Salah satu adegan dalam pementasan drama musikal Ombeng di Ruteng pada Sabtu malam, 23 April 2016. (Foto: Frans Joseph)

Ruteng, Floresa.co – Sabtu malam, 23 April 2016,  Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai – Flores tampak berbeda.

Dinginnya malam tak menyurutkan semangat warga untuk bergegas menuju gedung Manggarai Convention Center (MCC), yang terletak di kompleks pertokoan.

Sekitar pukul 18.45 Wita, suasana di sekitar gedung MCC  mulai tampak ramai. Warga dari berbagai kalangan usia berbondong-bondong memasuki gedung itu.

Suasana tampak ramai terlihat di pelataran parkir MCC. Sejumlah orang muda tampak bersiap mengatur kendaraan yang diparkir.

Sementara itu, di tangga masuk gedung, tampak beberapa panitia penjual tiket telah menunggu. Setelah melakukan registrasi di pintu masuk, baik kelas VIP dan Ekonomi, para warga pun disambut dengan suasana ala keseharian orang Manggarai.

Konsep panggung berwarna hitam serta paduan musik pengantar di sudut barat gedung MCC menjadikan malam Minggu warga Ruteng tampak spesial.

Di MCC, malam itu, Orang Muda Katolik (OMK) Kevikepan Ruteng mementaskan drama musikal berjudul “Ombeng.”

Ombeng, Seni Panggung Musikal

Pementasan ini diawali oleh sekelompok anak muda yakni Ferdy Mozak, Ancik Suhardi, Djehatu Ary, Celly Djehatu dan Ronal Iring yang memasang kata Ombeng pada kain hitam panggung.

Setiap huruf yang membentuk kata itu begitu menarik dengan warna berbeda. Huruf O berwarna hijau, huruf M bersama pink, huruf B berwarna kuning, huruf E berwarna orange,  huruf N berwarna biru dan huruf G berwarna pink.

Sekelompok anak muda ini memadukan huruf yang ada menjadi kata Ombeng. Judul yang memberi awalan pada pementasan malam ini.

Perjalanan cerita pun berlanjut kepada permainan sekelompok pemuda dan pemudi di tanah lapang.

Para pemudi antara lain Diah Ceseliliana Putri, Okta Rewes, Rhiny Wolos dan Eltin Damon. Mereka tampak begitu bergembira.

Ada yang berlari ke sana kemari, berdansa, memainkan permainan masa kecil dan ada kegembiraan di raut wajah mereka.

Namun, kegembiraan ini terhenti sejenak ketika terjadi perang mulut antara dua pemuda. Perang mulut ini bermula saat salah satu pemudi terjatuh.

Beruntung, ada Ema (bapak) yang diperankan oleh Erick Ujek, melerai dan memberi nasehat kepada sekelompok pemuda dan pemudi ini.

Toh, pada akhirnya perang mulut dapat diatasi dan lagu Ngkiong Le Poco yang dibawakan oleh Rini Wolos memberi gambaran tentang kehidupan yang tenteram dan penuh kegembiraan.

Nyanyian yang dipadukan dengan gerakan dari para penari benar-benar memberi sajian luar biasa diawal drama musikal Ombeng.

Adegan berikut, sepasang muda mudi yang sedang jatuh cinta. Daria (diperankan oleh Eltin Damon), sedang didekati oleh Dorus (diperankan oleh Ancok Suhardi). Keduanya begitu lepas memerankan suasana jatuh cinta.

Tingkah lugu Dorus saat menyanyikan lagu Thingking Out Loud sukses menarik perhatian penonton untuk terlibat langsung dalam suasana jatuh cinta ini. Daria tampak kikuk ketika Dorus menghampirinya dengan jutaan rasa cinta.

