Karya: NANA LALONG

Orang besar se-Flores sekali waktu diundang ke sebuah perjamuan di lembah Ruteng. Tidak mereka kenal persis siapa tuan yang menjamu mereka di perjamuan malam itu. Belakangan mereka memaksa diri tahu bahwa yang hadir sebagai MC dalam pesta itu merangkap sponsor tunggal perjamuan itu. Pertemuan itu menjadi sangat istimewa karena menu-menu lokal yang dikemas dengan bumbu-bumbu seadanya tetapi tetap menggoda selera.

Udang kali dihidangkan di atas nampan. Ada yang berkuah ada yang digoreng lapis tepung. Para pembesar itu kagum setengah mati melihat kulit udang kemerah-merahan setelah matang dalam air mendidih. Di suatu pojok tenda perjamuan itu ada api yang sedang menyala. Di sana tempat para petinggi yang doyan menu panggang.

Ada udang yang dipanggang. Ada cumi-cumi di situ. Ada ikan tongkol, ikan terbang, ikan cara segar, gurita dan segala jenis ikan yang menghuni kali dan laut di pantai-pantai pesisir Manggarai. Tak ketinggalan tembang nanga rawa yang sedang musimnya.

Lauk-lauk ini disantap dengan ubi rebus. Ada teko, tese, uwi, tete raja, dan daeng. Segala jenis ubi mampir di meja hidangan malam itu. Yang paling diminati para petinggi ini adalah tese. Tese mendapat pujian malam itu dan didapuk sebagai ubi dengan rasa paling enak. Warnanya yang putih mengkal bagai bulan menggoda penglihatan.

Segera setelah mencicipnya engkau akan tagih. Teksturnya lembut dan tak berserat seperti roti yang diberi mentega dan telur. Engkau akan mengecap rasa manis alami dari umbi yang  dipanen pada Juni hingga September ini.

Di bagian lain meja hidangan itu ada nampan berisi nasi dari dea laka (beras merah) yang mengepul. Separoh dari bukit nasi itu telah ludes. Di samping bukit nasi itu, pada sebuah nyiru yang dilapisi daun pisang, ada sayur lawar.

Ini sayur lawar dengan komposisi daun, bunga, buah papaya muda yang setelah direbus, lalu dilumatkan dengan gerusan biji kemiri yang disangrai. Persis di samping saung lomak itu ada robo berisi tuak segar yang baru diambil tadi sore dari pohonnya.

Di ujung robo itu meruap buih dengan aroma segar. Beberapa dari petinggi itu menuangkan isi robo itu ke gelasnya. Moke diminum dengan cemilan saung lomak.

Anda membayangkan itu sebagai sebuah perjamuan cukup spesial. Kali ini mereka mengagungkan begitu rupa menu lokal. Mereka tinggalkan kegemarannya pada makanan kaleng yang super mahal. Di sudut lain meja hidangan yang panjang itu ada daging babi. Ini bukan babi biasa. Ini daging babi hutan (nuru motang).

Tapi daging motang ini konon diimpor dari Bima. Dari sana orang memperoleh daging motang. Apakah di Manggarai sendiri tidak ada motang? Bagi para petinggi, ini bukan pertanyaan penting yang perlu dijawab. Yang penting buat mereka ialah apakah daging motang cukup untuk perjamuan malam itu.

Begitu nikmat daging motang malam itu, seakan tak ada lagi yang lebih nikmat. Seorang petinggi lantas terpancing menyering pengalaman. Dulu ia pernah berburu motang ketika masih sebagai remaja SMA yang berlibur ke kampung.

Mereka keluar dari kampung usai makan siang. Hampir semua laki-laki di kampung itu keluar berburu pada siang itu. Segera saja cerita bang motang ini menarik perhatian semua hadirin.

Antara itu, para peramu saji di perjamuan itu sibuk membalikkan daging yang dipanggang dengan jarak yang pas di atas bara api yang menyala. Aroma bakar menggoda selera. Selalu ada yang datang dengan piring berisi daging yang masih mengepulkan uap panas. Ia akan kembali dengan piring kosong di tangan.

