Oleh: YERGO ARNAF

Pilkada telah mencapai babak final, dengan dilantiknya pasangan terpilih. Hal itu mengakhiri kompetisi politik yang selama beberapa bulan “memanas.”

Namun, pasca Pilkada, masyarakat harus secara aktif memburu janji kampanye pasangan terpilih. Pertanyaan yang mesti selalu diajukan adalah apakah performa mereka selama memimpin sesuai dengan janji kampanye atau tidak.

Mengawal dan mengkritisi program pembangunan menjadi tugas penting. Hal itu sekaligus menjadi bagian dari pengamalan demokrasi. Karena, proses demokrasi tidak cukup sampai pada aktivitas pencoblosan di bilik suara, tetapi lebih jauh adalah melihat serta mengevaluasi program atau kebijakan pembangunan.

Jika pasca Pilkada masyarakat pasif terhadap realitas pembangunan, tanpa mengkritisi penyelenggaraan pembangunan, maka tak ada jaminan kandidiat terpilih akan konsisten merealisasikan janji-janji kampanye. Sebab, tak ada kelompok masyarakat yang  kritis, yang mencermati kebijakan pembangunan dan melakukan kontrol terhadap pemerintah.

Apatisme juga secara tak langsung membuka ruang praktek penyimpangan seperti korupsi, kolusi dan nepotisme, serta kebijakan-kebijakan yang tak mengakomodir kebutuhan substansial rakyat.

Mengapa partisipasi pasca Pilkada itu penting? Pertama, Pilkada adalah ajang merebut kekuasaan. Di dalamnya melintas ragam kepentingan. Karena itu siapa yang bisa menjamin motivasi seorang kandidiat adalah kehendak untuk menyejahterakan rakyat? Apa yang ditampilkan selama kampanye ditujukan untuk mempengaruhi opini publik. Debat kandidiat sekalipun lebih berorientasi jangka pendek, sebagai sarana persuasif mempengaruhi psikologi publik. Debat kandidat lebih bertujuan untuk membentuk political image.