De enu daku, engkau enerjik dan masih muda. Engkau membuat hidup ini menjadi lebih indah. Engkau kekasihku, engkaulah yang menjadikan semua alasan menjadi indah. Karena cintamu dan cintaku kepadamu, aku mampu melakukan apa saja. Engkau kekasihku, menemani semua harihariku.” begitu ungkapan cinta yang disampaikan oleh Dorus.

Apa benar engkau mencintai aku?” begitu tanya Daria. Dengan apa lagi aku harus membuktikan cintaku” jawab Dorus penuh yakin.

Cinta mengalahkan semua kebimbangan. Pada akhirnya, pasangan ini menyatukan kesatuan cinta dengan bersama-sama menyanyikan lagu Mata Leso Ge.

Perpaduan suara keduanya yang merdu  menambah kemesraan cinta yang sudah lama dipupuk.

Drama pun berlajut ketika ibu dari Daria (diperankan oleh Valleary Yholandriani Mbukut) masuk menyapu lantai rumah.

Baju putih dan kain songke menyatu bersama tubuhnya. Ketika ia sedang serius menyapu, seorang pemuda datang menyampaikan bahwa anaknya sedang hamil.

“Co tara nenggo’o anak daku (kenapa anak saya harus terjadi seperti ini?).” tanya sang ibu pada dirinya sendiri. Ia pun terus menangis.

Ia tak sendiri. Suaminya (diperankan oleh Adenk Krowa) datang memberi peneguhan. Ia merangkul dan memegang pundak istrinya.

“Sakit bapa, sakit. Tak ada lagi yang lebih sakit bapa. Anak gadis kita hamil”, tangisan sang ibu tak dapat terbendung. Sang suami terus merangkul. Ketika sang ibu masih menangis, Ema pun hadir di hadapan mereka.

Ia memberi nasehat “Peristiswa ini memang akan meninggalkan duka” jelas Ema.

Sang suami tak dapat menerima kenyataan ini, Tapi apa salah kami ema? tanya ayah Daria.

“Kesalahan utamanya ialah karena kita sering menyalahkan diri sendiri ketika kesalahan menimpa generasi kita. Kesalahan lain juga kalau mau dibilang kesalahan adalah karena kita tidak banyak melibatkan mereka dalam berbagai hal. Mereka jarang dilibatkan dalam setiap peristiwa adat. Bagimana mereka bisa tahu pesan orang tua dan nenek moyangnasehat Ema dengan penuh kewibawaan.

Nasehat itu pun dipadu dengan lagu ia bawakan sendiri, Mai Sae.

Peristiwa yang terjadi pada keluarga Ayah dan Ibu Daria ini pun pada akhirnya menjadi beban yang begitu berat dipikul.

Mereka begitu sedih mendengar kabar, anak gadis mereka satu-satunya telah berbadan dua.

Namun, tiba-tiba Ema berbicara lagi. Kapan kita tahu mereka telah dewasa?Demikianlah mereka pun boleh menentukan sendiri, jadi toe salah anak demeu (bukan salah anak kalian). Am salah de sangged lawa (mungkin salah kita semua)” Ema tak henti-hentinya memberi nasehat.

“Ataukah kita harus menyalahi perkembangan zaman? Mereka telah lebih maju dari kita dalam mendapatkan informasi”.

Seorang pemuda kemudian berjalan perlahan di depan Ema serta ayah dan ibu Daria.

Mereka pun tertarik menemukan jawaban soal dari mana asal semua informasi yang mengakibatkan nilai-nilai adat mulai dilupakan.

“Nana, dari mana kalian mendapatkan semua informasi selama ini?”tanya Ema.

Sang pemuda pun tak kalah sigap menjawab “Televesi ema”. “Selain televisi nana? Ema semakin penasaran.

Selain televesi tentu ada internet ema” jawab pemuda.

Dan. saat Ema ingin mengetahui seperti apa itu internet, sang pemuda memanggil teman-temannya untuk meperagakan tarian modern.

