Setelah diturunkan, bendera-bendera ini dibawah ke Tentara Nasional Indonesia di Labuan Bajo. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.co – Pengelola Hotel Plataran Indonesia di Labuan Bajo, Manggarai Barat- Flores angkat bicara soal pengibaran lima bendera negara asing di samping Restoran Atlantis, yang posisinya bersebelahan dengan hotel itu.

General Manajer Hotel Plataran Indonesia, Maria Jong Joko mengaku, pengibaran bendera  tersebut untuk menghormati wisatawan yang mengunjungi tempat lokasi bisnis mereka, yang terletak di Wae Cicu itu.

Diberitakan sebelumnya, lima bendara negara asing yaitu Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda dan Perancis tidak dipasang seperti di kantor kedutaan asing yang berada di Indonesia, di mana bendera Merah Putih dipasang dengan tiang lebih tinggi dan ditempatkan di tengah.

Sebagaimana disaksikan Floresa.co, di restoran tersebut, bendera Merah Putih malah dipasang di bagian pinggir dan tiangnya sejajar dengan kelima bendera itu.

Warga Mabar, yang tergabung dalam Kelompok Peduli Pariwisata kemudian menurunkan lima bendera negara asing tersebut pada Sabtu 2 April lalu dan menyerahkannya ke Koramil Labuan Bajo.

Menurut Maria Jong Joko, pihak Plataran tidak memiliki niat negatif dengan pengibaran bendera negara asing itu.

”Kami tidak punya motif apa-apa di balik pemasangan bendera-bendera tersebut. (Hanya) untuk menghormati tamu yang ada, apalagi standar resort kita internasional,” ujarnya kepada Floresa.co, Senin 4 April 2016.

Menurut Maria, pemilik Hotel Plataran memiliki jiwa nasionalisme tinggi dan niatnya murni membangun dunia pariwista Mabar.

“Sifatnya (pemilik hotel) sangat nasionalis. Bendera itu sebatas menghormati tamu. Apalagi, bendera Indonesia selalu dipasang juga di situ”, jelasnya.

“Kita kebanyakan tamu dari luar, sebatas kepentingan pariwisata,” tambahnya.

Ketika ditanya mengapa hanya bendera lima negara itu yang dipasang, Maria mengatakan “Pemasangan bendera itu sebatas formalitas saja.”

Maria enggan menjelaskan ketika ditanya soal izin pemasangan bendera itu kepada pihak berwewenang.

”Menyangkut undang-undang dan aturan, saya tidak berbicara itu. Biarkan manajemen yang di atas kami yang akan berbicara hal itu. Kami hanya staf, nanti penjelesan lebih lengkap oleh pihak owner,” tandasnya.

Maria mengatakan, bendera-bendera itu sudah lama dipasang. Sebelumnya, pihak TNI mengatakan selama ini memantau wilayah itu tetapi tidak menemukan adanya bendera asing.

”Bendera itu sudah dipasang sejak lama. Selama ini restoran ini sedang renovasi, belum buka, masih tutup. Hanya satu dua orang tamu saja kunjung. Grand opening-nya masih dalam bulan ini,” jelasnya.

Maria mengatakan setelah bendera-bendera itu diturunkan kelompok masyarakat, pihak hotel langsung melaporkan kejadian ini ke aparat kepolisian.

Namun, laporannya tidak diteruskan, karena pihak TNI mendatangi lokasi untuk mengklarifkasi. ”Kita sudah diberi teguran dan kita terima.”

Hingga saat ini, kata dia, bendera-bendera itu masih ada di aparat TNI. Karena itu, ia belum mengetahui apa upaya selanjutnya. “Kita pada posisi menunggu, seperti apa ke depannya,”ujarnya.

Maria menyayangkan aksi penurunan bendera itu oleh kelompok masyarakat. ”Kita sangat sayangkan sebetulnya. Mestinya kita duduk bersama dulu,kalau dengan cara seperti ini, ada apa?”

BACA Juga: Warga Mabar Turunkan Paksa Lima Bendera Negara Asing

Terpisah, Ketua Mabar Watch, Stanislus Stan meminta pemerintah mengawal proses penanganan masalah ini sehingga menjadi pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia.

”Pemasangan bendera jelas ada mekanisme yang diatur dalam undang-undang,” katanya. “Apa tujuan pemasangan bendera itu? Saya pikir mereka sedang mengelak, secara terselubung itu kan iklan.”

Stanis menyayangkan sikap pemerintah Mabar yang terkesan membiarkan masalah ini, jika benar pemasangan bendera ini sudah sejak lama. ”Ternyata memang sudah lama (pemasangan bendera), bahwa memang pemerintah Mabar tidak punya nyali,”

Dia berharap, meski sudah ditangani TNI dan polisi, pemerintah tetap mengawal proses penyelesainya, sehingga menjadikan persoalan ini sebagai pendidikan bagi warga. “Kita tidak bisa bayangkan kalu masalah ini dibiarkan.”

Warga Kabupaten Manggarai Barat yang tergabung dalam Kelompok Peduli Pariwisata memegang lima bendera yang mereka turunkan paksa pada Sabtu 2 Apri 2016. Bendera-bendera ini sebelumnya dipasang di dekat Restoran Atlantis, Wae Cecu, Labuan Bajo. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)
Warga Kabupaten Manggarai Barat yang tergabung dalam Kelompok Peduli Pariwisata memegang lima bendera yang mereka turunkan paksa pada Sabtu 2 Apri 2016. Bendera-bendera ini sebelumnya dipasang di dekat Restoran Atlantis, Wae Cecu, Labuan Bajo. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

BACA Juga: Cerita dari Kanawa: Privatisasi dan Pola Peminggiran

Sebelum menurunkan bendera-bendera itu pada Sabtu lalu, salah petugas restoran yang berada di lokasi itu mengaku, bendera tersebut dipasang pemilik restoran. Namun, katanya, pemilik sedang tidak berada di tempat.

Upaya sejumlah warga untuk bertemu pemilik restoran pun tidak berhasil. Mereka akhirnya memutuskan menurunkan bendera-bendera itu untuk diamankan.

Setelah itu, mereka segera naik kembali ke perahu motor. Tidak lama setelah meninggalkan dermaga, seorang warga asing, yang tampak berotot didampingi beberapa tenaga kerja lain berupaya mencegat warga. Tampak satu diantaranya membawa sepotong kayu. (Ferdinand Ambo/Floresa)