Mahasiswa Manggarai di Malang yang tergabung dalam Komunitas NGOPI berdiskusi dengan Luarah Tlogomas, Aryadi Wardoyo, Kamis 5 April 2016. Foto: Nanno Bantrang

Malang, Floresa.co – Menimbah ilmu tak cuma di dalam ruang kuliah. Tetapi juga dari orang-orang berprestasi.

Itulah yang dilakukan Komunitas Ngobrol Pintar Tentang Pembangungan Daerah Manggarai (NGOPI) Malang.

Kumpulan mahasiswa asal Manggarai yang sedang menempuh studi di Malang – Jawa Timur ini mengunjungi kelurahan Tlogomas di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Selasa 5 April 2016. Ini merupakan kelurahan terbaik tahun 2014 versi Kementerian Dalam Negeri.

Anggota komunitas NGOPI berdiskusi dengan Lurah Tlogomas, Aryadi Wardoyo. Sebanyak 10 anggota komunitas NGOPI dari berbagai kampus hadir dalam diskusi yang berlangsung dari pukul 14.00-16.00 WIB itu.

Diskusi secara khusus mengusung tema “Partisipasi Masyarakat Bagi Pengembangan Desa/Kelurahan”. Komunitas NGOPI mencoba menimbah dan menggali berbagai tips dan strategi kepemimpinan yang selama ini dipraktikan Lurah Aryadi sehingga kelurahan Tlogomas memperoleh banyak prestasi gemilang.

Dalam diskusi yang berlangsung santai ini, Lurah Aryadi memberikan banyak kesempatan kepada angota komunitas NGOPI untuk bertanya, lalu berdiskusi.

Persoalan yang diusung oleh Komunitas NGOPI adalah rendahnya partisipasi masyarakat desa di Manggarai pada umumnya untuk terlibat secara langsung dan aktif dalam berbagai program pembangunan di tingkat desa/kelurahan.

Partisipasi yang rendah ini oleh Komunitas NGOPI dianggap sebagai persoalan yang menghambat percepatan pembangunan desa. Rendahanya partisipasi ini disebabkan karena rendahnya kesadaran masyarakat desa akan eksistensinya sebagai subyek sekaligus obyek dalam pembangunan desa. Persoalan ini yang kemudian dibicarakan secara mendalam bersama lurah dengan beragam prestasi di Indonesia tersebut.

“Di daerah Manggarai masih minim keterlibatan masyrakat di tingkat desa untuk terlibat dalam program-program desa. Hal ini menyebabkan kurang efektifnya pembangunan desa, baik dari segi output pembangunan desa, maupun dalam aspek edukatif pentingnya pembangunan partisipatif”, komentar Brigita M. yang dilengkapi oleh Robert Peot.

BACA Juga:

Menanggapi persoalan itu Lurah Aryadi Wardoyo memberikan beberapa masukan penting. Diantaranya, menurut dia, kepala desa atau lurah di mana pun di Indonesia harus benar-benar memahami segala potensi yang ada di daerah.

Selain itu juga lajut Aryadi, penting bagi kepala desa atau lurah memiliki sebuah pola pendekatan kepada masyarakat.

“Di desa atau kelurahan manapun di Indonesia, kepala desa atau lurahnya memiliki tugas, dan batasan wewenang yang sama. Jadi tidak ada kepala desa atau lurah manapun juga yang memiliki kewenangan lebih. Jadi, kita semua sama, mungkin yang membedakan adalah lebih kepada persoalan intensitas kebutuhan masyarakat desa”, ungkap Aryadi.

Berkaitan dengan pola pendekatan dengan masyarakat, Aryadi menekankan pentingnya kesepahaman antara pemimpin desa/kelurahan dengan warganya. Kesepahaman ini hanya akan terjadi jika lurah atau kepala desa betul-betul menyatu dengan masyarakat.

“Intinya cuma satu, pemimpin itu mesti dekat dengan masyarakat. Jadi, perlu menjalin komunikasi yang intens serta lugas dengan, katakan saja para tokoh masyarakat, ketua-ketua RT dan siapa saja dalam masyarakat. Kedekatan itu hanya bisa terjalin jika kita betul-betul terlibat dalam segala kegiatan yang menjadi rutinitas masyarakat”, ungkap Aryadi.

Terkait percepatan pembangunan sektor ekonomi, Aryadi menekankan pada pemahaman lurah/kepala desa terhadap segala potensi yang ada di desa/kelurahannya.

“Mungkin yang menjadi perbedaan juga adalah sejauh mana kepala desa atau lurah itu bisa mengetahui dan memahami apa potensi yang menonjol di desa/kelurahannya. Sehingga jadinya akan lebih mudah untuk bisa difokuskan pada peningkatan dan pemanfaatan potensi itu untuk kepentingan ekonomi desa”, ujar Aryadi.

Selain mengenal potensi desa, Aryadi juga menekankan kreatifitas kepala desa/lurah sebagai sebuah tuntutan yang bisa memberikan sebuah peluang lebih dalam pembangunan desa.

“Kepala desa/lurah itu mesti kreatif. Kalau hanya sekedar menjalankan tugas kepala desa/lurah pada umumnya, tidak kreatif dan peka terhadap kebutuhan desa, itu hanya menjadi kepala desa/lurah yang konvensional, biasa-biasa saja. Kalau mau menunjukkan pengabdian kepada bangsa dan negara secara lebih responsif, maka harusnya lebih kreatif dong”¸lanjut Aryadi.
Pembangunan desa atau kelurahan yang kreatif itu,kata dia, contohnya dengan mengembangkan sentra-sentra tertentu berbasiskan potensi wilayah.
“Misalnya potensinya lebih ke arah penghasil kopi, maka perlu dibuat sentra kopi. Nah, kreatifitas kepala desa/lurahnya akan nampak dalam bagaimana strateginya dalam peningkatan produksi kopi, atau distribusi hasil kopi, dan sebagainya”,ujar Aryadi.

Di akhir diskusi, koordinator Komunitas NGOPI, Yergo Arnaf mengucapkan terima kasih atas kesediaan Lurah Aryadi Wardoyo atas kesediaannya berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan komunitas NGOPI.

“Kita sangat berterima kasih dengan kesediaan Pak Aryadi atas waktu dan berbagai ide dan pengalamannya. Harapan kita sebagai generasi muda Manggarai tentunya segala strategi serupa bisa muncul juga dari pemimpin-pemimpin kita di Manggarai”,ujar Yergo Arnaf. (Hilla Antur/Floresa)