Oleh: Kelompok Diskusi Retorika

Membicarakan politik dengan Gereja tentunya harus juga membicarakan kaum mudanya karena orang muda adalah masa depan Gereja. Mereka adalah agents of change, individu dan komunitas yang bisa membawa perubahan bagi kehidupan masyarakat. Namun, kekuatan mereka untuk melakukan perubahan kadang-kadang justru diabaikan dan diremehkan.

Di masa lalu, orang muda Katolik telah banyak membuktikan diri mereka sebagai agen perubahan. Perubahan yang memberi warna dalam pergerakan nasional Indonesia.

Sejarah Indonesia mencatat nama-nama pemuda Katolik seperti I.J. Kasimo, Mgr. Soegijopranoto, JB. Sumarlin, Cosmas Batubara, Harry Tjan Silalahi, Wanandi bersaudara sebagai tokoh-tokoh Katolik yang berperan dalam sejarah politik Indonesia.

Hal ini sesuai dengan yang diharapkan Pastor van Lith ketika mendirikan HIK (Sekolah Guru Katolik) di Muntilan untuk mendidik orang-orang muda sebagai guru bagi bangsanya di tahun 1990.

Lalu bagaimana dengan kiprah orang muda Katolik di masa sekarang?

Sekitar akhir November tahun lalu, para relawan pendidikan politik Orang Muda Katolik (OMK) dan delegasi dari 25 keuskupan se-Indonesia bertemu di Klender, Jakarta.

Mereka difasilitasi oleh Komisi Kepemudaan KWI untuk melaksanakan amanat Gereja Katolik Indonesia, yaitu mempersiapkan OMK keuskupan-keuskupan demi tugas perutusan mereka di tengah masyarakat.