Dr.Pius Nalang, M.Si, Ketua STIKES Gunungsari Makassar

Floresa.co – Salah seorang putra terbaik Manggarai Flores NTT, Dr.Pius Nalang, M.Si diberi kepercayaan memimpin kampus, di tanah perantauan dengan menjadi Ketua STIKES Gunungsari Makassar.

Pencapaian karier selaku orang nomor satu di kampus mendidik sarjana dan ahli madya kesehatan ini diperoleh dengan kerja keras dan perjuangan yang teramat panjang.

Agar bisa bertahan di kampung orang atau di mana saja ditempatkan, dia memegang prinsip hidup, yakni bersikap jujur, bertanggungjawab dan rasa memiliki. Prinsip inilah dipraktekkan sehingga sampai saat ini masih tetap dipercaya untuk menakhodai kampus, tandas Pius Nalang ditemui di kampusnya, Rabu 18 Mei 2016.

Pius Nalang bukan lagi orang orang baru di Makassar, tapi sudah puluhan tahun mencari hidup dan meniti karier, sejak tugas belajar utusan pemerintah Provinsi NTT ke Makassar di D3 Keperawatan Poltekes Bantabantaeng 1988. Setelah tamat 1991, oleh Kadiskes NTT diangkat menjadi guru di SPK Depkes di Kabupaten Ende sampai 1996. Sejak tahun 1997 pindah tugas ke Makassar ditempatkan di SPK Labuang Baji Makassar.

Perjalanan karier akademik berjalan cukup terang, sejak 2010 sampai sekarang, Pius Nalang diberi amanah dan diangkat menjadi Ketua Stikper Gunung Sari. Tapi sebelum diangkat dia adalah dosen di kampus ini.

Stikper Gunung Sari Makassar, membina tiga prodi yakni, S1 Keperawatan, D3 Keperawatan dan prodi Ners. Tahun 2016 persiapkan prodi baru S2 Kesehatan Masyarakat konsentrasi Promosi Kesehatan. Pius berharap secepatnya sudah bisa menerima mahasiswa baru.

Tinggal menunggu proses izin Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi. Soal SDM sudah memiliki dua orang doktor dan akhir tahun 2015 ada lagi empat sudah menyelesaikan S3.

Sebagai pendatang di Sulsel, tidak mudah bisa bertahan di Kota Metropolitan Makassar, jika tidak mampu menjalin berkomunikasi baik dengan lingkungan sosial , termasuk di internal kampus maupun di masyarakat lebih luas lainnya. Kemampuan berkomunikasi yang ditunjukkan tokoh masyarakat NTT di Sulsel ini, justru dihargai di lingkungannya. Dia merasa sangat kagum berada di Makassar dan ternyata orang Makassar itu sangat baik, kata Wakil Ketua I Kerukunan Keluarga NTT Provinsi Sulsel ini.

Orang Makassar itu tidak melihat dari suku mana dia berasal, tetapi sungguh-sungguh hanya melihat siapa berprestasi maka dialah layak untuk dipercaya menjadi pimpinan. Seperti halnya dirinya sekalipun bukan orang Sulsel, tapi karena dianggap layak memimpin kampus maka posisinya sebagai ketua di Stiper Gunung Sari Makassar aman-aman saja, ungkapnya.

Bersikap Jujur

Agar bisa bertahan di kampung orang atau dimana saja dia ditempatkan, dia memegang prinsip hidup, yakni bersikap jujur, bertanggungjawab dan rasa memiliki. Prinsip inilah dipraktekkan sehingga sampai saat ini masih tetap dipercaya untuk menakhodai kampus, tandasnya.

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan (STIKPER) Gunungsari Makassar berasal dari multikultural etnis. Mereka itu ada di antaranya dari Sulawesi, Kalimantan, Ternate, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Papua, serta mahasiswa asal dari sejumlah pulau lainnya di Indonesia. Keragaman suku itu, sehingga dinamika di kampus serasa menghadirkan wajah Indonesia mini, ungkapnya.

Realitas demikian menjadikan kampus senantiasa jadi idola sekaligus rujukan bagi alumni SLTA melanjutkan pendidikan tinggi di kampus yang letaknya cukup strategis di kota Makassar ini. Data akademik terakhir menunjukkan, jumlah mahasiswa terbanyak dari Ternate (45%), NTT( 23%), NTB (15%), Papua (5%), dan sisanya dari Sulawesi dan Kalimantan.

Lahir di Munde

Pius Nalang, M.Kes, menilai pertumbuhan dan perkembangan kampus beberapa tahun terakhir ini, mengalami kemajuan cukup pesat. Proses pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus tidak terlalu mendapat tantangan dan masalah krusial dan berat, tandas doktor administrasi publik PPs-UNM 2012 ini.

Prinsip kerja selalu dibangun di kalangan civitas akademika kampus, mulai dari cleaning service, security, staf, maupun dosen tidak ada dibeda-bedakan. Pendekatan dilakukan adalah kekeluargaan, jarang menggunakan pola birokrasi, tapi menganggap semuan adalah keluarga.

Tidak ada yang merasa paling disuka atau sebaliknya. Di kampus ini hanya berlaku orang yang dituakan. “Jadi di kampus ini tidak berlaku absensi, tidak ada istilah pimpinan, tapi ditumbuhkan adalah rasa memiliki kampus, sehingga ada rasa kebersamaan membangun kampus ini lebih maju,”tandasnya.

Pria kelahiran Kampung Munde, Manggarai, Flores, NTT 1960 ini melakukan pendekatan kepada mahasiswa dengan membangun dan menerapkan kearifan lokal. Mengingat kampus ini mahasiswanya berasal dari beragam etnis, suku dan agama, maka pendekatan dilakukan yakni mengedepankan dan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dari masing-masing etnik.

Kalau misalnya menghadapi orang Papua, tentu pendekatan lokal orang Papua, begitu pula yang lainnya. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa yang dilayani tidak ada merasa tersisihkan dengan yan lainnya. Diakuinya dengan pendekatan budaya ini semuanya lancar, dan kalaupun ada masalah cepat dilaporkan sehingga mudah mengatasinya. (*Floresa)