Lelaki Miskin di Pantai yang Makin Murung

0
767
Pantai Pede (Foto: Yos Nggarang)

Oleh: NANA LALONG

1/

lelaki miskin dari gunung

nangkring di Pantai Pede

dikejar calo karcis siang-siang

 

ia diomeli

mengapa nekat masuk

tanpa membayar di pintu masuk

 

lelaki miskin  dari gunung menjawab

betapa orang miskin juga butuh pantai

untuk belajar tabah dari ombak

yang kekal menghempas di pantai itu apapun musimnya

sekekal kemiskinan menghempas hidup lelaki itu

dari rejim ke rejim di negeri ini

 

bertahun-tahun

lelaki miskin dari gunung

menghindar calo karcis

setiap kali datang ke pantai itu

 

2/

lelaki miskin dari gunung

mencari jejak di pasir pantai

sepasang jejak kekasih dari tahun-tahun yang silam

 

ingin dikumpulkannya jejak-jejak itu

sebagai  barang bukti

bahwa  lelaki semiskin dia

bahkan pernah jatuh cinta di pantai itu

menggandeng seseorang begitu mesranya

 

dan tak ingin dilupakannya kisah itu

betapa di sana ia punya kenangan

satu-satunya alasan mengapa ia

selalu ingin kembali ke Pede

walau harus kucing-kucingan

dengan calo karcis

 

3/

lelaki miskin dari gunung

tak pernah pandai mengemis

pun ketika ia tahu

di pantai itu ia menjumpai bos-bos berduit

yang tak bakal jatuh miskin bila mentraktir

karcis masuk untuk lelaki miskin

 

ingin ditebusnya karcis masuk

dengan memungut sampah

yang juga mengunjungi pantai itu

dan belum mau pulang ke laut

karena lelah berenang sepanjang tahun

 

4/

sampah di tangan lelaki miskin dari gunung

meronta-ronta

bebaskan kami om pa…

bebaskan kami om pa…

 

sampah-sampah itu

ingin berleyeh-leyeh di pasir hangat

lalu sebentar kembali ke laut

berenang sepuas-puasnya

selagi masih gratis

dan belum ditagih karcis

 

5/

Si tik, nama lengkapnya plastik

bercanda dengan lidah ombak

menyentuh bibir pantai yang basah

 

lepas dari jangkauan lelaki miskin dari gunung

ia mengajak si botol

yang terkapar lelah di pasir hangat

tol, berenang yuk

mumpung masih boleh

 

Ia menoleh ke temannya yang lain lagi

temannya itu sedang menelpon kasur

sobat lama di Jakarta

 

“Sur, cepat ke sini. Di sana kamu dijkejar-kejar petugas kebersihan.

Dibawa ke Bantar Gebang pula.

Hancur dilumat gerigi mesin-mesin raksasa PT Godang Tua.

Mending ke sini, bisa berenang sepanjang tahun”

 

temannya itu menutup hp

ketika satu pesan berkedip

giliran teman dari Bali, namanya si fum, berpesan:

 

 

ok bro, peluang emas.

terima kasih untuk undangannya.

saya ke sana naik apa eh?

 

layar padam

saatnya ia berenang lagi

meluncur ke arah tik, sahabatnya

berenang begitu lepasnya mereka

bagaikan tak ada lagi yang lebih lepas

dari bertahun-tahun berenang di Labuan bajo

tanpa karcis masuk yang membuat lelaki miskin dari gunung

kucing-kucingan dengan calo karcis

di pantai itu.

 

mereka berenang makin dalam

jauh…makin jauh dari jangkauan

lelaki miskin dari gunung

yang mungkin tak pernah terlatih berenang

atau mungkin sudah memutuskan berhenti berenang

hingga ditemukannya jejak sang kekasih

dari tahun-tahun yang silam

yang terkubur di antara jejak kekasih orang lain

di pantai yang makin murung itu)***


 

Nana Lalong, nama pena untuk seorang mahasiswa asal Manggarai, kini sedang studi di Jakarta.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini