Mbaru gendang (Rumah Adat) Todo. (Foto: Floresdiscovery.com)

Oleh : VIANNEY ANDRO PRASETYO

Dalam catatan ‘Sejarah Manggarai dalam Lintasan Sejarah Nusantara’ dituliskan secara singkat mengenai asal usul Adak (Dalu) Todo yang berasal dari Minangkabau. Tulisan ini mencoba mengkaji kembali secara lebih rinci kebenaran mitos atau legenda tersebut melalui catatan sejarah yang bisa dijadikan referensi secara ilmiah.

Menggali catatan sejarah Manggarai memang masih sulit dilakukan, karena cerita sejarah masih diturunkan secara verbal dari generasi ke generasi. Analisa dan kajian bisa dilakukan dengan menggunakan referensi sejarah dari kebudayaan lain seperti Bima, Makassar (Gowa). Luwu ataupun Minangkabau.

BACA JUGA:

Tidak adanya akses ke pendidikan mengakibatkan budaya Manggarai pada masa lampau tidak mengenal budaya literasi dalam konteks membaca dan menulis. Sekitar awal abad ke 20 barulah ada kesempatan bagi genersi muda Manggarai saat itu untuk mengenal budaya literasi, akibat intervensi Pemerintah Kolonial Belanda dan Misionaris yang mengirimkan mereka untuk belajar di sekolah-sekolah misi yang ada di Flores. Misionaris dan Pemerintah Kolonial Belanda juga telah membantu memberikan referensi sejarah Manggarai sejak awal 1900 melalui penelitian-penelitian etnologi.

Minangkabau

Suku Minangkabau dan Makassar – Bugis merupakan sedikit dari suku-suku di Indonesia yang melakukan perantuan pada masa lalu (Persoon 2002). Wilayah yang diliputi juga cukup besar. Suku Minangkabau merantau hampir diseluruh kawasan Asia Tenggara termasuk kawasan Indonesia Timur. Salah satu perantau awal dari Minangkabau bermukim di kawasan Negri Sembilan di Semenanjung Malayu dan menjadi bagian dari Negara Federasi Malaysia saat ini.

Jauh sebelum James Cook mencapai Australia pada tahun 1770, suku Makassar-Bugis diketahui telah melakukan pencarian teripang hingga ke pesisir utara di benua Australia dan melakukan perdagangan hingga ke Madagaskar dan Afrika Selatan. Ada kemiripan yang mendasari perantuan suku-suku ini, yaitu perdagangan atau faktor ekonomi. Namun, ada satu hal yang berbeda dari Suku Minangkabau yang juga mendorong suku ini untuk merantau, yaitu budaya Matrilineal (Persoon 2002).

Orang Minangkabau akan pergi merantau dan enggan untuk kembali sebelum meraih kesuksesan. Suatu pegangan hidup yang ditanamkan oleh para Ibu di Minangkabau kepada anak laki-lakinya yang kini menjadi lebih umum bagi suku-suku lain di Indonesia. Anak laki-laki Minangkabau akan merantau dan keluar dari rumah saat dewasa karena menyadari bahwa rumah dan tanah menjadi hak bagi Saudarinya, apalagi bila saudari mereka sudah menikah dan mempunyai anak. Suatu budaya yang diperkenalkan oleh nenek moyang legendaris masyarakat Minangkabau Datuak Katamanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sebatang. Mereka berdua yang dipercaya menyusun sistem adat Minangkabau atau yang dikenal dengan Lareh Bodi Caniago pada sekitar tahun 1200, jauh sebelum Agama Islam masuk ke Minangkabau (Batuah AD dan Madjoindo AD 1959).

Adityawarman, Pendiri Kerajaan Minangkabau (Malayapura
Adityawarman, Pendiri Kerajaan Minangkabau (Malayapura

Menurut catatan dalam Suma Oriental oleh Tome Pires, diketahui bahwa pada sekitar awal tahun 1500 terdapat Tiga Raja yang berkuasa di Minangkabau; Raja Alam, Raja Sabda dan Raja Ibadat (Cortesao A 1944). Menurut catatan yang dibuat antara tahun 1513-1515, disebutkan bahwa dari ketiga Raja Minangkabau tersebut hanya satu yang telah memeluk Agama Islam sejak 15 tahun sebelumnya. Ini artinya, Agama Islam mulai berkembang di sebagian masyarakat Minangkabau pada sekitar tahun 1498 – 1500.

Dalam catatan portugis, pada tahun 1490, di Bandar Makassar telah terdapat suatu perkampungan Melayu – Minangkabau yang kemudian berkembang menjadi lebih besar, terutama sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis pada tahun 1511, yang mengakibatkan migrasi besar-besaran penduduk Melayu – Minangkabau dari Malaka ke Makassar (Kerajaan Gowa – Tallo).

Kesultanan Malaka saat itu memang dipengaruhi oleh Islam namun pada pelaksanaan hukum dan pemerintahan tidak didasarkan sepenuh pada nilai-nilai Islam (Halimi 2008). Demikian pula dengan situasi masyarakat Minangkabau saat itu. Masyarakat Minangkabau baru menerapkan ajaran Islam sepenuhnya setelah meletusnya Perang Paderi (1803-1838), akibat konflik antara Kaum Adat dan Kaum Paderi (Ulama).

Kerajaan Gowa-Tallo

Pada awal tahun 1500, bandar Makassar merupakan suatu Bandar penting di kawasan Timur Indonesia yang menjadi titik persinggahan dalam melakukan pelayaran ke arah Maluku. Sebagai titik perdagangan yang sibuk, Makassar juga mempertemukan orang dari berbagai macam kebudayaan atau kerajaan yang berbeda, seperti Gowa, Bugis, Luwu, Bima, Portugis, Melayu – Minangkabau juga Maluku.

Raja Gowa pertama yang memeluk Islam adalah Raja Gowa ke 14 yang bernama I Mangari Daeng Manrabbia, yang setelah memeluk Islam dikenal juga dengan nama Sultan Alauddin (1593 – 1639). Sultan Alauddin dan keluarganya memeluk Islam pada tahun 1605, pada tahun yang sama saat pemimpin Kerajaan Tallo, Karaeng Matoaya I Malingkang Daeng Manyonri’ Karaeng Katangka juga memeluk Islam dan bergelar Sultan Abdullah. Semenjak itu Kerajaan Gowa-Tallo, dibawah pimpinan Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah, menjadi pusat penyebaran Islam di Sulawesi Selatan termasuk Kerajaan-Kerajaan di sekitarnya seperti Bone, Luwu, Siang dan juga Bima.

Ayah dari Sultan Alauddin adalah Raja Gowa ke 12 yang bernama I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565 – 1590) atau yang biasa disebut Raja Tunijallo. Raja Tunijallo tidak memeluk Islam hingga kematiannya, namun dalam masa pemerintahannya, Raja Tunijallo mempunyai hubungan baik dengan masyarakat Melayu-Minangkabau yang bermukim di Makassar, termasuk mengijinkan pendirian Mesjid bagi komunitas Melayu ini.

Dalam Gelar Raja Tunijallo terdapat kata ‘Manggorai’ yang cukup serupa dengan nama ‘Manggarai’ di Flores bagian Barat. Perlu dikaji lebih lanjut apakah ada hubungan antara masa pemerintahan Raja Tunijallo dan penamaan Flores bagian barat menjadi ‘Manggarai’. Yang jelas, pengaruh budaya Gowa cukup terasa di kebudayaan Manggarai hingga saat ini termasuk penggunaan kata dan istilah seperti, Karaeng atau Kraeng, Ngaji (berdoa), Jarang (Kuda), Lipa (Kain), Manuk (ayam).

Luwu

Menurut catatan La Galigo (catatan Epik kuno dari suku Bugis), Kerajaan Luwu adalah Kerajaan tertua di Sulawesi Selatan. Raja Luwu pertama yang memeluk Islam adalah Andi Pattiware’ Daeng Parabung atau Pattiarase yang memerintah dari tahun 1587 – 1615. Sang Raja memeluk Islam pada tahun 1605, dan bergelar Sultan Muhammad. Perlu diketahui bahwa Raja Luwu memeluk Islam lebih dulu dibandingkan Raja Tallo dan Raja Gowa, namun terjadi pada tahun yang sama 1605.

Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan adalah dorongan dari para Datuk yang berasal dari Melayu – Minangkabau yang telah memeluk Islam kurang lebih 100 tahun lebih dulu. Dalam sejarahnya, Kerajaan Luwu beberapa kali terlibat konflik dengan tetangganya Kerajaan Bone. Demikian pula Kerajaan Bone dengan Kerajaan Gowa-Tallo.

Menurut Hikayat Wajo, persekutun Wajo dan Luwu sudah pernah ditaklukkan oleh Kerajaan Gowa-Tallo jauh sebelum perjanjian antara ketiga Kerajaan Bugis yang dikenal dengan nama Perjanjian Tellumpocco, disepakati.

Perjanjian Tellumpocco disepakati pada tahun 1582 yang isinya adalah menjaga perdamaian diantara tiga Kerajaan; Bone, Soppeng dan Wajo, dan juga menguatkan persekutuan ketiga Kerajaan tersebut.

Perjanjian ini juga yang membuat Raja Gowa ke 12, I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo menjadi berang, karena Wajo-Luwu yang merupakan daerah taklukkannya membuat persekutuan atau perjanjian dengan Kerajaan lain tanpa sepengetahuan Gowa-Tallo. Raja Tunijallo kemudian menyerang Bone yang mengakibatkan terbunuhnya Raja Tunijallo oleh pengawal sendiri karena Sang Raja dianggap telah merusak masa damai yang selama ini terjalin antara Gowa dan Bone.

Bima

Menurut catatan sejarah Bima yang disebut Bo, Raja Bima pertama yang memeluk Islam adalah Raja La Ka’I pada tahun 1621. Ayah dari La Ka’I adalah Raja Ruma Mantau Asi Sawo, dan setelah mangkatnya Raja Asi Sawo, La Ka’I terlibat dalam perebutan tahta dengan pamannya, Ruma Sarise. Dalam pelariannya, La Ka’I bertemu dengan utusan Sultan Alauddin, Gowa yang akan menyebarkan Islam di Bima. La Ka’I setuju untuk memeluk Islam dan bersekutu dengan Gowa sehingga akhirnya berhasil merebut tahta Kerajaan Bima.

Setelah diangkat menjadi Raja, La Ka’I bergelar Sultan Abdul Kahir. Sultan Abdul Kahir memperistri adik ipar dari Sultan Alauddin, Gowa untuk memperat persekutuan. Perkawinan antara bangsawn dari Kerajaan Gowa dan Bima terjadi hingga beberapa generasi berikutnya. Selanjutnya, Sultan Bima memberikan upeti kepada Sultan Gowa untuk mengenang jasa Gowa dalam membantu perebutan tahta.

Awal hubungan Gowa dan Bima tidak diketahui secara pasti, namun dapat disimpulkan terjadi sejak sebelum kedua Kerajaan menjadi Islam. Pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke 12, Raja I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565 – 1590), sang Raja sudah menyebutkan tentang Kerajaan Bima.

Kesimpulan (Hipotesa)

Untuk menghasilkan suatu kesimpulan, pertama-tama kita harus menjawab beberapa pertanyaan kritis mengenai;

  1. Bila memang Adak Todo berasal dari Minangkabau, kenapa Agama Islam tidak berkembang di Todo atau Manggarai pada umumnya?
  2. Bila memang Adak Todo berasal dari Minangkabau, kenapa sistem Matrilineal

Hipotesa ini mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan ini menggunakan catatan sejarah yang telah disebutkan sebelumnya.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa nenek moyang Adak Todo adalah seseorang yang bernama Empo Masur yang berlabuh di Warloka, Manggarai Barat hingga kemudian menetap di Todo. Empo Masur dipercaya sebagai keturunan Raja Luwu dan juga keturunan Minangkabau.

Seperti yang kita ketahui saat ini, Luwu dan Minangkabau secara geografis adalah dua lokasi yang berbeda. Minangkabau berada di Sumatera dan Luwu berada di Sulawesi Selatan. Secara etnis juga berbeda, suku Minangkabau adalah bagian dari etnis Melayu termasuk Sumatera dan Malaysia, sementara suku Luwu dipercaya sebagai bagian dari etnis Bugis, namun ada juga yang mengatakan suku Luwu adalah tersendiri dan bukan bagian dari Bugis.

Pertama, bila memang Adak Todo berasal dari keturunan Raja Luwu dan Minangkabau, dapat dikatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari masa saat kebudayaan suku-suku ini belum mengenal Islam. Bisa terjadi pada masa pemerintahan Raja Gowa yang ke 12, Raja I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565 – 1590) atau bahkan jauh sebelum itu.

Peran Kerajaan Gowa disini adalah sentral karena Kerajaan ini lah yang mempertemukan berbagai macam kebudayaan ini pada masanya. Seperti diketahui pada masa Raja Tunijallo, Kerajaan Wajo dan Kerajaan Luwu menjadi daerah taklukkan Gowa. Pada masa itu Bandar Makassar menjadi suatu bandar yang ramai untuk perdagangan dan sangat mungkin terjadi dimana keturunan Bangsawan Wajo ataupun Bangsawan Luwu menetap di wilayah Gowa, sekitar Makassar. Masa damai sebelum Perjanjian Tellumpocco (1582) juga memudahkan arus perpindahan manusia antar Kerajaan ini.

