Patung Bunda Maria berdiri tegak di Pantai Pede (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Misa penutupan bulan Rosario di kota Labuan Bajo, Manggarai Barat – Flores digelar di Pantai Pede, Selasa 31 Mei 2016. Misa dipimpin langsung Uskup Ruteng, Mgr Hubert Leteng, Pr.

Dalam tradisi Gereja Katolik, bulan Mei dan Oktober ditetapkan sebagai bulan khusus untuk menghormati Bunda Maria. Karena itu, umat biasanya mengadakan doa Rosario baik secara bersama-sama maupun pribadi.

Pada misa penutupan bulan Rosario di Pantai Pede, umat memohon kepada Bunda Maria agar pemerintah provinsi NTT dan pemerintah Kabuapaten Manggarai Barat mengubah kebijakannya terkait rencana privatisasi Pantai Pede, pantai satu-satunya yang bisa diakses bebas masyarakat di kota Labuan Bajo.

“Ujud dari misa ini meminta doa Bunda Maria sebagai penolong segala bangsa. Karena itu, sebagai rakyat Indonesia yang beragama Katolik, kita meminta Bunda Maria agar menyentuh hati pemerintah,”ujar Romo Vikep Labuan Bajo, RD Robert Pelita.

Romo Robert mengatakan sudah sejak lama masyarakat menuntut pemerintah agar Pantai Pede tetap menjadi ruangan publik. Namun Pemerintah Provinsi NTT dan Pemda Manggarai Barat tetap menyerahkannya kepada investor swasta.

“Oleh karena itu,maka Kita memohon bantuan doa Bunda Maria, ujudnya agar Bunda Maria mendoakan agar pemerintah berubah sikap,”tandasnya.

Misa ekologi ini dipimpin langsung Uskup Ruteng Mgr Hubert Leteng. Pastor-pastor yang betugas di kota Labuan Bajo juga turut menjadi konselebran.

Tak hanya itu, umat dari agama lain juga menyatakan siap hadir dalam misa tersebut. “Panitia sudah mengundang mereka,”ujar Romo Robert.

Romo Robert mengatakan misa ini merupakan bentuk kepedulian umat Katolik sebagai warga negara Indonesia memperjuangkan kepentingan publik.

“Gereja juga bagian dari Negara. Karena itu dengan caranya Gereja menyuarakan kebenaran itu sendiri.Bahwa tidak menutup kemungkinan juga bagi umat lain atau kelompok lain melakukan hal yang sama di Pantai Pede,meminta pemerintah agar mendengar keluhan masyarakat,”ujarnya.

Dijadwalkan misa digelar pukul 9.00 pagi. Sebelum misa dimulai, diawali perarakan patung Bunda Maria dari Paroki Roh Kudus Labuan Bajo menuju Pantai Pede.

Misa ini merupakan salah satu dari rangkaian keterlibatan Gereja Keuskupan Ruteng untuk memperjuangkan Pantai Pede sebagai ruang publik, tidak diserahkan kepada swasta. Sikap penolakan terhadap privatisasi ini merupakan keputusan resmi dalam Sinode pada 16 Januari 2015.

Sebagai pelaksanaan dari putusan Sinode itu, beberapa imam di Labuan Bajo, seperti Romo Robert Pelita dan Romo Rikard Mangu terlibat aktif dalam mempertahankan Pede sebagai ruang publik. Selain mengirimkan surat resmi ke lembaga pemerintah, Gereja melalui beberapa imam juga terlibat dalam sejumlah kegiatan bakti sosial di Pantai Pede, seperti membersihkan sampah. (Ferdinad Ambo/Floresa)