Pengusaha Nasional yang Mengais Rejeki di Labuan Bajo

1
3668
Bandar udara Komodo di Labuan Bajo, pintu gerbang masuk Flores dari barat (Foto: Detikfinance)

Labuan Bajo, Floresa.co – Hajatan Tour de Flores (TdF) baru saja dilakukan.TdF dihelat untuk mempromosikan kekayaan wisata Flores dalam kemasan sport.

Karena itu, pasca TdF ini diperkirakan Flores akan makin dikenal. Seiring dengan itu, investasi juga diperkirakan akan mengalir.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan akan ada Rp 16 trilun dana investasi yang akan masuk ke Flores pasca kegiatan ini. Rinciannya, Rp 8 triliun investasi pemerintah di sektor publik dan Rp 8 triliun lagi, investasi sektor swasta.

Pemeritah Pusat juga akan membentuk sebuah badan yang bernama Otorita Labuan Bajo untuk mempercepat pembangunan sektor pariwisata di Labuan Bajo khususnya dan Flores pada umumnya. Lembaga yang direncanakan akan dibentuk pada kuartal ketiga tahun ini merupakan tindak lanjut dari ditetapkannya Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi wisata baru di Indonesia yang serius dikembangkan pemerintah.

Dengan berbagai upaya tersebut, Labuan Bajo diperkirakan akan menjadi ladang bisnis baru bagi pebisnis untuk mengais rejeki. Harapannya tentu ekonomi daerah ini akan ikut maju.

Sebenarnya,sebelum hajatan TdF ini sudah banyak pebisnis nasional yang berinvestasi di Labuan Bajo. Berikut beberapa nama pebisnis yang sudah berinvestasi di Labuan Bajo, berdasarkan penelusuran Floresa.co. Nama-nama yang disebutkan ini mungkin hanya sebagian kecil saja.

1. Keluarga Riady

Salah satu investasi keluarga Riady yang kasat mata di Labuan Bajo adalah rumah sakit Siloam yang baru dibangun tahun 2015 lalu.

Bisnis keluarga Riady ini bernaung di bawah Lippo Group yang dirintis Mochtar Riady, salah satu dari 10 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes pada tahun 2014.

Rumah sakit adalah salah satu dari sekian banyak portofolio bisnis grup Lippo. Akhir tahun 2014 lalu, grup ini memiliki 50 entitas perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti keuangan, properti, serta infrastruktur, bahkan merambah hingga ke Guang Zho, Fujian, Shanghai dan Hong Kong.

Saat ini, kendali bisnis keluarga Riady di Indonesia dipegang oleh James Riady, anak Mochtar Riady.

Sebelum ke Labuan Bajo, Lippo sudah terlebih dahulu membangun pusat perbelanjaan dan rumah sakit di Kupang, Ibu Kota NTT. Bahkan rencannya juga akan membangun rumah sakit di Maumere -Flores.

2. Sofyan Wanandi

Sofyan Wanandi adalah pengusaha sekaligus politikus. Karir politiknya dimulai sejak pergerakan mahasiswa tahun 1966 semasa ia aktif di Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Hingga saat ini, Sofyan terbilang masih aktif menjadi politikus dengan menjadi Ketua Tim Ahli Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Kiprahnya di dunia bisnis dimulai ketika ia bergabung dengan kelompok usaha milik Angkatan Darat, Grup Pakarti Yoga, dan Tri Usaha Bakti pada 1974. Tahun 1980, ia mulai mendirikan perusahaan sendiri dengan nama PT Anugerah Daya Laksana yang bergerak di bidang jual beli komponen otomotif.

Tahun 1984, Sofyan menyatukan semua bisnis keluarganya dibawah satu perusahaan bernama PT Sapta Panji Manggala. Perusahaan ini yang pada tahun 1987 menjelma menjadi Gemala Grup. Pada tahun 2000, sekitar 30 perusahaan di bawah Gemala Grup dibagikan ke anak-anak dan keponakan Sofyan.

Gemala Grup antara lain mengelola sejumlah hotel seperti Lumire dan Luwansa. Salah satu hotel Luwansa ini berada di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

3. Jayakarta Group

Jayakarta Group merupakan perusahaan perhotelan milik PT Pudjiadi And Sons Tbk. Pada tahun 2013, perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Jakarta dengan kode saham PNSE ini memiliki delapan hotel yang tersebar di Jakarta, Bandung, Anyer, Cisarua, Yogyakarta, Bali, Lombok, Mataram dan Labuan Bajo.

Hotel Jayakarta Labuan Bajo berada di bawah naungan anak usaha bernama PT Hotel Jayakarta Flores.

Berdasarkan laporan keuaangan terakhir yang dirilis perusahaan,aset PT Hotel Jakarta Labuan Bajo per 30 Spetember 2015 sebesar Rp 53,53 miliar atau 51,27% dari total aset perusahaan pada periode itu yang mencapai Rp 104,41 miliar. Sedangkan total pendapatan pada periode Januari-September 2015 adalah Rp 6,84 miliar atau 7,46% dari total pendapatan perusahaan pada periode itu yang mencapai Rp 91,71 miliar.

4. Yozua Makes

Yozua Makes adalah pemilik firma hukum Makes & Partners. Di Labuan Bajo, Yozua berinvestasi di sektor properti. Ia adalah Chief Executive Officer (CEO) Resor Plataran di Labuan Bajo.

Baru-baru ini, nama Resor Plataran ini mencuat ke publik gara-gara ada peristiwa penurunan lima bendera asing yang berkibar di depan resor tersebut. Penurunan dilakukan oleh kelompok masyarkat.

Selain nama-nama beken di atas, beberapa nama lain yang disebut-sebut berinvestasi di Labuan Bajo adalah artis Luna Maya (tanah); mantan duta Komodo, Emi Hafild (tanah); putra mantan Presiden Soeharto, Tomi Soeharto (tanah); politikus Nasdem,Jhony Plate (tanah), politikus Nasdem, Victor Laiskodat (tanah) dan pengusaha Benyamin Subrata (tanah) dan masih ada nama-nama lainnya.

Selain orang Indonesia, pengusaha mancanegara juga ikut berinvestasi di Labuan Bajo. Pengusaha asing yang sudah lama masuk ke Labuan Bajo adalah Feisol H. Hashim dari Malaysia yang kini sudah jadi warga negara Indonesia.

Feisol merupakan Presiden Direktur PT Jayatasha Putrindo Utama. Perusahaan ini santer disebut juga sudah lama mengincar Pantai Pede yang saat ini sedang menjadi polemik karena pemerintah Provinsi NTT menyerahkan pengelolannya PT Sarana Investama Manggabar yang disebut-sebut milik Ketua Umum Golkar Setya Novanto. (Sirilus Ladur/Ferdinand Ambo/Floresa)

Advertisement

1 Komentar

  1. Flores is fast becoming a popular tourist destination.
    Flores is beautiful with much beautiful coastline.

    I am a resident on Bali Island and I am seeing destruction of major proportions happening here…..
    I think investors on Flores need to look at what has happened on Bali Island.

    Indonesia is a tropical paradise it would be very sad to see western style buildings dominate the coastline…
    Indonesian architecture and design must be preserved to blend in with surrounding neighbourhoods.

    I pray greed will not destroy Flores like it has Bali Island.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini