Pemkab Matim Gelar Panen Raya Jagung di Tengah Gagal Panen

0
358
Pemerintah Kabuapaten Manggarai Timur melakukan panen raya jagung secara simbolis di dusun Purang Mese, Desa Compang Ndejing, kecamatan Borong, Kamis 12 Mei 2016 (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Borong, Floresa.co – Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur(Matim), Pimpinan DPRD, Dinas Pertanian NTT, Kementerian Pertanian RI, Danramil dan Kapolsek Borong melakukan panen raya jagung secara simbolis di dusun Purang Mese, Desa Compang Ndejing, kecamatan Borong, Kamis 12 Mei 2016.

Ruswandi, pejabat Kementerian Pertanian RI yang hadir dalam kegiatan panen raya itu dalam sambutannya mengatakan sektor pertanian perlu perhatian secara serius dari pemerintah setempat.

“Kalau kami melihat potensi yang ada di Manggarai Timur ini cocoknya sektor pertanian, oleh karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk melestarikannya”,ujarnya.

Namun ia khawatir sektor pertanian ini terganggu karena sumber mata air yang semakin kurang akibat berbagai macam aktivitas pertambangan termasuk kegiatan pengerusakan hutan sebagai sumber mata air.

Dalam kesempatan yang sama Bupati Manggarai Timur, Yosep Tote, mengatakan untuk memwujudkan kesejahteraan masyarakat Manggarai Timur harus mengetahui potensi daerah.

“Pemkab Manggarai Timur telah memberi sumbangsih terhadap pengembangan sektor pertanian yakni telah membuka percetakan sawah di Buntal dan telah menyumbangkan 118 kapal untuk sejumlah nelayan di Manggarai Timur” jelasnya.

Namun Tote, mengkritisi masyarakat yang pergi merantau di luar Manggarai Timur. Kata dia, masyarakat harus kembali ke untuk membangun daerah, jangan karena gelar sarjana lalu tidak mau bertani.

Menurut Tote, banyak sarjana yang mengharapakan menjadi pegawai, tetapi tidak punya kreatifitas.”Sektor pertanian terbuka lebar dengan demikian para sarjana harus melihat potensi itu,”ujarnya.

Bukan hanya itu Bupati Tote juga menyoroti soal banyak masyarakat di Manggarai Timur yang berprofesi ganda.”Dia petani, dia nelayan, dia juga kontraktor. Ini repot, sehingga produktifitas tidak efektif karena tidak konsentrasi pada satu bidang,”tandas bupati yang berpasangan dengan Andreas Agas ini.

“Yang dibutuhkan Matim adalah budaya kerja, kemampuan mengelola potensi yakni lahan pertanian Manggarai Timur yang sangat luas”,sambungnya.

Ia menambahkan “Dinas Pertanian sebagai leading sektor harus bekerjasama dengan masyarakat agar bisa meningkatakan produktifitas dalam bidang pertanian”.

Silvester Djerabat, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Manggarai Timur dalam laporan Pelaksanaan Panen Simbolis Jagung Hibrida tersebut menjelaskan dalam upaya peningkatan produksi dan produktifitas tanaman pangan, benih mempunyai peranan yang sangat strategis.

“Ketersediaan dan penggunaan benih unggul bersertifikat yang memenuhi aspek kualitas dan kuantitas serta dibarengi dengan aplikasi teknologi budidaya lainnya seperti pupuk berimbang sangat berpengaruh nyata terhadap peningkatan produksi, produktifitas dan mutu hasil produk tanaman pangan”,tandasnya.

Menurutnya, dalam lima tahun terakhir petani di Manggarai Timur sudah mulai menggunakan benih jagung hibrida baik yang bersumber dari bantuan pemerintah pusat maupun dari pemerintah kabupaten.

Ia mengungkapakan jagung hibrida di desa Compang Ndejing kecamatan Borong merupakan bantuan dari APBN dan APBD II tahun anggaran 2015 yang dialokasikan kepada kelompok tani di desa Compang Ndejing seluas 215 hektare varietas BISI 16 dan desa Watu Mori seluas 75 hektare varietas BISI 18 dengan produktivitas 4,5  per hektare pipilan kering.

Menurutnya, dukungan pemerintah pusat untuk memwujdukan program swasembada pajalele di Manggarai Timur pada tahun 2015 berupa bantuan dana dari APBN sebesar Rp 20.164.000.000.

Panent raya terjadi di saat petani mengalami gagal panen (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)
Panen raya terjadi di saat petani mengalami gagal panen (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Namun, kegiatan panen simbolis ini justru terjadi di tengah gagal panen yang dialami para petani.

Ketua kelompok tani Baeng Koe, Siprianus Jono mengatakan “Tahun ini hampir seluruh petani jagung telah mengalami gagal panen, karena minimnya curah hujan dan juga hama belalang” ujarnya kepada wartawan usai panen raya berlansung, Kamis 12 Mei 2016.

Ia menjelaskan biasanya para petani panen 4 ton lebih dengan luas lahan 1 hektare. “Jadi menurut saya apa yang diperkirakan pemerintah dengan panen 8 ton per hektar yang dilakukan panen raya hari ini itu sangat berlebihan,”ujarnya.

“Hasil maksimal saja hanya 4 ton per hektare, tidak mungkin kali ini bisa sampai 8 ton per hektare”,tamabahnya.

Ia berharap kepada pemerintah agar ke depan bisa mengoptimalkan pemanfaatan saluran primer yang sudah ada maupun jaringan irigasi tersier yang selama ini belum pernah dialiri air.

“Kalau memang pemerintah betul-betul serius mereka atur supaya mengalirkan air sampai ke dusun Purang Mese, desa Compang Ndejing, dan tolong pemkab untuk menyumbangkan pupuk serta obat pencegah hama belalang,”ujarnya berharap.

Ia juga berharap Pemerintah Manggarai Timur menyumbangkan mesin rontok jagung kepada kelompok tani yang ia pimpin. “Kalau kelompok yang lain sudah ada semua hanya kelompok kami yang belum” harapnya lagi. (Ronald Tarsan/Floresa)

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini