Mahasiswa Manggarai di Malang, Jawa Timur gelar diskusi

Fendi Jehamat dari X-Pio Malang berpendapat bahwa peran pendidikan dalam pembangunan daerah Manggarai akan semakin terasa secara nyata ketika peserta didik di kemudian hari sudah lulus dan siap bekerja. Pada tahap ini kemudian, lanjut Fendy, anak muda Manggarai terdidik akan berkontribusi dalam pembangunan daerah sesuai bidang dan disiplin ilmu yang dimiliki. Tetapi persoalan serius yang muncul kemudian adalah birokrasi yang “terkesan” menghalangi dan tidak memberikan ruang yang lebar dan adil bagi anak muda Manggarai terdidik untuk berkiprah.

“Di Manggarai masih kental yang namanya orang dalam, budaya nepotisme masih sangat kental, sehingga tidak salah banyak orang hebat dari Manggarai yang berkiprah di luar Manggarai”.

Di akhir diskusi, Pippo Sudarlin (NGOPI Malang) menggugat dengan sangat tegas komitmen sekolah-sekolah di Manggarai dalam membentuk dan mempertahankan kualitas pendidikan yang mengedepankan pembentukan karakter. Menurut Pippo, sekolah-sekolah di Manggarai yang menghasilkan lulusan yang siap berkompetisi di dalam dan luar Manggarai dengan kualitas yang mapan, adalah sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas asrama dan berbagai fasilitas penunjang lainnya.

“saya kira kita sepaham dengan pemikiran bahwa sekolah di Manggarai dengan didikan misi masih memberikan nilai lebih dalam membentuk karakter peserta didik Manggarai”, ujar Pippo.

Di penghujung diskusi, koordinator NGOPI, Yergo Arnaf, kembali menegaskan bahwa diskusi lintas komunitas yang dimotori Komunitas NGOPI itu, selain sebagai proses belajar dan pembentukan karakter mahasiswa Manggarai, juga digagas dengan tujuan menjalin silahturahmi dan komunikasi dengan komunitas-komunitas Mahasiswa Manggarai yang mempunyai idealisme yang sama dalam membangun daerah.

Yergo Arnaf berharap diskusi seperti ini terus dihidupi dan dilaksanakan secara rutin. Dengan diskusi yang demikian segala isu-isu pembangunan di daerah Manggarai Raya akan semakin mudah dikritis secara kolektif dan akan lebih memiliki nilai tambah dalam membentuk komitmen generasi muda Manggarai.

“Kalau bukan kita, siapa lagi?, kalau bukan sekarang, kapan lagi?”, ungkap Yergo Arnaf. (Laporan Hilla Antur/Floresa)