Potongan-potongan daging babi hutan panggang disantap dengan teman seperjalanan bir bintang. Kelezatan daging menjadi padu dengan rasa bir yang tak pahit juga tak manis.

Jika kamu makan pizza, kamu diberi coca-cola sebagai pasangannya yang cocok. Malam itu, ketika ada daging babi, bir menjadi konconya. Melihat stok hampir habis, orang besar yang satu memanggil bujangnya. Sebentar kemudian bujangnya kembali dengan satu krat bir bintang.

***

Para petinggi tanah Flores itu masih asyik bercerita ketika pemandu acara resepsi malam itu mengumumkan: “Bapa-bapa yang terhormat. Masih ada menu pamungkas malam ini. Ini memang pesta sederhana. Menu pamungkas ini diracik oleh koki andalan dari tiga kota kabupaten di Manggarai Raya. Mereka didatangkan dari restoran-restoran kelas elit di tiga kota itu. Akan kami beritahu nanti, dua jam dari sekarang.”

Seorang petinggi melirik arloji di pergelangannya. Pukul 22.00. “Seperti apa sih menu pamungkas itu? Apa pula isinya?” ia membatin.

Menunggu dua jam lagi tak menjadi soal. Mereka tersihir begitu rupa oleh cerita tentang bang motang dari petinggi yang mulai tersulut oleh alkohol untuk bercerita. Ada benarnya juga orang menyebut minuman beralkohol sebagai air kata-kata. Petinggi yang satu ini menunjukkannya malam itu.

Petinggi itu makin asyik bercerita. Petinggi yang tadi melirik arloji dan tampak gelisah, kini mengarahkan ekor matanya pada si pencerita.

“Suatu ketika kami mengejar motang yang lari menyisir lereng. Segerombol anjing pemburu menyalak menghampiri motang itu. Mereka jauh di depan sana. Sementara kelompok kami tertinggal kurang lebih seratus meter di belakang.

Kemudian kami mengambil strategi. Beberapa di antara kami langsung turun ke arah kali, di lembah. Beberapa saja dari kami yang terus meniti jejak babi dan arah motoang kules itu menjauh. Kami menebak kira-kira ke titik itu nanti motang kules itu mengarah!

Tidak ada yang menyela. Orang ini menyihir pendengarnya begitu rupa sehingga hanya suaranya yang terdengar di tenda perjamuan itu. Ia terbiasa sebagai pembicara yang bisa membius perhatian masa. Kalaupun ia membohong, masa yang tolol akan tetap berdecak memuji. Ia melanjutkan.

Betul seperti kami duga. Motang kules itu datang menyusur pinggir kali menuju ke arah kami. Raungan anjing pemburu menguntit dari belakang. Kami menantinya di tepi jurang. Kami bersembunyi di suatu jarak dalam semak-semak.

Di bibir jurang itu motang kules akan terjepit. Biasanya di situ ia akan memasang kaki menghadapi anjing-anjing pemburu dari muka ke muka. Ini memang motang kules. Anjing pemburu tidak mudah menaklukkannya. Anjing-anjing bahkan menjadi korban keganasannya siang itu. Ada yang luka di bagian telinganya karena digigit motang kules itu. Waktu itu anjing kami kebagian luka persis di leher.

Tetapi, anjing-anjing itu tetap menggonggong. Darah yang menetes dari leher, telinga, dan kaki mereka tak dihiraukan. Mereka menghadapi musuh bersama. Motang kules yang sulit ditaklukkan oleh anjing-anjing ini nampaknya begitu tangguh. Kami sempat mengamati beberapa menit dari semak-semak.

Ketika motang kules itu maju dan mendengus, gerombolan anjing mengambil langkah mundur. Sebaliknya saat motang kules mundur, giliran anjing-anjing menyerang. Tapi paling-paling mereka mendekat. Belum ada luka berarti yang membuat motang kules ini takluk.

Lima orang dari kami sudah menanti di dasar jurang. Mereka siap mengeksekusi di bawah sana kalau-kalau motang kules ini menceburkan diri ke jurang. Tinggal dua meter saja jarak motang itu dari tepi jurang. Di samping kanannya ada tebing. Sementara di samping kirinya ada air mengalir. Jika ia melompat ke kiri ia akan terbawa arus. Di depannya segerombolan anjing terus saja menyalak.

