Pastor Peter C Aman OFM saat menyampaikan materi tentang Laudato Si di Ruteng, Jumat 22 April 2016. (Foto: JPIC-OFM)

Floresa.co – Sekitar 200 orang pejabat di Kabupaten Manggarai – Flores pada Jumat, 22 April mendalami pesan ensklik Paus Fransiskus, Laudato Si,  yang terbit beberapa bulan lalu.

Acara itu sekaligus menandai Hari Bumi Internasional yang diperingati setiap 22 April.

Pemateri dalam acara ini adalah Pastor Peter C Aman OFM, direktur JPIC-OFM.

Bupati Manggarai, Kamelus Deno mengatakan, melalui kegiatan itu, mereka ingin menjadikan Laudato Si sebagai salah satu referensi dalam penyususan program kerja selama lima tahun ke depan, terutama terkait pengelolaan lingkungan.

”Bagi pemerintah, Laudato Si sangat penting karena sesuai dengan visi Pemkab Manggarai terkait prinsip pembangunan yang adil dan merata. Adil tidak saja untuk kebijakan pembangunan, tetapi menghargai lingkungan sekitar merupakan bagian dari penerapan adil itu,” katanya.

Deno juga mengatakan, selama ini mereka memang sudah berupaya menyelamatkan lingkungan. “Tetapi jujur, masih dengan dasar pemikiran yang terbatas,” katanya.

Dengan memahami ensklik, ini, kata dia, mereka bisa mendapat wawasan yang lebih jauh dan mendalam.

Deno menjelaskan, persoalan lingkunga di wilayahnya antara lain termasuk tambang, krisis air dan perambahan hutan.

Ia menyatakan, total hutan di Manggarai sebanyak 23.000 hutan  konservasi dan hutan lindung, yang pasti sangat penting dijaga mengingat dari 337.000 jiwa, 190.000 orang bekerja di sektor pertanian.

Sementara itu, dalam paparannya, Pastor Peter mengatakan, pesan penting Laudato Si adalah lingkungan hidup merupakan rumah bersama.

“Kalau mau tempat tinggal bersama kita baik, berarti harus dijaga, dirawat, bukan saja untuk kepentingan sekarang tetapi untuk generasi berikut,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa Laudato Si memang sekedar himbauan moral dan tidak menjelaskan langkah-langkah praktis.

“Paus bukan orang yang mengeksekusi sebuah kebijakan. Tetapi itu ada pada pemerintah. Kami melihat pemerintah terbuka saat kita menyampaikan gagasan. Karena di tangan merekalah penentu keputusan dan kebijakan yang baik untuk masyarakat,” katanya.

“Gereja paling hanya menyampaikan dorongan dan suara kritis saja,” lanjutnya.

Ia mengatakan, “bumi ini sudah menyediakan semua kebutuhan. Tetapi akan tidak cukup bagi orang yang rakus dan tamak.”

“Karena itu, pemerintah sebagai pengambil kebijakan perlu menerapkan kebijakan-kebijakan yang mampu menopang bumi dari kerusakan, perlu ada pembaruan pola pikir agar tidak hanya memikirkan kehidupan masa sekarang, tetapi juga generasi mendatang. Itulah poin-poin yang ditegaskan Paus Fransiskus,” tegasnya. (Arr/ARL/Floresa)