Kedua, pada masa itu di Makassar telah bermukim penduduk Melayu-Minangkabau sejak 1490 dan menjadi semakin banyak sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511). Penduduk Melayu-Minangkabau yang bermigrasi ini mungkin belum Islam mengingat dalam catatan Tome Pires (1513-1515), dikatakan bahwa dari 3 Raja Minangkabau, hanya satu yang memeluk Islam, artinya sebagian besar masyarakat Minangkabau masih memegang adat (Lareh Bodi Caniago) termasuk mereka yang bermukim di Makassar.

Ketiga, Makassar sebagai melting pot dari berbagai macam kebudayaan ini sangat memungkinkan terjadinya perkawinan antar suku, baik itu yang berasal dari Melayu-Minangkabau dan yang berasal dari Sulawesi Selatan (Bugis, Luwu, Gowa). Bila Empo Masur dikatakan sebagai keturunan Raja Luwu dan Minangkabau, mungkin saja Empo Masur adalah peranakan keturunan Bangsawan Luwu dan masyarakat Melayu-Minangkabau yang menetap di Makassar.

Peran Raja Gowa yang ke 12, Raja I Manggorai Daeng Mameta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo (1565 – 1590) juga penting, mengingat pada masanya Sang Raja telah menyebutkan tentang Kerajaan Bima. Mungkin saja pada masa pemerintahannya, Raja Tunijallo mengirimkan ekspedisi ke Bima dan Flores Barat dan di dalamnya terdapat Sang Empo Masur yang kemudian memutuskan menetap di Flores bagian Barat setelah mendarat di Warloka dan bergerak menuju Todo.

Selain itu, nama ‘Manggorai’ pada gelar Raja Tunijallo juga memiliki kesamaan dengan penamaan Flores bagian Barat menjadi ‘Manggarai’. Hal ini mungkin saja ada hubungannya yang perlu dikaji lebih lanjut. Apakah nama ‘Manggarai’ diberikan setelah penamaan gelar Raja Tunijallo ataukah nama gelar Raja Tunijallo diberikan setelah adanya nama ‘Manggarai’.

Hal ini cukup umum pada penamaan gelar Bangsawan Inggris, seperti Raja James I yang setelah armadanya menguasai Pulau Run di Banda menyebut dirinya sebagai James I King of England, Scotland, Ireland and Run atau Pangeran William yang disebut Duke of Cambridge. Namun, penamaan tempat juga kadang mengacu pada pemimpin yang berkuasa saat itu, misalnya penamaan Virginia pada tahun 1583, yang saat ini menjadi salah satu negara bagian Amerika Serikat yang dinamakan setelah Ratu Elizabeth I dari Inggris yang tidak menikah (1533-1603).

Keempat, mungkin telah terjadi asimilasi budaya antara masyarakat Melayu-Minangkabau yang menetap di Makassar dengan masyarakat Bugis, Gowa ataupun Luwu yang menganut sistem Patrilineal. Perkawinan campur, status sebagai pendatang dan asimilasi budaya yang cukup lama telah menyulitkan berkembangnya sistem Martrilineal yang dianut oleh masyarakat Minangkabau di Makassar. Sehingga bila Empo Masur dikatakan sebagai keturunan Raja Gowa dan Minangkabau, maka mungkin saja Empo Masur tidak lagi menganut sistem Matrilineal.

Pada akhirnya, Adak Todo tidak diturunkan oleh keturunan Raja Luwu dan Minangkabau semata. Jauh sebelum itu di Manggarai telah bermukim masyarakat asli yang datang dari gelombang migrasi manusia dari masa yang lebih lampau. Perkawinan antara keturunan Raja Luwu – Minangkabau dengan masyarakat asli ini yang mungkin kemudian berkembang menjadi Adak Todo dan memberi warna keragaman dalam Budaya Manggarai.

Singkat kata, ini adalah sebuah hipotesa yang perlu dibuktikan kebenarannya melalui kajian yang lebih mendalam dan pembuktian secara ilmiah (tes genetik dan lain sebagainya). Lebih penting, mari kita jaga keunikan budaya Manggarai yang telah ikut memperkaya keragaman budaya Bangsa Indonesia.

Penulis adalah alumnus Australian National University