Lalu satu persatu kami bangun dari semak-semak. Kami siaga dengan tombak di tangan dan mata yang awas melihat sasaran. Melihat kami muncul dari semak-semak, motang kules itu kembali memberengus dan nekat menerobos barikade anjing pemburu. Raungan anjing makin gaduh dan sengit.

Satu lemparan tombak dilepaskan oleh teman saya. Gaspar namanya. Ujung tombak menghujam tepat di paha belakang. Kami semakin mendekat dan hendak menikam dari dekat. Kami yang mendekat ini belum terbiasa melepas tombak dari jarak jauh. Kami lebih memilih menikamnya berkali-kali dari dekat.

Dua di antara kami memegang wokat. Saya dan dua teman lainnya membawa lembing. Kepunyaan kamilah yang bisa keluar masuk–berkali-kali melukai tubuh motang kules itu. Motang kules itu akhirnya tewas di ujung tombak kami berlima. Ia tak sempat terjun ke dasar jurang.

Dua wokat menancap di tubuhnya. Tiga lembing ditusuk berkali-kali hingga motang kules itu tewas. Ia tumbang di tangan kami berlima. Lima teman yang lain di dasar jurang tak sempat membasahi tombaknya dengan darah binatang ini. Seorang dari kami memanggil lima teman yang bersiaga di dasar jurang.

Kami mengangkat motang kules itu agak jauh. Di bagian yang agak rata di pinggiran kali kami memasang api. Kami mengambil posisi istirahat sejenak sambil lima teman yang baru tiba dari dasar jurang mengangkut ranting-ranting kering. Api mulai menyala besar. Kayu mentah dipotong dan dipasang membujur di antas nyala api.

Tubuh motang kules dibiarkan rebah di atas dua kayu itu. Aroma bakar yang menggoda selera segera tercium. Dalam sekejap, orang-orang yang tadinya mendengar dari suatu jarak datang mendekat. Mereka tahu persis, buruan sudah didapat. Raungan anjing berhenti. Mereka juga tahu kemana harus pergi.

Mereka mendekat ke arah asap mengepul. Dari suatu jarak yang agak dekat mereka meraung, “Hu kesa! Haeng ko?”

Kami yang menunggu di sekitar perapian menjawab dengan lantang, “Mai ge kesa!” Memang selalu ada yang datang tuntung di setiap kesempatan berburu. Mereka yang tuntung ini enggan terlibat ketika aktivitas berburu sedang berlangsung. Mereka akan datang mengharapkan sedikit jatah ketika buruan sudah ditaklukkan.

 ***

Si pencerita membetulkan kaca matanya dan mengambil nafas. Takut kehilangan momen ia buru-buru melanjutkan:

Seorang dari yang mengurus pembakaran mengambil sebilah bambu. Setelahnya ia menggaruk-garuk bilah bambu itu pada seonggok tubuh dengan bulu yang mulai terbakar. Kulit motang kules yang kemerah-merahan itu tidak nampak lagi. Yang tampak di hadapan kami adalah bulu-hitam yang gosong dilalap api.

Mereka yang datang tuntung segera saja tahu apa yang harus dibuat. Mereka memotong daun-daun pisang dan menggelarnya di bagian yang agak rata. Tubuh motang kules yang kehilangan bulu-bulunya itu terus dibalik-balikkan di atas nyata api yang mulai surut. Bagian yang masih kelihatan berbulu didekatkan dengan nyala api.

Tidak ada lagi satu dua lembar bulu yang mencuat dari kulit yang gosong. Seonggok tubuh motang kules itu diangkat dari perapian dan diletakkan di atas daun pisang. Yang seorang dari peserta tuntung itu sudah siap dengan air yang ditaruhnya dalam tabung bambu.

Sebelum tubuh itu dicincang dan dibagi-bagi, mereka menghilangkan bagian yang gosong dengan sodetan ujung parang. Ujung parang menyentuh kulit yang matang oleh api itu. Bagian yang hangus akan terkelupas saat parang itu digeser pelahan mengikuti alur tubuh motang itu.

Di saat bersamaan tamu tuntung membersihkan sisa dari sodetan itu dengan air. Seluruh tubuh dibilas dengan parang pada sesi terakhir sebelum dipotong-potong. Setelah proses itu selesai, tiba gilirannya bagian-bagian tubuh dibongkar satu per satu. Ada tiga belas pelaku perburuan ini. Lima di antaranya menghujam tombak.

Lima pemburu lainnya tidak sempat membasahi ujung tombaknya dengan darah motang kules itu. Tiga pemburu menguntit motang hingga ke mulut jurang. Satu tingkatan lain di luar kelompok itu adalah mereka yang datang tuntung. Mereka tidak terlibat sama sekali dalam seluruh proses perburuan itu.

 ***

Seorang pramusaji meletakkan piring berisi daging panggang. Si pencerita berhenti sejenak. Tangan kirinya memegang gelas bir. Matanya melirik potongan terbaik di atas piring untuk kemudian mencomotnya dan memasukkan ke mulut. Dua potong daging dan tiga tegukan bir membuat dia kuat melanjutkan cerita:

Hati dan bagian dalam yang empuk-empuk menjadi monopoli lima pemburu yang bertangan dingin siang itu di samping bagian yang inti. ‘Tinggi’ menjadi bagian tambahan untuk lima pemburu yang menunggu di dasar jurang. Sementara itu, tukang tuntung yang datang di saat senang akan diberi jatah bagian iga yang lebih banyak tulang daripada dagingnya.

 Seorang yang datang tuntung itu sangat berterima kasih. Ia sempat mengharapkan akan mendapatkan sedikit dari potongan hatinya. Istrinya yang hamil sedang ngidam hati motang. Tetapi sebagai lelaki yang sok mandiri ia enggan meminta. Ia lebih memilih menunggu apa saja yang diberikan. Ia malah mulai menyesal kenapa tadi ia tidak ikut berburu saja dari pada memilih menyiang uma yang tak seberapa jauhnya dari tempat orang-orang itu berburu.

Cerita tentang bang motang itu merambah hingga ke ujung kampung. Di halaman, saat bermain sore hari, anak-anak menceritakan kehebatan kakak-kakak dan ayah mereka. Lima jagoan di bibir jurang disebut-sebut oleh anak-anak itu. Mereka kembali dengan jejak darah membekas di ujung wokat dan lembing.

Anak-anak tahu persis, motang kules itu takluk di tangan mereka. Akan ada saja satu dua anak yang meloncat kegirangan ketika menemukan jejak darah pada senjata berburu kakak atau ayahnya. Hal yang sama akan dibuat anak-anak itu ketika mereka berburu dengan ketapel. Usai gerimis di sore hari mereka mengendap ke semak-semak. Akan ada burung-burung pengisap nektar yang mencecit dan hinggap di semak-semak.

Anak yang berhasil mendapat burung akan menjadi jagoan sore itu. Namanya akan diceritakan anak seusianya pada orang tua mereka saat makan malam. Jagoan itu akan senang lama-lama bertahan di halaman kampung sambil memamerkan hasil buruannya. Anak lain yang belum berhasil membangun tekad dalam hati.

Sebelum burung hasil buruan itu bertemu nyala api, ada satu ritual yang dibuat jagoan itu. Ia akan meneteskan darah burung itu pada gagang ketapelnya. Darah itu menjadi bukti ketangguhan sebagai pemburu. Ia akan menunjuk-nunjuk ke temannya pada keesokan harinya. “Haeng kaka aku one meseng e se!” Seringkali ada yang tak lekas percaya. Anak itu pun akan menunnjukkan darah yang dia oleskan pada gagang ketapelnya.

Namun ada cerita menggelikan tentang anak-anak yang belum bisa berburu dengan ketapel. Anak-anak yang umur tiga dan empat tahun akan mendengar cerita tentang daging motang itu. Dari dapur tetangga tercium aroma bakar yang mengundang selera. Akan ada satu dua ibu yang meminta kunyit dan sere di pekarangan tetangganya. Anak-anak kecil lantas segera tahu dari ibu-ibu itu: ada daging motang yang sedang dibumbui.

