun Kelas” Jadi Calon Wakil?

4
3171
Christian Rotok (Foto: Pulaubunga.com)

Floresa.co – Christian Rotok, bupati Manggarai dua periode, saat ini sedang bersiap-siap untuk maju dalam pemilihan kepala daerah Provinsi NTT tahun 2018 nanti.

Namun, ia memilih menjadi nomor dua alias wakil, berpasangan dengan Esthon Foenay, Ketua Dewan Pembina DPD Gerindra NTT.

Padahal, pada pilkada NTT tahun 2013 lalu Pa Chris, demikian ia biasa disapa, maju sebagai calon gubernur, bukan calon wakil.

Tahun 2013, Pa Chris berpasangan dengan Paul Liyanto. Keduanya, maju melalui jalur independen.

Dari lima pasangan calon yang bertarung dalam pilkada NTT 2013, pasangan yang beken dengan sebutan Christal ini, gagal masuk putaran kedua. Perolehan suara mereka hanya 332.569 suara (14,55 persen) atau berada pada urutan keempat.

Setelah Pa Chris menuntaskan 10 tahun kepemimpinannya sebagai Bupati Manggarai (2005-2015) kini, ia kembali menjajaki jabatan di level provinsi. Sejumlah pihak bertanya-tanya, kok hanya jadi wakil?

Bahkan di media sosial facebook terutama di beberapa grup orang Manggarai raya muncul semacam kampanye untuk “tidak memilih nomor dua (figur calon wakil), kalau toh ada calon nomor satu (figur calon gubernur)”. Kampanye ini muncul karena dari Manggarai raya ada calon gubernur juga bahkan saat ini yang muncul ke permukaan sudah dua orang yaitu Beny Kabur Harman dan Adrianus Garu.

Chris Rotok tentu punya pertimbangan sendiri untuk memilih menjadi wakil, bukan calon gubernurnya.

Kepada Floresa.co, ia mengatakan ada beberapa alasan mengapa ia memilih menjadi wakil, bukan gubernur seperti pada 2013 lalu.

“Nomor satu kan saya sudah pernah toh, dan kalah kan? Kenapa kita mengulang kesalahan yang sama?”ujarnya, Jumat 24 Juni 2016.

Alasan lain, kata dia, Esthon Foenay yang menjadi calon gubernurnya lebih senior. “Beliau mantan wakil gubernur, saya hanya mantan bupati,”ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, ini memang penugasan dari partai. Kebetulan keduanya memang sama-sama dari Gerindra. “Jadi, mesti loyal juga ke partai,”ujarnya.

Dalam sejarah pilkada langsung di NTT sejak 2008, kata Chris, calon gubernur dari Manggarai raya selalu gagal. Tahun 2008, kata dia, Gaspar Parang Ehok maju sebagai calon gubernur tapi kalah.

“Kurang apa popularitas beliau?” Padahal, lanjutnya, dukungan dari tiga Manggarai cukup tinggi. Tiga Manggarai merujuk pada Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur.

Demikian juga dengan Beny Kabur Harman, yang pernah maju pada tahun 2013 sebagai calon gubernur. “Kalah juga kan? Kemudian saya satu kali, kalah juga kan? Jadi, mengapa kita mengulangi hal yang sama?”ujarnya.

Saat ini, kata Chris, ia dan Esthon terus melakukan konsolidasi ke seluruh NTT. Timor, Sumba dan Alor sudah dilakukan. “Sebentar lagi, kita akan selesai konsolidasi di Flores”tandasnya.

Menengok Hasil Pilkada 2008 dan 2013

Pada tahun 2008, NTT untuk pertama kali menggelar pemilihan kepala daereah secara langsung. Saat itu ada tiga calon yang bertarung memperebutkan posisi gubernur dan wakil gubernur.

Mereka adalah pasangan Gaspar Parang Ehok- Julius Bobo (Gaul), pasangan Frans Lebu Raya- Esthon Foenay (Fren) dan Pasangan calon Ibrahim Agustinus Medah-Paulus Moa (Tulus).

BACA JUGA:

Nyaris ada tiga pasangan calon dari Manggarai saat itu. Namun, dua lainnya tidak lolos kualifikasi, yaitu Beny Kabur Harman yang berpasangan dengan Alfred Kase. Kemudian, Frans Salesman yang menjadi wakil dari Alfons Loemau.

Dukungan dari masyarakat tiga Manggarai pada tahun 2008 itu kepada pasangan Gaspar Parangan Ehok-Julius Bobo terbilang sangat besar. Perolehan suara pasangan dengan sebutan Gaul ini dari tiga Manggarai sebanyak 232.971 suara atau 39,89% dari total perolehan suara pasangan ini yang mencapa 584.082 suara.

Bandingkan dengan perolehan suara dari dua pasnagan lainnya dari tiga Manggarai. Paket Fren hanya memperoleh 57.152 suara. Kemudian, paket Tulis memperoleh 36.848 suara.

Namun, dukungan yang besar dari tiga Manggarai itu tak mampu mengantarkan Gaspar Parang Ehok menjadi Gubernur NTT saat itu. Paket Gaul bahkan berada posisi buntut dari tiga pasangan calon.

Pilkada tahun 2013, lebih parah lagi. Dua calon gubernur dari tiga Manggarai yaitu Christian Rotok dan Beny Kabur Harman tidak lolos masuk putaran kedua. Bahkan perolehan suara keduanya masing-masing berada posisi keempat dan kelima dari lima pasangan calon.

Bagaimna dengan 2018 nanti? Saat ini, selain Christian Rotok, nama lain dari tiga Manggarai yang digadang-gadang akan maju dalam Pilkada NTT tahun 2018 adalah Beny Kabur Harman dan Adrianus Garu. Aapakah sejarah akan berulang? Ampuhkan strategi Chris Rotok yang “turun kelas” menjadi wakil? (Ronald Tarsan/Pet/Floresa)

Advertisement

4 Komentar

  1. sebenarnya, bagaimanapun juga strateginya, calon dari manggarai tetap tdak akan lolos, karena tiga kabupaten dri manggarai tdak pernah bersatu, terutama dalam hal pemilu gubernur.

  2. Masalahnya msyrakt manggarai raya kurang cerdas dlm megambil keputusan politik…
    Kalau ada calob no 1 ngapain lg no 2

  3. Komentar: smga pa BKH sbgai tokoh nasional yg sdh dikenal luas di NTT banding CR dharapkan jgn cuma berharap suara dr Manggarai Raya ato dr simpatisan Rotok sja…ambil dr daerah lain lah…kan tokoh nasional…biar tdak nmor buncit lgi kya pilgub lalu…

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini