Ilustrasi

Karya: Er El Em

Mungkin, ini yang disebut sebagai kebetulan. Kebetulan yang bermuara pada judul cerita ini.

Siang di hari Minggu itu, saya sedang didera rasa lapar yang purna. Seperti yang sudah-sudah, apabila saat serupa itu bertamu, yang terlintas di benak saya hanyalah Mama Ina.

Yah, di meja makan rumah Mama Ina, elegi lambung saya pasti akan lunas terobati. Dan siang itu, dengan segera saya melaju menuju rumahnya. Waktu hendak membuka tudung saji, saya terkejut. Bukan nasi dan lauk tentu juga lombok yang saya jumpai. Tapi, sesuatu yang tak pernah terpikirkan atau sekadar jalan-jalan dalam benak saya.

Itu rupanya sebuah majalah. Majalah Pendidikan Horizon. Entah dari mana datangnya dan entah sedang apa di balik tudung saji itu, saya tak paham.

Mama Ina sedang menanak nasi di dapur, si kecil Deny asyik bermain-main dengan mobil-mobilan baru pemberian Randy, kakak sulungnya. Sembari menanti semuanya tersaji, saya membuka halaman demi halaman majalah itu.

Horizon baru pertama kali saya lihat siang itu. Ketika tiba pada halaman-halaman terakhir, saya makin tertarik. Rupanya, disediakan juga ruang bagi karya-karya sastra.

Dan, kau tahu, siang itu saya makan dengan lahapnya, bukan lagi karena lapar, tapi lantaran ada ruang sastra dalam majalah itu. Sebelum pulang, saya mencatat alamat email majalah itu dalam handphone saya, lalu keluar rumah dengan riang.

Segala hal yang saya jumpai dalam perjalanan pulang seolah menjelma jadi puisi. Yah, mungkin saya sudah terhipnotis oleh Horizon. Sebuah kebetulan…!

***

Kira-kira, sebulan sudah saya berhenti membuka Facebook. Segelas kopi, beberapa nomor lagu dangdut, dan sepotong puisi lama saya, seolah merayu untuk melengkapi kenikmatan senja Minggu itu dengan kembali membuka Facebook.

Senja itu, langit sedang merah-merahnya, sedap nian dilahap mata. Tampilan Facebook ganti mengisi layar laptop saya. 7 permintaan pertemanan, 4 inbox, dan 39 pemberitahuan. Saya membuka permintaan pertemanan, sekadar mengecek, lalu pindah ke inbox, membalas isinya, dan terakhir membuka pemberitahuan.

Saya hampir, bahkan benar-benar lupa, sampai 2 dari 39 pemberitahuan itu kembali menyadarkan saya. Saya mengabaikan ke-37 pemberitahuan lainnya dan langsung membuka ke-2 pemberitahuan yang menyita atensi saya itu. ‘Anda ditambahkan ke dalam sebuah grup’ dan ‘nama Anda disebut dalam tautan yang dibagikan dalam grup’.

 Yah…saya sekejap kembali sadar. Majalah itu, yah, kini saya ditambahkan dalam Grup Pendidikan Horizon. Lantas, apa tautan yang dibagikan itu sampai-sampai nama saya mesti disebut? Saya terperangah. Ternyata, sejudul puisi saya, ‘Sepenggal Canggung yang Bermazmur’ telah terbit edisi Mei kemarin, dalam Horizon.

Melalui puisi sederhana itu, saya menyatakan sikap ‘Tolak Human Trafficking, sembari menyayangkan begitu mudahnya saudari-saudara kita termakan rayuan para monster berwajah manusia’. Saya senyum-senyum sendiri. Merahnya cakrawala senja itu perlahan bergeser ke kamar saya, cahyanya terpendar hingga ke wajah, ke mata.

Sungguh, senja yang lain dari senja-senja sebelumnya. Saya membaca tautan itu, dan mengakhirnya dengan, ‘Terima kasih PemRed. Awalnya saya berpikir puisi ini tidak layak terbit, tapi toh dihargai juga. Semoga berguna bagi khalayak dan Horizon makin mampu membawa perubahan’. Saya mengomentari tautan itu, lalu pindah mengurus inbox-inbox dari para sahabat yang mengalir tiada henti-hentinya.

***

“Abang, alamatnya di mana?”

“Di samping Hotel Cendana, ada lorong, maju terus, sebelum Musolah, belok kiri, setelah itu kalian akan menemukan papan nama, lalu belok kanan, dan saya menanti kalian di gerbang..!” Abang Gustavo membalas SMS saya. Bersama Vanko, saya menuju ke sana. “Oh…ternyata di sini”, tukas Vanko sambil mematikan supra-nya. Abang Gustavo menyambut kami, kami bersalam-salaman.

Sampai di dalam, wajah-wajah baru menebar senyum hangat pada kami. Ada Kaka Eddy, Tata Manuel, Kraeng Hendro, Mas Jero, Bro Vian, dan sesosok perempuan berjilbab, Ibu Sumiaty. Kaka Eddy yang teduh, Tata Manuel yang kocak, Mas Jero dengan kepolosannya, Bro Vian yang hanya angguk-angguk, serta Kraeng Hendro yang terbahak di akhir setiap kisah, menjadikan kami begitu akrab, padahal baru bertemu malam itu, malam Minggu itu.

Abang Gustavo yang sedari tadi serius membicarakan prospek bersama Ibu Sumiaty akhirnya bergabung, setelah Ibu Sumiaty pamit pulang. Tak lama berselang, Riky merapat, membawa serta soto kambing yang katanya, hasil olahannya sendiri. Kebetulan, Vanko, Riky, dan saya sedang studi jurnalistik di kampus yang sama, berlibur di tempat yang sama pula.

Genaplah malam Minggu itu, apalagi setelah beberapa botol bir kami sudahi isinya. Di hadapan meja putih itu, kami bertutur soal penyesalan di masa lalu, bagaimana berbagi kecakapan, tentang gagasan-gagasan yang kini menjelma aksi, seputar dalam rupa macam mana kontribusi itu menyata, juga trik membangun relasi, kelihaian membaca peluang, sampai pada mantan kekasih yang sok cantik dan rencana pernikahan yang dibumbui macam-macam khayalan.

Malam itu, saya begitu diliputi bahagia. Setidak-tidaknya, saya menghabiskan malam bersama orang-orang yang tidak membanggakan diri hebat, melainkan sekelompok kaum muda yang mencintai tanah air secara lebih sungguh, melalui pentingnya pendidikan.

Yah, saya tak akan melupakan malam itu, malam terakhir saya berada di Kupang, malam Minggu dan beberapa botol bir di Kantor Redaksi Majalah Pendidikan Horizon, Jl. Hati Mulia VI, No. 1, Kel/Kec. Oebobo, Kupang, NTT. Semuanya berawal dari kebetulan. Majalah di balik tudung saji, alamat e-mail, sejudul puisi, nomor handphone Abang Gustavo- Pemimpin Redaksi Horizon, dan bir di malam Minggu. Kebetulan yang bermuara pada judul kisah kecil ini.

***

Malam itu, Kantor Redaksi akan kedatangan tamu. Maaf, bukan tamu, tepatnya anak dari seorang penggagas. “Avila, mari masuk adik. Bagaimana perjalananmu dari München?” Saya menyambut Avila dengan hangat. Kedua editor, Vanko dan Riky keluar dari ruangan mereka. “Perjalan saya baik-baik Om. Jakarta sudah agak mendingan yah Om? Macetnya tadi agak berkurang.”  Avila menjawab, cantik betul Enu Ruteng ini, secantik ibunya. Dari München, Avila, putri sulung Abang Gustavo, Pemred pertama Horizon, menjadi kontributor tetap.

Malam itu, malam Minggu itu, keluarga besar Horizon kembali berkumpul. Saya mengisahkan kembali perayaan kami malam itu di Oebobo, 23 tahun silam. Sambil melitanikan nama-nama mereka, kami merayakan bir dan perjumpaan, sekaligus melantunkan syukur atas alamat Redaksi yang baru ini; Jl. Horizon Luas, No. 23, Jakarta Selatan, 12820.

Karena sudah bertaraf nasional dengan korespondensi di beberapa negara, tentu saja, alamat e-mail-nya juga harus ditambah. Dan tentu, ini bukan lagi kebetulan belaka.***


Er El Em: nama pena dari Reinard L. Meo, kolektor topi yang juga jatuh cinta pada fotografi.  Mahasiswa aktif program Filsafat Keilahian pada STFK Ledalero, Maumere 86152, Flores, NTT ini bergiat dalam Kelompok Teater Aletheia Ledalero, ASAL (Arung Sastra Ledalero), dan Komunitas #KAHE (Sastra Nian Tana). Tinggal di [email protected].