Gerak tubuh dari para penari meperagakan modern dance memberi sajian kreatif dalam usaha menjelaskan arti kata internet.

Ema pun tampak begitu bergembira menyaksikan adegan defenisi internet. Tubuhnya mulai perlahan bergoyang.

Namun, gerakkannya tak lagi muda. Ia salah tingkah mengikuti gerakan para penari. Raga tak bisa bohong. Gerakannya yang lamban menambah gelak tawa para penonnton.

Aksi defenisi selesai, meski Ema masih bingung.

Ahh eme nganceng dapat informasi nenggo’o (kalau kalian bisa mendapatkan informasi dengan cara seperti ini), kenapa masih ada dari antara kami ini orang tua, yang tidak bisa lebih dari saya atau minimal kenapa nilai-nilai adat mulai dinomorduakan dibandingkan dengan informasi internet?’ tanya Ema begitu yakin.

Begini e ema tua. Di dunia ini semua bisa dipelajari dengan mudah. Semuanya bisa dipelajarijawab pemuda tadi.

Benar ema tua. Saya hanya bilang bahwa kalian generasi tua tertinggal sekali. Hanya mampu menjadi orang tua yang menyesal dan tidak mampu. Tetapi, apakah  kalian pernah mengerti bagaiman kami ingin belajar? Pernah kalian berpikir bahwa di dunia ini, banyak yang bisa disesuaikan, misalnya melalui internet, media sosial dan Facebook. Ami ata uwa weru am toe denge lemeu. Eme toe one ami, one urusan adat, am toe ma imbi lemeu. Bang e, donde lami denge tombo nggo, manga kat denge leru meu cepisa. (Mungkin kalau kami yang muda kalian tidak dengar. Kalau kami tidak berpartisipasi dalam acara adat, kalian tidak percaya. Kami juga sering mendengarungkapan, ada saja kalian mengerti sendiri). Toh pada akhirnya kami mencoba belajar sendiri. Kami tidak diajak masuk ke dalamnya untuk belajar. Setiap acara adat kan biasanya kami selalu di seksi cuci piring,” gugat para pemuda dan pemudi.

Penonton pun begitu antusias mendengar. Segala kekesalan ditumpahkan dengan begitu lantang. Gugatan kaum muda kepada kaum tua.

Di tengah situasi itu, ternyata Daria dan Dorus mengalami kebingungan menghadapi masalah ini.

Dorus yang kalang kabut mendengar bahwa Daria hamil berkeinginan untuk menyuruh Daria menggugurkan kandungannya.

“Tidak nana, saya tidak akan ambil jalan itu. Kalau itu yang engkau inginkan, engkau pergi saja pergi,” teriak Daria.

Daria merasa sedih. Di tengah kesedihannya, ia masih sempat menyanyikan lagu Let It Be dengan penuh penghayatan. Lagu inilah yang kemudian membawa Dorus kembali. Lagu itu pula yang membuat Dorus yakin bahwa mempertahankan bayi mereka adalah pilihan yang mesti diambil.

Saya bena- benar minta maaf enu. Tadi saya panik, tidak pernah menduga bahwa hal ini terjadi,sesal Dorus. Apa yang dialami oleh Dorus dan Daria ditangkap oleh Ema.

 “Apa yang terjadi pada kalian, kalian punya orang tua sudah tahu. Saya juga sudah tahu apa yang kalian pikirkan. Tapi jangan khawatirkata Ema.

Tetapi kami harus bagaimana ema?” tanya Dorus.