Ketika makan malam tiba, suasana kampung mendadak senyap. Di halaman kampung tidak ada lagi kerumunan orang bercerita. Orang memulai santap malam. Istri tukang tuntung itu akan merengut. Ia merindukan hati babi hutan tetapi yang didapatnya adalah tulang iga dengan sedikit daging yang menempel.

Bocah tiga tahun yang mendengar cerita itu akan menangis malam itu meminta nuru motang. Ibunya pusing menangani anaknya. Ia mau ke kios, membeli ikan, tetapi orang tidak berjualan lagi. Orang sudah masuk rumah dan menunggu makan malam. Anak-anak itu akan menangis sepanjang mala. “Nakeng e……nakeng e….!”

Kamu akan mendapatkan anak yang akan lelah karena menangis. Setelahnya ia capek dan tidur. Tengah malam ia membangunkan ibunya dan minta nasi. Si ibu akan melayani makan malam dengan penuh kasih. Seringkali kata-kata penghiburan muncul sat-saat seperti itu. “Eme haeng motang papa dehau ce pisa asi teid ise …”

 ***

Cerita penggede kita sampai di kata-kata penghiburan ibu itu untuk anaknya. Saat bapamu dapat buruan, kita akan makan daging sepuas-puasnya. Jangan kasih mereka. Setelahnya peserta perjamuan dihentakkan oleh suara MC yang kembali hadir di podium yang diberi hias oleh wela wangkung terbaik Nunca Lale.

“Bapa-bapa yang terhormat, kita akan menikmati menu pamungkas racikan koki terbaik tanah ini. Baiklah kita mengambil posisi melingkar. Bapak-bapak perlu berpegangan tangan. Kita jarang berkumpul seakrab ini. Jangan sia-siakan kesempatan penuh keakraban ini. Lingkaran yang kita bentuk ini menjadi tanda kesatuan tekad dalam langkah bersama.

Kita bersama-sama merias pulau bunga ini menjadi harum semerbak laksana kembang. Kita akan dikuatkan oleh menu pamungkas yang akan membuat kita kuat dan pantang menyerah. Menu ini diracik bukan oleh kepiawaian koki-koki semata. Ada kekuatan lain yang menyertai kita, menguatkan langkah kita untuk maju bersama. Pejamkan mata bapa-bapa.”

Setelahnya pemandu acara mengolah kesadaran para petinggi itu. Ini seperti tahap bermeditasi. Klihatan sekali ada satu dua yang tak konsen. Barangkali mereka tak biasa dengan keheningan. Di tenda itu hanya ada suara MC yang terdengar. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 24.00.

Pemandu latihan konsentrasi ini telah menyuruh peserta memejamkan mata. Ia akan memberi aba-aba  dan peserta boleh membuka mata. Selama ia belum memberi aba-aba, tak satu pun petinggi itu yang boleh membuka mata. Di tegaskan oleh MC itu yang nampaknya juga merangkap peminat kekuatan magis, bahwa taruhannya adalah nyawa.

Membuka mata sebelum waktunya adalah pilihan untuk menutup mata dalam keabadian. Sebaliknya menanati komando berarti pilihan untuk bertahan. Entah mengapa para petinggi ini manut. Barangkali nalar mereka sudah dikacaukan oleh makanan dan bir berkerat-kerat itu. Mereka tunduk begitu rupa pada perintah MC itu.

Di detik itu MC menjadi begitu berkuasa atas mereka semua. Di sesi terakhir sebelum menyuruh membuka mata, MC memanggil seorang koki untuk meletakkan menu pemungkas di tengah-tengah.

Menu itu pun diantar. Ada seonggok menu yang terselubung warna-warni sayur lalap pada pinggir-pinggirnya. Di atas meja kecil yang dilertakkan di tengah-tengah, menu itu dihidangkan. Di sekelilingnya ada lilin bernyala sejumlah petinggi yang akan menikmati menu pamungkas itu. Penyetiran kesadaran itu berakhir dengan membuka mata pelahan-lahan.

“Jika bapa-bapa pusing, silahkan mendekapkan dua telapak tangan di sisi kiri dan kanan kepala bapa-bapa,” ujar MC itu.

MC kembali memberi komando untuk segera mengambil menu pamungkas dalam piring masing-masing. Sekilas mereka melihat menu dominan yang tampaknya seperti nasi dari woja laka. Ada warna ungu kehitam-hitaman. Ini sebuah santapan menikmati woja weru. Pasti sangat enak.

Penyetiran kesadaran itu ternyata menjadi sihir ketika diketahui bahwa para petinggi ini serentak menjelma manusia hebat seperti Limbat. Mereka menghabisakan isi talam super gede itu dalam sekejap mata. Mereka mencedok berkali-kali serbuk hitam itu ke piringnya. Tambang ta! Begitu mereka saling menyilakan. Mereka menghabisakan isi talam itu.

Pramusaji kembali datang dengan nampan baru yang juga tak lama berselang tinggal remah-remah. Ada satu kata yang selalu mereka sebut-sebut ketika terus mecedok menu itu ke piringnya “tambang ta!”. Mereka yang datang dari daerah luar Manggarai ikut-ikutan mengucap kata itu. “tambang ta! Tambang ta kesa!

Tiba gilirannya para koki pilihan kelimpungan dan kehilangan akal. Para petinggi ini tak pernah merasa kenyang. Kata itu selalu mereka ulang-ulang: tambang ta. Tambang ta! Tambang ta! Tambang ta…hingga pagi mereka kesurupan menjelma anak-anak yang merengek tambang ta.

Sang MC membanggakan keampuhan manteranya dengan pongah! Berhasil, katanya. Mereka mengulang-ulang nyanyian itu. Tambang ta, tambang ta, tambangta….Pesta itu berlanjut hingga pagi.

Usai santap menu pamungkas, musik-musik DJ tidak diperdengarkan lagi. Mereka karoke sampai pagi menyanyikan lirik yang membosankan itu. Lirik yang membosankan, sangat membosankan, bagaikan tidak ada lagi yang lebih membosankan.

Tetapi mereka menikmatinya begitu rupa sambil sesekali meminta MC  membuat mereka tertawa dengan cerita-cerita lucu, sangat lucu, bagaikan tidak ada lagi yang lebih lucu dari itu, yakni melihat mereka menyanyikan syair yang itu-itu saja: tambang ta, tambang ta, tambang ta.

Ada yang menarik di ujung euforia pasca menu pamungkas. Biasanya MC memperkenalkan diri di sesi pembuka. Lantas seorang peserta, di sela-sela rengekannya, menanyakan siapa nama lengkap MC yang sungguh menghibur itu. Segera saja orang itu memperkenalkan diri. Ia naik ke podium yang diberi hias wela wangkung terbaik Nunca lale.

“Bapa-bapa” ia mengambil jeda sejenak. Semua mata tertuju ke arahnya. Mereka sadar akan hal yang lupa mereka tanyakan sejak semalam. MC itu pun melanjutkan setelah jeda yang cukup membuat penasaran. “Nama lengkap saya adalah…”

MC belum meneruskannya ketika mereka tiba-tiba kompak sebagai paduan suara dadakan menyerukan “mining company…”. Dan tak ada yang dibantah oleh sosok yang berdiri di podium itu. Mereka kembali menyanyikan lirik itu, tambang ta, tambang ta, tambang ta kesa e!

Sampai akhirnya perut mereka membatu dan koki-koki itu kehilangan mantra memberi makan perut mereka yang merengek-rengek tambang ta yang diucap beselang-seling dengan mining company.        

Seorang dari antara koki itu akhirnya membentak “toe mangan ge! Tambang sedang sepi, bro” Tetapi mereka tetap saja memadu suara, “tambang ta………………………………Mining Company!”

Lalu yang tadi bercerita panjang lebar tiba-tiba nyeletuk sambil membetulkan letak kacamatanya,

“Sabar, masih ada kesempatan! Air juga bisa ditambangkan? Selanjutnya, Mari kita tambang air!

Nana Lalong adalah nama pena untuk seorang mahasiswa asal Manggarai yang sedang studi di Jakarta.