Diskusi AMAK NTT dengan ICW pada Kamis, 7 April 2016 terkait masalah korupsi di sektor perizinan. (Foto: Ario Jempau/Floresa)

Jakarta, Floresa.co – Angkatan Muda Anti Korupsi Nusa Tenggara Timur (AMAK NTT), salah satu perkumpulan pemuda asal NTT yang berbasis di Jakarta menggelar diskusi dengan Indonesia Coruption watch (ICW) pada Kamis, 7 Apri 2016, terkait korupsi di sektor perizinan.

Diskusi yang digelar di kantor ICW di Jakarta Selatan itu berlangsung kurang lebih dua jam, pukul 16.00-18.00 WIB.

Pesertanya adalah kader AMAK yang mayoritas mahasiswa di beberapa kampus di Jakarta, seperti Universitas Nasional, Universitas Katolik Atma Jaya, Universitas Trisakti, Universitas Bung Karno, Universitas Mpu Tantular dan beberapa lainnya.

Kordinator ICW, Adnan Topan Husodo, yang menjadi narasumber utama dalam diskusi itu mengatakan, korupsi di sektor perizinan umumnya lewat praktek suap-menyuap, terutama antara pejabat publik dan pengusaha.

“Motivasi dari banyak pengusaha dan investor adalah memanfaatkan celah hukum dan berbagai macam kelemahan regulasi,” jelasnya.

Kata dia, kelemahan regulasi ini merupakan lubang yang ditinggalkan sejak pemberlakuan desentralisasi. Dan, oleh pengusaha dan investor, menurut Adnan, celah itu yang kemudian dimanfaatkan.

Karena itu, ia berharap, AMAK bisa memahami dan mendalami celah-celah itu, juga menganalisis potensi dan praktek korupsi di dalamnya, dengan mengacu pada peraturan perundang-undangan.

Ia menegaskan, hal itu akan menjadi senjata AMAK dalam proses advokasi, bukan hanya berdasarkaan penafsiran yang kadang menciptakan perdebatan kusir.

“Tentu, korupsi yang dimaksud adalah yang sesuai dengan pengertian undang-undang, bukan menurut penafsiran kita”, ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, bila tujuan dilakukannya advokasi adalah menyeret koruptor supaya diproses secara hukum. Maka, memahami pengertian korupsi sebagaimana yang dimaksud dalam undang-undang menjadi mutlak.

Ia berharap, kerjasama AMAK dengan ICW tidak berhenti pada diskusi. Harapannya, di hari-hari selanjutnya, tetap terjalin komunikasi sehingga bisa saling mendukung dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat dan mewujudkan pemerintahan tanpa korupsi.

“Pintu ICW selalu terbuka lebar. Selama ini, sekitar dua Minggu sekali, kami ada tamu mahasiswa yang meminta informasi kepentingan skripsi. Sama halnya dengan mereka, kami mengharapkan agar teman-teman AMAK juga demikian”, tutunya.

Egi Bonur, sekertaris AMAK menyampaikan apresiasi kepada ICW sebagai mitra senior karena telah mengambil bagian dalam dinamika AMAK sebagai salah satu organisasi.

“ICW telah beberapa kali terlibat dalam edukasi kader-kader AMAK NTT. Dan kali ini, ICW kembali menunjukkan itu,” ungkapnya.

Menurut Egi, antusiasme kader AMAK menjadi tanda bahwa anak muda NTT mau mengambil bagian dalam membongkar praktik–praktik busuk yang selama ini terjadi.

“Diskusi dan studi bersama ICW  merupakan langkah awal bagi praksis kader-kader AMAK mengawal NTT menjadi sebuah wilayah yang melahirkan generasi berintegritas dan menjunjung tinggi sikap antikorupsi,” tegasnya.

Ia juga menambahkan, melalu studi dan diskusi ini, kader AMAK tidak sekedar ramai-ramai melawan korupsi, tetapi lebih dari itu menanamkan dalam diri cita-cita memperjuangkan NTT sebagai komunitas yang sejahtera, berkeadilan, bermartabat dan konsisten melawan korupsi.

Sementara itu, Vicky Tengko, salah satu kader berharap makin banyak anak muda yang terlibat dalam organsiasi, di tengah kian menguatnya apatisme “terhadap masalah sosial, khususnya korupsi.”

Ia menyatakan, ada banyak hal bermanfaat bagi mereka sebagai anak muda, dengan memilih terlibat, termasuk dalam diskusi bersama ICW kemarin.

“Hal semacam ini sangat kita butuhkan dan harus diakui jarang didapatkan ketika kita sibuk dengan diri sendiri”, tutup mahasiswa Fakultas Hukum Unika Atma Jaya ini. (Ario Jempau/ARL/Floresa)