“Begini nana, peristiwa yang kalian alami ini memang telah banyak membuat orang kecewa. Terutama orang tua kalian. Tapi kami sudah sepakat untuk tidak saling menyalahkan. Am toe hanang meu ata mengalami stuasi nenggooo. (Mungkin tidak hanya kalian yang mengalami situasi begini). Hanya perlu saya sampaikan. Kalian harus berusaha. Tidak ada yang sederhana untuk kamu punya masalah. Situasi yang kalian alami ini sangat kompleks, sangat terkait dengan begitu banyak hal. Pertama kami orang tua, lupa untuk mewarisi nilai nilai yang lurus lewat cara yang update. Disaat yang sama, kalian terlena dengan media massa modern. Kedua, kita mungkin sudah lama, tidak berbicara dari hati ke hati. Kita maksudnya adalah generasi tua dengan kalian generasi yang muda. Seperti ada jarak. Akibatnya, ada yang salah jalan. Pihak lain pada akhirnya hanya mampu menyalahkan jelas Ema.

Jadi kami harus bagaimana? tanya Dorus lebih lanjut.

Ema menjawab,Tugas kita sekarang adalah menyiapkan dunia yang baik untuk anak yang akan lahir. Anak ini tidak bersalah. Nuca lale adalah sepotong surga yang telah turun ke bumi sejak zaman dahulu. Tugas kita adalah merawatnya. Begini sudah, aku ngo benta ende ema demeu agu sangged haer labar. (saya memanggil orangtua dan rekan-rekan kamu) Kita perlu duduk bersama. Bantang cama reje lele. (Kita musyawarah bersama) Kalian tunggu di sini.

Ema pun memanggil orang tua Dorus dan Daria. Susana lalu tampak hening. Kedua orangtua pun hadir. Dorus dan Daria menangis terharu. Mereka saling berpelekukan.

Orangtua Dorus dan Daria juga ikut menangis sambil berpelukan. Ada saling memaafkan di sana. Mereka terlarut dalam suasana kekeluargaan. Suasana tampak kembali bersahabat ketika semua pemain saling berpegangan tangan dan menyanyikan lagu Heal The World dan Gego Lau Gego le.

Drama musikal Ombeng, selesai.

Semua pihak yang ikut terlibat dalam pementasan drama musikal Ombeng. (Foto: Frans Joseph)
Semua pihak yang ikut terlibat dalam pementasan drama musikal Ombeng. (Foto: Frans Joseph)

Tepuk tangan penonton membahana di gedung MCC. Mensi Angur, mahasiswa semester VI program studi Matematika STKIP St. Paulus Ruteng usai menyaksikan pementasan ini mengatakan Ombeng merupakan sajian yang sungguh luar biasa.

“Ombeng membawa pesan tersendiri tentang ruang gerak kaum remaja yang selalu dibatasi terutama terkait keterlibatan kaum remaja dalam upacaca-upacara adat yang kadang tak dianggap. Dari Ombeng saya banyak belajar,” katanya.

Pompy Pojus, gitaris yang bermain musik dalam pementasan ini mengatakan, ikut berbangga. “Saya berbangga hati bisa bergabung dalam drama ini. Bakat-bakat ini patut disumbangkan  dan patut dibawa dalam forum yang lebih luas”.

Sementara itu, Armin Bell, penulis naskah dan sutradara mengaku senang karena para pemain drama musical ini berhasil tampil maksimal.

“Teman-teman bermain sangat bagus. Kecemasan saya saat latihan terutama pada hal-hal teknis misalkan sound dan lighting ternyata tidak terjadi. Namun, terutama saya berbangga karena para pemain bermain di atas rata-rata,” katanya.

Romo Frans Sawan Pr, Kordinator Komisi Kepemudaan Kevikepan Ruteng mengatakan berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pementasan ini.

“Semoga dengan pementasan malam ini, para penonton sekalian bisa menangkap pesan Sinode III Keuskupan Ruteng tentang kaum muda dan harapannya pesan positif dari drama musical Ombeng bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Sementara itu, Tomy Tagung, ketua OMK Kevikepan Ruteng mengatakan, Ombeng akan dipentaskan kembali pada 30 April di depan bupati, wakil bupati dan para pejabat di Manggarai. (Kontributor Evan Lahur/ARL/Floresa)