Kampung adat Wae Rebo di Manggarai, salah satu contoh pengembangan pariwisata berbasis ekoturisme. (Foto: http://www.likethisadventure.com)

Labuan Bajo, Floresa.co – Demi mendukung sektor pariwisata di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indecon atau Yayasan Ekowisata Indonesia meluncurkan Proyek Percepatan Pengembangan Pariwisata Melalui Kewirausahaan Kreatif (CREATED) di Labuan Bajo pada Kamis, 26 Mei 2016.

Turut hadir dalam acara itu perwakilan kementerian pariwisata, aparat pemerintahan Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Ngada, pelaku pariwisata, tokoh masyarakat, tokoh adat, LSM, dan para wartawan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Indecon adalah salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat yang memberi perhatian di bidang pengembangan pariwisata berbasis ekoturisme.

Di Manggarai Raya, contoh pendampingan Indecon antara lain pengembangan ekoturisme di Kampung adat Wae Rebo, Kabupaten Manggarai.

Melalui peluncuran program CREATED yang berjangka waktu 3,5 tahun tersebut, Indecon kembali mempromosikan pariwisata terutama melalui peningkatan daya saing dari produk masyarakat.

Upaya itu dilakukan dalam kerja sama dengan masyarakat lokal, dengan fokus di tiga kawasan, antara lain Kawasan Mbeliling di Kabupaten Manggarai Barat, Kawasan Ruteng di Kabupaten Manggarai, dan Kawasan Inerie di Kabupaten Ngada.

Ari Suhandi, Direktur Yayasan Indecon mengatakan, peningkatan daya saing itu antara lain melalui penciptaan nilai tambah bagi produk masyarkat desa, mengembangkan kewirausahaan organisasi pariwisata lokal, mengembangkan jaringan bisnis dan pemasaran produk masyarakat dan pengembangan kapasitas.

Menurutnya, perhatian demikian tidak lepas dari pertimbangan kontribusi positif pariwisata untuk masyarakat NTT. Manfaat pariwisata berbasis ekoturisme, kata dia, di antaranya mampu mendorong masyarakat melestarikan budayanya.

“Di Wae Rebo, masyarakat sudah bisa membangun lebih banyak rumah adat berkat pariwisata”, katanya.

Ia tidak menampik kenyataan bahwa pertanian merupakan pekerjaan utama bagi masyarakat Flores. Namun, pariwisata, katanya, adalah peluang yang bisa dimanfaatkan.

“Masyarakat tidak harus menghabiskan waktunya di pariwisata. Di Wae Rebo, misalnya, dalam seminggu, lima hari untuk pertanian, dua hari bisa bekerja untuk pariwisata” jelasnya.

Sementara itu, memperhatikan kebijakan di tingkat nasional, upaya itu adalah bagian dari mempertimbangkan masuknya Manggarai Barat sebagai salah satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas pada tahun 2016.

Dalam kesempatan itu, Martinus Ban, Asisten Ekonomi Pembangunan Pemerintah Daerah Manggarai Barat menyambut baik rencana tersebut.

Menurutnya, inisiatif tersebut koheren dengan visi kabupaten Manggarai Barat yakni pengembangan agrowisata.

“Kami tahu bahwa Labuan Bajo akan memainkan peranan penting dalam distribusi manfaat pariwisata baik untuk kawasan kami maupun untuk Flores”, ujarnya.

“Kami akan mengembangkan kluster-kluster intensifikasi pertanian untuk menjawab permintaan sektor pariwisata,” katanya.

Sidhu Paulus, Kepala Dinas Perhubungan, Pariwisata, Komunikasi dan Informatika menyampaikan apresiasi serupa.

Ia berharap, kerja sama itu diperluas ke daerah-daerah lain di Bajawa. Katanya, “Tidak hanya di Jerebuu tetapi juga ke area lain seperti Bajawa dan Wolobobo”. (Geregorius/Floresa)