Oleh: IRVAN KURNIAWAN

Setiap hari, melalui media massa kita selalu disuguhkan berbagai berita kasus kejahatan dengan pelaku dari kalangan remaja. Lingkungan, perkembangan teknologi dan informasi disebut-sebut sebagai faktor pemicu kemunduran nilai yang merasuki remaja.

Lewat pergaulan, TV, film, sinetron, internet dan media sosial, budaya kekerasan, hedonisme dan pragmatisme mengalir tanpa filter ke dalam pikiran, lalu secara berlahan mengonstruksi cara berpikir, mengubah kebiasaan serta menjadi bagian dari karakter mereka.

Banyak keluarga yang mungkin sedang dirundung duka bahkan terjangkit frustrasi, mengapa anaknya yang masih remaja suka tawuran, keluar malam, rokok, miras, seks bebas, bahkan kecanduan narkoba. Fungsi kontrol dan pendidikan keluarga dikeluhkan sudah tidak lagi mampu membendung hal-hal itu.

Semakin dikontrol, malah makin liar. Semakin marah malah tambah ganas.  Pada titik, ini orang tua biasanya mulai pasrah. Harapan dan mimpi untuk menjadikan anaknya cerdas secara intelektual, emosional dan spiritual hanya mampu diungkapkan dalam doa-doa sebelum tidur.

Budaya Pop

Sepintas fenomena maraknya kenakalan remaja sudah menjadi trend. Jika ditelisik lebih dalam, pada dasarnya perilaku dan karakter remaja atau pemuda pada umumnya sangat bergantung pada konstruksi realitas  (lingkungan) dan konstruksi media (media masa, elektronik dan online).

Lingkungan dan media menjadi saluran yang paling manjur untuk menebarkan pengaruh negatif dalam diri seseorang. Keduanya bisa saling mempengaruhi dan menopang. Lingkungan (realitas) bisa membentuk pemberitaan dan tayangan media, sebaliknya media juga bisa membentuk opini dan kebiasaan kita.

Namun, ada satu keunggulan media yang juga berpengaruh yakni mampu menciptakan dunia khayalan atau dunia yang dilebih-lebihkan (hyperrealitas).

Dalam dunia ini, penciptaan mitos atau trend sosial paling mungkin terjadi.

Dengan sering menonton film Hollywood misalnya, seorang remaja diajarkan untuk berperilaku hedonis di mana merokok, miras, narkoba, seks bebas dan kekerasan menjadi lumrah dilakukan.

Saat dia melakukan kekerasan seksual, kesadarannya telah dikuasai oleh ‘ketidaksadaran’ yang dihasilkan dari film maupun postingan temannya di media sosial.

Kebiasaan, tingkah laku dan cara berpikir yang mengikuti arus trend ini kemudian disebut sebagai budaya pop. Jika pesan yang diterima, diterjemahkan secara lurus tanpa adanya sikap kritis dari seorang remaja, maka bukan tidak mungkin suatu saat remaja itu akan menjadi korban dari budaya pop ini.

Dunia khayal yang tadi ditontonnya, disalurkan ke dalam dunia nyata, direproduksi, untuk kemudian menjadi trend sosial. Semakin banyak menonton, membaca dan mendengar maka makin besar pula potensi seseorang untuk dikibuli oleh budaya pop.

Dengan kata lain, potensi seorang remaja untuk menjadi manusia hedonis, materialis dan pramatis juga makin besar. Pada tahap ini, sekeras apapun pendidikan keluarga pasti tak mampu membendung perilaku negatif pada remaja.

Orang Tua

Ada satu fenomena yang sekarang marak terjadi yakni tingkat ke-frustrasi-an orang tua, berujung pada sikap pasrah pada realitas. Pendididikan keluarga sudah tidak lagi mampu membendung kenakalan remaja yang lahir dan hidup tepat di zaman globalisasi.

Pada titik ini, orang tua sebenarnya sedang mengalami goncangan budaya (cultural shock) dimana pekembangan teknologi informasi dan komunikasi berlari sangat cepat, sementara pemahaman dan metode pendidikan keluarga yang mereka terapkan sudah usang ditelan zaman.

Situasi ini sebenarnya mau menegaskan bahwa kebanyakan keluarga Indonesia khususnya kita di NTT, belum siap menerima segala macam perkembangan terbaru yang dihasilkan globalisasi.

Orang tua masih terlena dalam romatika masa lalunya dimana etika dan moral sangat dijunjung tinggi dalam pergaulan. Tak ayal kita sering mendengar omelan para orang tua seperti: “Dulu zaman kami tidak seperti ini, tapi sekarang hancur anak-anak kita” atau “Dulu kami sangat mematuhi orang tua, sekarang kalian malah melawan orang tua” dan masih banyak lagi yang lain.

Mendidik anak pada zaman globalisasi memang tergolong pelik, orang tua dituntut agar mampu  mendidik anaknya dalam era yang mungkin saja masih asing baginya.

Tak sedikit dari mereka yang mengalami disorientasi dalam mendidik anak. Mereka hanya dapat melihat akibat yang dihasilkan seperti menjamurnya perilaku menyimpang di kalangan remaja, tanpa melihat apa sebab di balik perilaku menyimpang itu.

Karena itu, mau tidak mau orang tua harus mampu mengenal dan memahami perkembangan terbaru seperti penguasaan aplikasi sosial media, internet, film, sinetron, mode/fashion  dan trend sosial lainnya.

Pengetahuan ini dapat membantu orang tua untuk memahami lebih jauh, bagaimana konstruksi sosial dan media terhadap perilaku anaknya.

Melalui cara ini pula, orang tua dapat mengontrol, mendidik dan mengarahkan anaknya agar dapat memanfaatkan perangkat ilmu pengetahuan dan teknologi secara positif.

Dengan kata lain, orang tua dan remaja harus berjalan bersama mengarungi amukan kemajuan zaman tanpa meninggalkan mereka sendirian.

Pendidikan keluarga di era digital juga penting dilakukan oleh pemerintah dan semua komponen terkait. Bila perlu menjadi program prioritas, sebelum para remaja kita tenggelam dan terhanyut dalam budaya populer yang hadir seperti hantu di malam hari.

Keluarga juga perlu dibekali dengan pendidikan kritis media agar mampu mengarahkan anaknya dalam memanfaatkan media digital secara positif.

Sebentar lagi pada tahun 2020-2030, Indonesia akan menuai puncak bonus demografi.

Ini adalah momentum bagi pemerintah dan semua keluarga Indonesia agar ‘meng-investasi-kan’ kaum muda sebagai aset dan pelopor pembangunan di masa depan.

Penulis adalah lulusan Undana Kupang, pemerhati sosial budaya